The day before wedding
Senyum Fiona tak luntur sejak beberapa saat lalu menerima kiriman makanan dari Rasyid. Jika dia sedang ke toko—tidak di rumah saja, Rasyid sering mengajaknya makan siang bersama atau mengirimkan makanan. Jika hanya di rumah saja, Fiona memasak saja. Jarang menerima kiriman dari Rasyid, kecuali dia sedang malas.
Ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Fiona terlihat jelas oleh Anin yang baru saja tiba di toko perempuan itu, beriringan dengan delivery makanan dari Rasyid. Sudah lama sekali Anin tak melihat senyuman menghiasi wajah cantiknya Fiona. Namun, belakangan ini cukup sering dia temukan. Mereka berdua sama-sama sakit karena pernikahan mereka, akan tetapi Fiona ini lebih tertutup dan lebih banyak memendam. Tidak sepertinya yang mengungkapkan kesedihan kepada siapa saja, bahkan sampai sempat heboh di media sosial. Anin tak mau hancur sendirian, dan dia viralkan kelakuan mantan suaminya itu. Sama-sama hancur sekalian, rumah tangga mereka dan juga image lelaki itu serta si pelakor. Tak memviralkan satu pihak pelakor saja, karena sang lelaki juga salah.
Fiona menoleh ketika menyadari sedang diperhatikan oleh Anin.
"Kenapa lihatin gue kayak gitu?" tanyanya dengan raut wajah yang masih berseri-seri.
Anin menggeleng. "Gue ikut happy lihat lo belakangan ini, Fi. Happy-nya elo itu kayak nular. Udah jatuh cinta sama calon suami?"
Fiona terkekeh kecil. Dia juga tak mengerti bagaimana perasaannya terhadap lelaki yang sudah melamarnya itu. Yang Fiona rasakan, dia nyaman dan senang atas perlakuan lelaki itu. Sekitar setahunan membentangkan jarak usai perceraian, dia akhirnya mencoba untuk menerima kehadiran lelaki itu. Mereka menjalin hubungan—mengalir apa adanya, namun dalam perjalanan itu sudah jelas ke mana arah hubungan mereka. Rasyid, lelaki itu terang-terangan mengungkapkan tujuannya bukan sekedar dekat biasa saja, melainkan untuk menikah. Fiona juga sebenarnya, dia tak ingin pacaran-pacaran setelah mengalami kegagalan pada rumah tangganya.
Maka, ketika 2 minggu lalu Rasyid melamarnya, Fiona langsung setuju saja. Setelah sebelumnya, dia meminta pendapat kepada mamanya dan Anin, bagaimana jika suatu hari Rasyid melamarnya. Tak Fiona sangka sebelumnya jika lelaki itu cepat melamarnya. Takut Fiona diambil orang lain katanya. Ada-ada saja, yang Fiona respon dengan tawa kecil waktu itu. Fiona yang susah ditaklukkan begitu, bagaimana bisa dengan mudah beralih hati?
Fiona sudah berpikir panjang tentunya sebelum memutuskan bersama Rasyid. Dia tak buta, bisa melihat bagaimana perjuangan lelaki itu untuk mendapatkan. Ketulusan lelaki itu terlihat jelas, tanpa kesan dibuat-buat. Banyak hal yang dilakukan lelaki itu untuknya, dan telah menyukainya dalam waktu lama, bahkan sebelum Fahri. Lalu, yang paling penting adalah keluarganya lelaki itu. Mengalami hal buruk dari orang tua pasangan sebelumnya, tentu ada rasa trauma bagi Fiona. Hanya saja, perlahan dia mulai bisa menerima. Tak semua orang tua berpikiran sama. Orang tuanya Rasyid adalah tipe orang tua yang berpikiran terbuka.
"Malah senyum-senyum." Anin kembali bersuara. "Udah cinta sih, kata gue. Ya iya lah, gue juga kalau dapat spek modelan Kak Rasyid begitu, bakalan kecintaan."
Fiona tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya dengan senyuman di wajahnya. Dia mengambil foto makanan yang dikirim oleh Rasyid tersebut, lalu mengirimkan kepada lelaki itu.
"Yang penting nyaman ya, Fi? Semisal belum juga, kan bisa timbul seiring berjalannya waktu. Kalian akan menikah dan tinggal bersama setiap harinya, yakin bakalan jadi jatuh cinta."
Nyaman? Fiona akui, dia sangat nyaman dan tenang ketika bersama lelaki itu. Rasa yang pernah dia tampik, karena takut jatuh sendirian dan berujung sakit hati.
Fiona menoleh ketika layar ponselnya menyala, menunjukkan nama Rasyid di sana. Lelaki itu tidak membalas pesannya, malah menelepon.
"Wait, Nin."
Fiona tersenyum, menyentuh tanda hijau pada layar ponselnya. Langsung menyapa Rasyid.
"Udah mau makan kamu?"
"Iya, Kak. Tapi enggak apa-apa, ngobrol aja. Kamu udah makan belum?"
"Belum, baru pesan. Aku di resto samping kantor."
Fiona manggut-manggut. "Pulang jam berapa nanti?"
"Jam 3'an aku keluar, mau ketemu investorku ngasih undangan. Mau anterin langsung." Undangan pernikahan mereka baru jadi kemarin. Rasyid akan mengantarkan langsung kepada beberapa orang tertentu saja, tak lebih dari lima orang. Selebihnya, akan dia minta sopir di kantornya mengantar ke mana saja. "Kamu mau ikut nggak? Apa lagi sibuk di toko?"
"Nggak terlalu. Emangnya aku boleh ikut?"
"Boleh dong! Sekalian aku kenalin calon istriku. Eh, tapi, kamu kenal kayaknya sama investorku ini."
"Kenal dari mana coba sama investor begitu? Aku kan cuma sibuk di toko kue aja, Kak."
"Investorku ini, mantan bosnya Mas Fahri. Kali kamu kenal, soalnya waktu itu dia beberapa kali ikut sama Pak Pram." Rasyid tak bermaksud membawa-bawa nama mantan suaminya Fiona, hanya ingin memastikan apa kah Fiona nyaman jika ikut bersamanya. Makanya, dia memberitahu apa kah Fiona kenal atau tidak.
Rasyid mau pun Fiona tak pernah membahas Fahri sebelumnya, akan tetapi mereka pernah tak sengaja bertemu di resto. Rasyid dengan santainya menyapa lelaki itu. Dan ketika Fahri bertanya, dengan percaya dirinya Rasyid menjawab "minta do'anya aja untuk saya dan Fiona." Sedangkan saat itu Fiona hanya diam saja, baru bersuara setelah Fahri pergi. Fiona tak berucap apa pun, seolah tak ingin tahu. Rasyid pun tak ingin membahas, hanya sekedar bilang jika kenal dengan Fahri dan beberapa kali bertemu untuk urusan kerjaan. Fiona hanya manggut-manggut saja, terlihat tidak tertarik membahasnya.
Fiona mengernyit. "Pak Pram, bukan?" Fiona tentu saja ingat, karena kenal dengan bos dari mantan suaminya itu. Pernah beberapa kali bertemu di acara kantor dan saat anniversary Pak Pram.
"Iya, betul."
"Ya, nggak apa-apa. Aku mau ikut." Fiona berucap yakin. Merasa tak harus menyembunyikan apa pun, toh nanti semua orang juga tahu dia menikah dengan Rasyid. "Boleh nggak?"
"Boleh banget. Nanti aku jemput, biar mobil kamu taruh di toko aja."
"Oke."
***
Usai mengantarkan undangan kepada mantan bosnya Fahri yang merupakan rekan bisnisnya Rasyid itu, agenda selanjutnya Fiona dan Rasyid adalah ke apartemen Fiona untuk makan malam bersama. Sebelumnya, Fiona mengambil mobil dulu di tokonya dan beriringan dengan Rasyid menuju apartemen.
Tadi respon Pak Pram tampak terkejut begitu melihat Rasyid dengan Fiona. Namun, lelaki paruh baya itu ikut senang. Dia sedikit mengenal Fiona sebelumnya, jadi dia merasa perempuan itu pantas saja bersanding dengan seorang Rasyid.
"Kamu yakin mau masak? Nggak delivery aja?" tanya Rasyid saat baru saja memasuki apartemen sang kekasih.
Fiona mengangguk yakin. "Iya. Pengen masak aja, sebelum kamu berangkat ke Medan. Nanti bakalan lama kamu baru ngerasain masakan aku lagi." Rasyid akan berangkat ke Medan 3 hari lagi dan akan seminggu di sana. Fiona ingin sering bertemu lama dengan lelaki itu sebelum dia pergi. Karena nanti setelah kembali dari Medan, belum tentu bisa bertemu karena berjarak seminggu saja dengan hari pernikahan mereka.
Rasyid terkekeh. "Nggak apa-apa padahal. Kan nanti udah nikah, bisa makan masakan kamu kapan pun aku mau."
Fiona menoleh sekilas sebelum memasuki kamarnya. "Beda ya, nanti itu aku merasa wajib masakin mau kamu meminta atau enggak. Kalau sekarang, akunya yang pengen."
"Iya... iya." Rasyid terharu, Fiona antusias memasak untuknya. Tangannya terulur mengusap kepala calon istrinya itu. "Nggak usah yang susah dan lama tapinya, biar kamu enggak capek."
Fiona mengangguk. "Iya." Perempuan itu menuju kamarnya, dan sesaat kemudian keluar telah berganti pakaian.
Rasyid pun langsung berdiri mengikuti perempuan itu menuju ke arah pantry. "Aku bantuin, ya?"
"Emangnya bisa?" tanya Fiona sembari membuka kulkas, mencari bahan masakan.
"Bisa dong! Tinggal sendirian di luar negeri, aku mau nggak mau masak sendiri kalau pengen makanan Indo dan biar hemat juga." Walau anak orang kaya, tak lantas Rasyid menghamburkan uang sesuka hatinya ketika tinggal di luar negeri. "So, apa yang bisa bantu aku?"
"Bantu potong-potong aja kayaknya. Aku mau bikin capcay, ayam fillet ditepungin dan sambal. Bisa kupas dan potong-potong wortel?"
"Bisa."
Fiona telah mengeluarkan semua bahan masakan. Ayam fillet, dia rendam di dalam baskom berisi air agar cepat mencair.
"Sebentar." Rasyid berdiri di belakang Fiona dan meraih rambut perempuan itu yang sedang memisahkan bahan-bahan untuk capcay. Hembusan napasnya lelaki itu menerpa tengkuknya Fiona. "Aku kuncirin ini dulu," ujarnya setengah berbisik.
Rasyid sekarang memegang rambutnya Fiona dengan satu tangannya, sementara tangan satunya lagi mengambil kunciran rambut Fiona dari pergelangan tangan perempuan itu bagian kiri.
Darahnya Fiona berdesir. Bukan kali pertama Rasyid memperlakukannya begitu manis, tetap saja Fiona rasanya meleleh. Sejak dia merasa telah mengikhlaskan segala yang telah terjadi dan membuka hati untuk lelaki itu, Fiona tak menampik jika wajahnya sering memanas. Respon yang refleks terhadap perlakuan lelaki itu. Pun ketika Rasyid melamarnya saat mereka dinner.
Untung saja Rasyid segera beranjak ke sebelahnya setelah menguncirkan rambutnya. Fiona mulai menetralisir detak jantungnya.
Kedua orang itu saling bekerja sama di dapur. Ada sekitar satu setengah jam lebih mereka berkutat di sana. Ayam fillet tepung, sambal dan capcap sudah terhidang di atas meja bar. Nasi pun sudah matang.
"Aku mau mandi dulu sebelum makan, Kak. Kamu juga nggak? Ada baju kamu di sini, yang waktu itu selesai bantu-bantu aku. Aku udah cuciin, lupa ngasih ke kamu."
"Boleh. Mau mandi juga aku."
Fiona pun menuju kamarnya mengambilkan baju ganti serta handuk baru untuk lelaki itu. Dia akan mandi di kamar mandi di dalam kamarnya, sedangkan Rasyid akan mandi di kamar mandi dekat pantry.
Lima belas menit kemudian, keduanya telah selesai mandi dan makan. Fiona mengambilkan nasi dan lauk ke piring untuk Rasyid.
"Enak nggak?" tanya Fiona saat Rasyid mulai duluan menyuap nasinya. Fiona secara garis besar yang memasak, Rasyid bantu memotong-motong dan menggoreng ketika Fiona meminta. Setelahnya, lelaki itu mencuci peralatan memasak.
Rasyid mengangguk. "Calon istri idaman emang kamu tuh! Pintar masak, bikin kue, cantik, lembut, baik hati, enggak ada kekurangan kayaknya. Beruntung banget aku bisa dapetin kamu."
"Minusnya janda, Kak. Rugi sebenarnya kamu menikahi aku," sahut Fiona diiringi kekehan kecil. "Kamu ganteng, pintar, lulusan luar negeri, mapan, enggak kurang apa pun. Yang seharusnya bisa bersama seseorang lain yang belum pernah menikah juga. Yang setara sama kamu."
"Rugi dari mananya? Semua kriteria yang aku cari, ada di diri kamu. Jadi, aku merasa nggak perlu cari perempuan lain."
Fiona tersenyum. Dia mulai menyuap nasi.
"Aku bersyukur, kamu akhirnya mau menerima aku. Kalau boleh jujur, aku sebenarnya senang kamu bisa pisah sama dia. Maaf, bukannya do'ain yang jelek, tapi dengan itu aku merasa ada kesempatan buat mengejar kamu. Sekali lagi, setelah dulu pernah mundur saat kuliah dan saat tahu kamu telah menikah."
Fiona mengusap sudut matanya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Kok nangis?" Jemari tangannya Rasyid dengan cepat terulur menyeka air matanya Fiona dengan tangannya yang tidak digunakan untuk makan.
"Kata orang, kadang kita dipertemukan dengan orang yang salah dulu sebelum mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus. Aku tahu, kamu sebaik itu."
Rasyid mengatupkan bibirnya. Tangannya sekarang mengusap-usap punggung tangannya Fiona di atas meja. "Aku pernah ngerasa sakit hati saat tahu kamu disia-siakan. Aku marah. Aku nggak terima orang yang aku sukai disakitin. Saat kamu udah benar-benar terlepas, aku janji sama diriku sendiri akan memperlakukan kamu sebaik mungkin—nggak boleh ada air mata yang menetes kecuali air mata terharu, entah pada akhirnya jodoh atau enggak. Aku cuma pengen lihat kamu tersenyum bahagia, nggak ada lagi wajah yang sedih itu."
Selesai makan, mereka nonton TV dan duduk di sofa. Hanya Fiona yang duduk di atas sofa, sementara Rasyid di karpet. Lelaki itu memijit-mijit tangan dan kakinya Fiona. Barusan Fiona mengeluh capek padanya. Rasyid senang menyadari Fiona tampak manja padanya. Es yang selama ini Rasyid hadapi mulai mencair perlahan dari hari ke hari.
“Masih pegel nggak?” Rasyid tak marah ketika Fiona mengeluh beberapa saat lalu. Tak menyalahkan perempuan itu yang telah memasak untuknya.
Fiona menggeleng. “Udah enakan, Kak. Kamu mau dipijitin juga?”
“Enggak usah. Enggak pegel aku.” Rasyid berpindah dari karpet dan duduk di sebelah Fiona. “Kepalanya mau sekalian aku pijit juga?”
“Boleh.” Fiona tersenyum malu-malu. “Belajar dari mana kamu?”
“Otodidak. Auto bisa aja kayaknya. Kalau buat kamu, apa pun itu aku harus bisa lakuin.”