Kenyataan Lain Tentang Arya

1075 Kata
Kiara kembali ke Jawa Timur dengan hati berkeping-keping, hingga sulit baginya mengumpulkan dan menyatukan lagi. Kereta menjadi saksi atas hujan air mata membanjiri wajah cantiknya. Sungguh, Kiara tidak mampu percaya akan apa diterima dari mertua juga suaminya, begitu dia sampai di Bandung tadi. Sakit, rasanya Kiara sudah tidak mampu lagi menanggungnya. Akan tetapi, perempuan yang kini memasuki rumahnya itu harus berusaha tegar, demi dua buah hati yang sekarang ditatapnya pilu. ‘Apa yang harus aku omongin ke mereka, Tuhan? Kenapa mereka juga harus nanggung semua ini? Mereka masih terlalu kecil untuk kehilangan kasih sayang ayahnya.’ Kiara berbincang dalam hati, air mata menetes tanpa mampu dikendalikan. Dia tidak berani mendekat ke ranjang tempat anak-anaknya mengarungi mimpi. Kiara meninggalkan kamar, dia berpindah ke ruang tamu dan duduk di lantai. Kedua lutut didekap oleh Kiara, menenggelamkan wajah demi membungkam isak tangis yang mungkin terdengar anak-anaknya. Punggung bersandar pada sofa cokelat muda, Kiara mengurai seluruh rasa pedih dalam hatinya lewat air mata. “Bunda.” Suara teguran lirih mengisi ruang tamu, Kiara tidak mendengarnya. Seorang gadis berusia tiga belas tahun berjalan mendekat, kemudian bersimpuh dan menyentuh pundak kanan Kiara. Itu adalah Dita, putri pertama Kiara dan Arya. Sontak sentuhan diberikan, menyadarkan perempuan yang sedari tadi tenggelam dalam kesedihan. Kiara seketika berpaling, menyembunyikan wajah sembab dari anak gadisnya. “Ka—kamu kok udah bangun, Sayang? Ini baru setengah dua, loh.” Kiara membuat suaranya terdengar biasa, tapi gagal karena Dita langsung memeluknya. Kiara yang terus mengusap wajah dengan menatap ke langit-langit ruangan guna menahan air mata terjatuh, langsung membeku kala Dita memeluk dari samping. “Aku tau semuanya kok, Bun. Gak perlu bohong lagi sekarang,” ucap Dita. Kiara tersentak, dia menoleh pada putrinya dan menurunkan kedua lutut tertekuk. “Maksud kamu apa, Sayang? Bunda gak kenapa-kenapa kok. Ini cuma karena bunda lagi nga—” “Ngantuk?” sela Dita melepaskan dekapan dan menatap ibunya. “Sampai kapan bunda alesan ngantuk? Aku tau kok kalau bunda nangis.” “Enggak. Siapa yang nangis, sih? Mau nangisin apaan coba? Bunda beneran ngantuk, makanya keluar air mata.” Kiara mengulas senyum, lalu berdiri. “Ayo, bunda temenin tidur lagi,” imbuhnya mengulurkan tangan untuk berjalan bersama ke kamar. Dita menarik dalam napas, membuang singkat nan cepat. “Ayah selingkuh, kan? Namanya Mutia.” Jantung Kiara seketika berhenti mendengar kata anaknya. Dita bertumpu telapak tangan kiri pada sofa, bangkit dari duduk di lantai. “Bunda pulang lebih cepet, gara-gara bunda tau selingkuhannya, kan?” “Di—Dita, kamu ngomong apa sih? Bunda pulang cepet, soalnya ayah ternyata lagi tugas di Kalimantan. Kan kamu tau, kalau bunda ke Bandung gak ngabarin ayah dulu, Sayang.” “Berhenti bohong, Bun. Aku sama adek udah tau semuanya dari lama. Dia emang selingkuh, dan dia ngaku sendiri kalau cinta sama Mutia. Ini bukan pertama kalinya, dia udah selingkuhin bunda dari lama.” Dita menghadang alasan diberikan oleh ibunya, mengurai apa yang diketahui dan telah disimpan rapat. Kiara terdiam tanpa kata, matanya berangsur melebar. “Adek pernah pinjem HP dia, ada foto cewek pakai tanktop hitam. Aku nanya, dia malah ngaku kalau itu orang yang dia cintai. Aku juga pernah denger dia telfon sama temennya, ngatain bunda bodoh gara-gara mau jadi badut selama sepuluh tahun dan gak tau kalau dia udah banyak gonta-ganti perempuan.” “Dita!” seru Kiara, mengisyaratkan agar putrinya diam. “Gak masalah kalau bunda marah, tapi aku gak bakalan diem lagi.” Dita berucap yakin. “Hari ini dia nikah sama Mutia, aku udah tau itu. Dia juga punya istri lain sebelum Mutia, Bunda. Selama ini, orang itu suka mabuk sama perempuan bayaran. Aku tau semuanya, karena aku liat HP nya dan denger pas dia ngobrol sama temennya.” Kiara seperti tertampar untuk kesekian kalinya, mendengar kisah dibagikan oleh gadis berambut panjang lurus sampai punggung di depannya. “Kenapa bunda gak pernah sadar sama semua itu? Dia kasar ke bunda, bahkan dia gak peduli pas bunda sakit dan harus pergi nyari obat sendiri. Dia suka ngebentak bunda cuma gara-gara masalah kecil, tapi kenapa bunda masih mau bertahan sama dia?” cerca Dita menitikkan air mata. Kiara tanpa sengaja meluruhkan lagi air mata, dia menarik putrinya dalam pelukan, berusaha menenangkan sang anak yang entah sudah berapa lama menanggung kecewa hingga dia memberanikan diri untuk bicara pagi ini. “Aku benci sama dia, Bunda. Aku gak mau ketemu sama dia lagi. Sampai dia jadi mayat, aku tetep gak mau liat dia. Aku jijik sama dia, Bunda. Aku malu punya ayah kayak gitu.” Kiara mengusap lembut punggung putrinya, mengecup ujung kepala berulang tanpa tahu harus mengatakan apa. Meski sangat ingin Kiara menahan agar Dita tidak mengurai kata kebencian, namun akhirnya Kiara hanya bisa membiarkan sang anak meluapkan luka yang sudah dipendam. “Dia sama keluarganya gak pernah baik sama kita, Bun. Mereka cuma baik pas ada orang aja,” pilu Dita. “Aku benci mereka semua, Bun. Aku gak mau ketemu sama mereka lagi. Aku malu kalau sampai temen-temenku tau soal ini.” “I—iya, Sayang. Iya,” jawab Kiara tanpa bersedia membungkam suara putrinya. Kiara berusaha menenangkan Dita tanpa berusaha menasihati, yang pasti akan menambah luka kecewa dalam hati putrinya. Meski, Kiara sendiri juga terkejut dengan apa didengar, dia berusaha tegar di hadapan Dita yang terus menyuarakan segala telah diketahui dari kelakuan ayahnya. Kiara tidak menyangka, bahwa kedua anaknya telah menyimpan begitu dalam luka dan merahasiakan bersama Tuhan. Terlalu banyak yang mereka rekam dalam diam, dan itu menjawab tanya Kiara atas mengapa anak-anaknya tidak pernah bisa dekat dengan sang ayah, bahkan terkesan acuh ketika dia berpamitan menyusul ke Bandung kemarin pagi. “Maafin aku karena gak ngomong semua ini, aku gak mau bunda sakit hati. Aku tau kalau bunda sering nangis diem-diem, bunda alesan ngantuk kalau udah ketahuan. Semua itu karena bunda juga udah gak sanggup, kan?” tutur Dita. “Aku mohon, jangan nangis lagi. Dia gak pantes dapat air mata kita, Bunda. Kita gak harus sakit hati gara-gara orang gak punya perasaan kayak dia.” “Mm,” singkat Kiara mengangguk. “Jangan minta aku buat anggap dia ayah lagi. Karena ayah bukan cuma sebatas darah, tapi juga nyangkut biaya dan ngedidik. Tapi, dia gak pernah ngasih semua itu ke aku sama adek.” Dita meminta sungguh-sungguh. “Mulai hari ini, kita gak perlu bahas orang itu dan aku juga gak mau denger apa-apa yang berhubungan sama dia.” Kiara tertegun akan ucapan putrinya, mata mereka saling bertemu dan Kiara sanggup membaca kehancuran dalam binar mata Dita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN