BMF - 12

872 Kata
DUA BELAS Ini adalah rumah kost ke tiga yang aku kunjungi bersama Kiyo. Yang di depan kantor Grab, udah penuh ternyata. Terus ada yang deket kampus Kiyo, itu Kiyo kurang sreg karena serumah sama Bu kostnya. Lalu yang ketiga ini, Kiyo juga gak sreg, karena kostnya serumah gitu, meski buat cowok semua, dengan rumah bu kostnya yang ada di depan rumah kost ini. Sebenernya bagus sih, cuma ya itu, katanya Kiyo, dia gak nyaman kalau serumah sama banyak orang. Mana asing semua. Kiyo maunya kost-an kayak kostku, yang rumah sendiri-sendiri. “Aduh!” seruku saat rasa ngilu yang luar biasa sakit menyerang kakiku. Aku bahkan sampai menarik lengan Kiyo untuk berpegangan. Dan cowok yang berjalan di sampingku ini, langsung berhenti. Menoleh padaku dengan raut khawatir. Kiyo buru-buru memegangi tubuhku agar aku tidak oleng dan jatuh. “Kenapa, La?” tanyanya khawatir. “Kakiku tiba-tiba linu banget,” keluhku. Aku menggigit bibir bawahku, demi mengurangi rasa ngilunya. Yaelah, ga nyambung, aku tau. Tapi ini beneran sakit. Kiyo masih memegangi tanganku, lalu dia beringsut berlutut. Meraih hpnya di saku, mengarahkan flashlight pada pergelangan kakiku. Dia menaikkan sedikit skinny jeansku yang menutupi mata kaki. “Ck,” decak Kiyo. Masih menatap kakiku. “Ini memar, La. Biru gini.” Baru dia mendongak. Menatapku khawatir. “Apanya yang biru?” “Kaki kamu ini, kayak memar. Pasti kecapean jalan, kan?” Kiyo kembali menurunkan skinny jeansku, menutupi mata kakiku. Ya emang capek. “Makanya sih, kalau dibilangin itu nurut.” “Lah kok ngomel sih,” protesku. Kiyo hanya membalas ucapanku dengan sorot tidak suka yang terpancar dari kedua mata sipitnya. Lalu dia menuntunku berjalan pelan memasuki mobil, membukakan pintu penumpang, membantuku untuk duduk. “Tunggu sini, aku mau deal kost dulu sama Bagas,” kata Kiyo, menunjuk Bagas yang masih ngobrol sama yang punya kost. Bagas bilang tadi mau pindah kost di sini. “Kan kamu gak suka sama kostnya.” “Lebih gak suka lagi kalau liat kamu kesakitan lama-lama.” Ahh.. ini pipiku langsung bersemu merah. Sumpah deh ya, udah sakit, masih aja dibikin meleleh. Kiyo menatapku dengan senyum tertahan. Lalu berucap, “Maaf ya, La. Tadi bentak kamu.” Kini senyum tertahan itu, bebas. Dia mengembangkan senyum itu. “Kamu sih tiba-tiba bikin panik. Udah dari awal dibikin kesel, malah bikin panik.” “Salahin aja terus,” gerutuku. “Maaf. Tunggu sini, ya? Bentar doang kok.” * * * Aku pernah merasa sangat kesal. Pas itu, aku pulang sekolah, kelas 2 SMK. Ayahku bilang pas jemput, mau langsung pulang karena aku udah capek karena latihan baris berbaris. Tapi sama Ayahku malah diajak mampir di rumah eyang. Sebenernya aku gak akan kesal, karena toh itu rumah eyangku. Yang bikin aku kesal, di rumah eyang itu, udah ada embah-embah tukang pijit. Dan Ayah bilang, aku harus dipijit sama embah itu. Ya Allah, embah itutuh musuh aku banget. Okey, aku akui mbahnya baik. Tapi aku gak suka dipijit. Kata Bunda, dari aku kecil, aku kalau dipijit mbah itu mesti nangis. Trus Bunda jadi sedih karena aku nangis. Dan aku benci sama orang-orang yang udah bikin aku nangis. Apalagi imbasnya, sampai bikin Bundaku sedih. Dan malam ini, aku merasakan sangat kesal seperti pas aku kelas 2 SMK. Kiyo, yang tadi bilang mau anter aku pulang, malah nyuruh Bagas mampir ke klinik. Buat meriksain kakiku. Iya ini klinik tempat aku dirawat dulu. Yang bikin kesel itu, masak Kiyo maksa aku supaya mau di opname. Ya Allah, kaki keju linu doang. Jadi deh aku sama Kiyo sedikit beda pendapat (baca: berantem) “La, kalau kamu di kost, aku gak bisa jaga kamu, La. Please, sehari doang deh,” bujuknya. Aku masih mencebik. Sebodo amat ya ini lagi di ruang dokter Dewhy. Dan sang dokter masih nangkring di kursinya. Kiyo menendang kakiku. Meski pelan, tapi sakitnya berasa banget. “Awwhh.” Aku mengaduh. Dan Kiyo langsung mengusap lututku. “Maaf La,” katanya, menyesal. “Semalem doang deh, besok pagi pulang.” “Itu sama dokter Dewhy udah ditulis resep juga, Kiyo. Aku bisa minum obatnya. Sembuh. Problem solved.” “Aku seratus persen gak yakin, kamu mau minum obatnya.” “Dih.” “La.” “Kiyo. Aku minum deh obatnya.” Kalau aku gak mager. Karena please aku paling gak suka obat. Kiyo menatapku tajam. “Aku cuma sakit di kaki doang, dibikin tiduran juga sembuh, ya kan, bu Dokter?” Aku menatap pada dokter Dewhy. Beliau tersenyum. Wah bisa diajak kerjasama ini kayaknya bu dokter. “Tapi kalau diinfus, akan lebih cepet sembuh, La. Kan obatnya bisa langsung masuk.” Lah, nih dokter gak bisa diajak kompromi. “Aku gak mau disuntik, Kiyo. Sakitnya karena disuntik pas aku muntah dulu, sampai sekarang masih berasa loh,” jujurku. Aku memang masih merasakan sakit itu. “Katanya kamu gak mau, lihat aku sakit.” “Makanya aku minta kamu dirawat. Susah banget sih dibilangin.” “Itu namanya punya pendirian kuat, Kiyo.” Itu suara dokter Dewhy. Luar biasa bijak, dok. Dalam hatiku, aku bersorak. “Gini deh, aku akan minum obat itu, sekarang. Terus aku akan minta Nadin sama Najwa buat nginep di kost. Gimana?” “Si ular keriting sama cewek yang nyervis hpku itu?” YA Allah. Itu temenku. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN