SEBELAS
“Aku udah pikir ini mateng-mateng, La.” Aku menghela napas. Ini, aku gak diputusin kan? Kok aku jadi takut diputusin sama Kiyo.
“Pikir apa?”
“Aku akan pindah kuliah di Surabaya, aku udah selesai urus surat kepindahan ke kampus baru. Maka dari itu, aku butuh kost-kost-an, La. Karena gak mungkin kan, tiga tahun ke depan aku nginep di hotel.”
“Kam.. Kamu pindah kuliah?”
“Iya, La.”
“Serius pindah kuliah?”
“Serius, Nala.”
Aku mengalihkan pandanganku, dari Kiyo, ke luar jendela. Pada lalu lintas Surabaya, yang tumben banget gak padat.
“Tapi.. kenapa?” tanyaku lagi, masih menatap luar jendela.
“Kamu tau, kenapa.” Aku menoleh pada Kiyo. Dia mengulurkan hpnya, di mana terpampang history chatku pada Kiyo kurang lebih dua minggu yang lalu.
Itu voice notes.
Kiyo memberikan headshetnya padaku.
Aku mendengarkan.
“Kok aku lebih salut sama Nala dan Kiyo daripada kamu dan Ibram itu sih, Din.” Itu suara Najwa.
“Apanya yang menarik dari LDR sih, Wa.” Nadin menyahuti.
“Ldrnya sih, biasa aja mungkin. Tapi Kiyo seenggaknya berani langsung meminta Nala ke ortunya Nala. Juga Ldr itu, ngurangin dosa, Din. Apasih, yang akan dilakukan orang Ldr? Ciuman gak bisa tiap hari, gandengan, pelukan? Mana bisa? Bisanya via online doang. Dan untuk cewek kayak Nala, cih.. berani taruhan aku, Nala mana pernah ngelakuin kayak apa yang kamu lakuin sama Ibram selama pacaran? Ya gak, La?”
“Iya, Ldr emang ngurangin dosa, Wa. Dosa berzina memang gak banyak. Yang banyak itu, dosa karena berburuk sangka. Karena suudzon!” Dan itu suaraku.
“Suudzon kenapa?” tanya Najwa dan Nadin.
“Kiyo tinggal di Bali, kalau kalian lupa. Di Bali, ceweknya cantik-cantik. Belum bulenya. Tiap hari itu aku mesti suudzoooon mulu. Meski kayaknya Kiyo setia, tapi kan tetep ya. Udah terlanjur cinta, udah terlanjur percaya. Jadi buruk sangkaaa mulu,” kilahku. Lalu aku buru-buru melepas headshet. Mengembalikan hp Kiyo.
Masyaa Allah, itu kenapa percakapan bodoh di McD bisa kekirim sama Kiyo, dan aku gak menyadari?
“Udah ngerti kan sekarang?” tanya Kiyo, menerima kembali hpnya. “Aku gak mau, kamu terus-terusan suudzon, meski selama hampir setahun ini, kamu gak pernah nyinggung soal ini. Tapi serius, aku gak mau, kamu mendem prasangka buruk kamu, ke aku, La. Jad--”
“Bentar, Mami tau kamu pindah?” Kiyo mengangguk. “Diijinin?” Dia mengangguk lagi.
“Kok kayaknya, kamu gak suka ya, aku pindah?” ucap Kiyo dengan nada kecewa. “Aku tuh cuma pingin jagain kamu, La. Aku cuma pingin ada di saat kamu lagi sakit. Atau sekedar mengurangi prasangka buruk kamu itu. Tapi kayaknya kam--”
“Lah, aku mana bilang gitu? Aku suka-lah,” selaku. “Tapi kan, gini.. Kamu di Bali ada temen, banyak. Kamu rela gitu, ninggalin mereka, ninggalin rasa nyaman kamu saat sama mereka, demi aku? Agar aku gak suudzon lagi sama kamu. Demi jagain aku? Terus gimana sama temen-temen kamu?”
“Nala, temen aku di Bali, udah pada punya pacar, kalaupun belum, mereka masih punya orang tua, yang bisa jagain mereka. Dan ya, aku rela ninggalin mereka, agar kamu terus berpikiran positif. Aku gak mau dong, sebelum kita melangkah ke jenjang yang paling serius, kamu udah nyimpen prasangka buruk sama aku.”
“Aku cuma takut, Kiyo. Aku takut, aku dengan segala yang ada padaku, gak cukup buat kamu,” lirihku. Menatap Kiyo sendu. Kiyo mengulas senyum.
“Remember when I said, I finally met an angel in person after I met you?” Aku mengangguk. “I don’t deserve an angel, La. But that angel choose me by herself. It’s just me, Akyo dengan segala kekurangan. Dan kamu milih menerima aku. Apa lagi yang bisa aku lakuin selain bersyukur setiap hari, karena kamu masih di sini.” Kiyo menunjuk dadanya. “Kamu masih di hati ini. Dan kamu masih menyimpan namaku di hati kamu. Jadi buat apa aku merasa gak cukup karena udah memiliki kamu?”
gila INI PIP----
“Kok aku yang baper ya, Yo?” Suara Bagas di balik kursi kemudi, membuat semburat merah di pipiku langsung berpesta. Ih, kenapa bisa lupa ada Bagas di dalam mobil?
Aku enggan untuk menyahuti ucapan Kiyo yang melelehkan, bukan hanya hatiku, tapi juga segala syaraf di dalam tubuhku. Lagian, dari jutaan kata yang aku pelajari selama sekolah, satupun, gak ada yang berhasil aku ucapkan. Saking senengnya.
“Dalam hubungan kita, kita udah punya semuanya, aku percaya sama kamu, kamu percaya sama aku, kedua orang tua kita udah setuju, hanya waktu bertemu aja, yang bikin prasangka buruk itu menyelinap. Maka dari itu, aku mau kasih kamu waktu itu. Agar kita bisa lebih mengenal jauh, secara langsung.”
Aku hanya bisa mengangguk. Dan memberi senyuman excited ini di wajahku. Yang aku gak tau lagi deh, rupa wajahku kayak apa.
“Tapi aku ada satu permintaan.”
“Apadaahhh?” Itu pekikkan Bagas.
“Diem kali, Gas. Aku gak ngomong sama situ,” sahut Kiyo kesal.
“Siapa yang nyahut kamu, Yo? Ituloh aku baca pengumuman, jalan menuju kost-an ditutup karena ada kegiatan warga. Jadi kita harus puter balik.”
Oh..
Aku dan Kiyo mengangguk. Membaca spanduk besar yang terikat pada pohon besar di bahu jalan.
“La,” panggil Kiyo.
“Iya??”
“Aku ada satu permintaan.”
“Apa?’
“Aku, akan kuliah di Surabaya, selama 3 tahun ke depan, nemenin kamu di sini. Dan saat kita lulus, aku mau langsung nikahin kamu. Lalu kamu ikut aku ke Bali. Dan nemenin aku, sepanjang sisa umurku, setuju?”
Dua menit yang lalu, hatiku udah meleleh karena ucapan Kiyo. Ini belum juga padet, udah meleleh lagi aja nih hati.
“Aku tau sih, ini bukan permintaan kamu, agar aku pindah ke Surabaya, tap--”
“Stop-stop-stop-stop,” pekikku pelan, memotong ucapan Kiyo. Lalu sedetik kemudian aku nyaris terjungkal karena Bagas, si sopir grab, main ngerem mobil.
“Kenapa berhenti, Gas?” tanya Kiyo.
“Lah, calon istri kamu bilang stop.”
“Kamu ngapain bilang stop?” tanya Kiyo padaku.
“Aku bilang stop ke kamu, kok. Aku perlu mencerna maksud penjelasan kamu, Kiyo.” Karena memang ya, aku masih bingung mencerna apa maksud Kiyo.
“Jalan lagi, Gas. Ke kost depan kantor grab, yang kamu bilang tadi,” suruh Kiyo. Bagas hanya mengangguk. Mulai menjalankan mobil. Dan Kiyo mulai menatapku lagi. “Gimana?”
“Tapi Mami Vira gak pa-pa beneran?”
“Ya gak pa-pa, La.”
“Yaudah..” jawabku. Dibilang lebay, silahkan. Karena memang dikepalaku, cuma ada kata itu. Lainnya pada ilang entah ke mana. Ikut melebur bersama hatiku yang masih meleleh kali ya?
“Yaudah apa?” Kiyo menaikkan dagunya.
“Ya aku setuju sama rencana kamu.”
“Tentang?”
“Ih Kiyo. Jangan bikin malu aku, ah!!” Aku merengut. Membuang muka kearah depan. Lalu Kiyo menempelkan telapak tangannya pada bibirku.
“Dibilangin bibirnya jangan gitu, nanti aku khilaf, La,” bisik Kiyo. Melirik sekilas pada Bagas yang masih fokus menyetir.
“Apa sih!” bentakku pelan. Okey, aku tau apa maksudnya dia khilaf. Aku udah gede. Aku nonton drama seri turki, west, beberapa drama korea, jadi aku tahu apa maksud Kiyo. Tapi bagaimana Kiyo bisa menahan selama ini, aku selalu salut.
Gimana dia begitu menjagaku, itu yang bikin aku salut. Terlebih sama Mami Vira dan Om Bayu, selaku kedua orang tua Kiyo. Mereka ngedidik Kiyo pakai cara apa?
“Jadi, kamu setuju apa?” Suara Kiyo mulai terdengar.
“Malu ah, ada Bagas.”
“Justru itu, makanya kehadiran Bagas ini, aku jadiin saksi.”
Aku menghela napas. “Iya aku setuju, kamu nikahin aku setelah kita lulus. Terus aku tinggal di Bali,” ucapku mantap.
Dan senyum di wajah Kiyo semakin lebar. “Denger, Gas?”
“Denger bosku.”
"Dan satu lagi, La. Aku gak mau, kamu ikut karnaval atau sejenisnya lagi."
"Kenapa?" tanyaku tidak terima.
"Ya gak suka aku. Iya karnavalnya memperingati hari kemerdekaan, fine, tapi orang-orang yang ngefoto kamu, pas kamu jalan sambil dadah-dadah itu, yang bikin aku gak fine. Mereka punya foto kamu jadinya La. Dan aku gak terima."
Haaahhhh??
"La.." panggil Kiyo.
"Iya, maaf. Enggak lagi deh lain kali."
Kiyo mengulas senyum penuh kemenangan. "Bener deh, tadi kalau potograpernya gak pada motoin kamu, aku gak akan badmood, La."
Emang sih, tadi banyak yang foto-fotoin, apalagi pas udah finish. Mulai dari anak tk sampai ibu-ibu pakai gamis dan cadar, pada ngajakin poto.
*
*