SEPULUH
“Nih,” kataku, menyodorkan segelas air minum untuk Kiyo. Kiyo mendongak, menerimanya. Membenarkan duduknya yang tadi senderan sofa. Kiyo duduk tegak, meneguk air yang kuberikan.
Aku mengambil duduk di samping Kiyo, menyilakan kakiku. Menutupnya dengan bantal sofa.
“Makasih, La,” kata Kiyo, memberikan kembali gelas padaku.
“Kamu lama tadi nunggu aku?”
“Lumayan. Abis aku lihat kamu masukin hp ke dompet. Terus dadah-dadah, tebar pesona ke banyak orang. Aku langsung minta anter Bagas ke kost kamu.”
Aku membulatkan mata. Gila? Itu dua jam yang lalu. Bocah ganteng anaknya Mami Vira, nempel di tembok kost aku, udah dari dua jam yang lalu?
Jahat kamu,La.
Aku mencebik. Menatap Kiyo dengan perasaan bersalah yang membuncah. Kiyo balas menatapku. Dengan sorot hangatnya, yang malah membuatku merinding.
“Ka..kamu udah makan?” tanyaku akhirnya.
“Udah. Tadi mampir beli makan sama Bagas.”
Aku belum makan Kiyo.
“Kamu buruan mandi, gih. Aku shalat di mushola dulu. Ntar abis maghrib, anter aku cari kost, ya?” ucap Kiyo sembari mengangkat tubuhnya, melepas hoodienya dan melenggang ke luar rumah kostku.
Dia bilang tadi anter dia cari apa?
*
*
*
Saat aku selesai mandi, pintu rumah kostku masih tertutup. Membuatku bertanya, apa Kiyo udah selesai shalat di mushola? Aku mandi lama loh.
Aku mengangkat kedua bahuku, lalu berganti baju yang lebih kering. Soalnya kaos yang kupakai tadi sempet jatuh di kamar mandi.
Setelah ganti baju, aku keluar,untuk memasukkan sepedaku. Dan saat aku buka pintu, cowok ganteng itu, kembali kutemukan sedang bersandar di dinding samping pintu.
“Masya Allah, udah lama di situ?” tanyaku, lumayan kaget.
“Lumayan,” jawab Kiyo. Memasukkan hpnya ke saku celana. “Mau diapain sepedanya?” Kiyo balik bertanya, saat dia melihatku menyentuh stang sepeda.
“Bawa masuklah.”
“Kok dibawa masuk? Kan aku bilang, abis maghrib, anter aku cari kost.” Tangan Kiyo menahan stang satunya. Membuatku melepaskan peganganku pada sepeda.
Aku menatap Kiyo bingung.
“Kamu mau nyuruh aku pindah kost?”
“Emang aku bilang gitu?”
“Tadi, bilang suruh temenin cari kost, apa maksudnya?” Aku menyilakan tangan di depan d**a. Menatap Kiyo bingung.
“Makanya, lain kali, kalau dibilang, jangan ikut karnaval, ya gak usah ikut,” omel Kiyo, kini dia malah menaiki sepedaku.
“Lah, kamu mau ke mana?” Aku tadi tuh mau cemberut, batal karena Kiyo yang main nyengklak sepedaku.
“Mau cari makan,” jawabnya.
“Katanya tadi udah makan?”
“Kan kamu belum.”
“Tapi di kostku ada makanan.”
“Nasi doang, kan?”
Aku menyengir. Iya emang nasi doang. Lauk yang aku masak, udah abis diserbu Nadin sama Najwa tadi pagi.
Kiyo mulai mengayuh sepeda. Hanya dua kayuhan, dia berhenti. Menoleh padaku.
“Kamu gak ikut?” tanyanya.
“Boleh?”
“Ck..” Kiyo berdecak. Kayaknya anak Mami Vira kesel sama aku. Kiyo memindahkan satu tangannya dari pegangan stang. “Sini, naik!” suruhnya.
“Aku ambil uang dulu,” kataku, lalu dengan cepat masuk ke dalam kost. Mengambil jaket dan beberapa lembar uang di dompet. Ah jangan lupa hp.
*
*
*
Karena yang jual sayur langganan aku tutup, aku dan Kiyo memilih beli sate ayam aja di deket kost. Mumpung lagi sepi juga.
“Kamu nyampe Surabaya tadi jam berapa?” tanyaku, memecah keheningan, karena, sedari aku duduk dibonceng Kiyo, Kiyo diem aja.
“Jam 10 sampai bandara, trus karena kamu ngeyel tetep ikut karnaval, aku minta jemput Bagas buat anter ke kampus kamu, malah kamu udah tebar pesona aja di jalan.” Kiyo bangkit dari duduknya, mengambil satu botol air mineral di meja, membuka tutupnya, lalu memberikannya padaku. “Minum dulu, La.” Karena Kiyo lagi kesel sama aku, jadi aku turutin aja deh. Aku mengambil botol minuman itu, lalu meneguknya sampai separuh. Kiyo mengambil lagi botol itu dan menutupnya.
“Capek gak?” tanya Kiyo.
“Apanya?”
“Jalan pas karnaval tadi, capek gak?”
“Lumayan sih. Gak jauh kok, cuma 2 kilometer kalau gak 3 kilometer.”
“Tadi tuh, maunya aku kasih kejutan ke kamu, tapi malah kamunya ngeyel masuk kuliah buat karnaval.”
“Kejutan apa? Aku udah ulang tahun, kalau kamu lupa.”
“Yakali, aku lupa. Aku ingetlah. Ya, kan 2 hari lalu kamu bilang pingen mudik ke kediri, tapi gak berani naik bis sendiri. Ayah kamu gak bisa jemput karena masih kerja, jadi aku pingen ngajak kamu mudik.”
Aku langsung menatap Kiyo, mulutku sudah terbuka beberapa centi. Tapi suaraku mendadak hilang begitu saja. Okey, La, lain kali, jangan ungkapin semua apa yang kamu pingen sama Kiyo.
“Mumpung aku libur juga kuliahnya,” lanjut Kiyo. Bangkit dari duduknya. “Berapa pak?” tanya Kiyo pada penjual sate.
“Dua puluh ribu, mas.” Bapak itu mengulurkan bungkusan sate pada Kiyo.
“Ini pak,” kata Kiyo, menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan.
“Kan aku bisa bayar, Kiyo,” gumamku, bangkit dari dudukku, mulai melangkah keluar dari warung sate.
Kiyo hanya melirikku sekilas. Lalu berjalan menuntun sepeda. “Sate aja nih? Kamu gak pengen jajan yang lain?”
Aku menggeleng. Oh ya, sepedaku bannya kempes pas di tikungan mau belok ke warung sate. Jadi pulangnya kami jalan kaki. Sambil mencari bengkel.
Tidak ada yang berbicara selanjutnya. Aku masih dipenuhi oleh rasa bersalah karena tidak menuruti permintaan Kiyo. Dan Kiyo, entah apa dipikirkannya, karena dia juga diam. “Itu bengkel bukan?” tanya Kiyo, menunjuk rumah yang ada kompresornya.
“Iya, itu bengkel motor, mau tutup kayaknya.”
“Kamu tunggu sini, aku pompa sepeda di sana.” Tanpa menungguku menjawab, Kiyo sudah berjalan menuju bengkel itu.
*
*
*
“Kamu belum jelasin loh, kamu mau cari kost buat siapa?” Aku kembali bertanya pada Kiyo. Kiyo menghentikan kegiatannya menggigit sate yang tadi kami beli.
Dia meletakkan piringnya ke meja. Meraih gelas, dan meneguk air putih di dalamnya.
“Habisin dulu makan kamu, ntar aku jelasin.”
“Gak bisa jelasin sambil makan?”
“Mulut cuma satu, La. Gak bisa buat ngomong dan makan sekaligus.”
Aku kembali mencebik. Kali ini, Kiyo langsung membekap mulutku menggunakan gelas air putih tadi. Membuat kepalaku terdorong ke belakang pelan. “Kan aku udah bilang, itu mulut biasa aja. Susah banget dibilangin.”
“Apa coba salahnya. Kamu sih ngeselin.”
“Kamu lebih ngeselin.”
“Emang aku lagi kesel. Jalan dua kilo lebih, belum makan, diajak jalan lagi. Kesel kakiku, kesel,” omelku. Menunjuk kedua kakiku yang kusilakan di atas sofa.
Aku melihat Kiyo yang menghela napas. Tapi dia tidak menoleh, kembali memilih menghabiskan makannya.
“Maaf deh,” sesalku akhirnya. Kiyo diam, dia masih mengunyah makannya. “Kiyo, maaf..” rengekku.
“Makan dulu, La, ntar kita ngobrol kalau udah selesai makan.”
*
*
*
Dan sampai adzan maghrib berkumandang, dan Kiyo memilih shalat di mushola, meninggalkan aku sendiri di kost. Aku radak males shalat di mushola. Karena imamnya lama bangetdah. Lagian kan aku lago dapet yah.
Lalu Kiyo pulang jam enam tepat. Dia belum menjelaskan apa-apa loh. Abis makan dia nguthek-nguthek hp, main game, terus shalat itu.
“Ayok,” ajak Kiyo, dia kembali mengenakan jaketnya, memasukkan hpnya pada saku celana. “Aku udah minta bagas jemput di depan.”
“Gak mau! Kita belum ngobrol seperti yang kamu janjiin tadi.”
“Aku gak janji apa-apa tadi. Dan kita udah ngobrol sekarang.”
“Aku butuh penjelasan, Kiyo.”
“Aku jelasin di mobil,” kata Kiyo lembut. Dia meraih jaketku, menyerahkannya padaku. “Ayoo...”
*
*
*