BMF - 9

1363 Kata
SEMBILAN Akyo orang bali tapi bukan dukun La, serius, gak usah ikut ya? Aku ikut Kiyo. Akyo orang bali tapi bukan dukun Tapi jauh, La. Ntar kamu cape. Mana kata kamu, kamu kan lagi ‘waktunya’ Cuma dua kilo Akyo orang bali tapi bukan dukun Tapi tetep capek kalau jalan kaki. Gak usah ikut, ya? Please... Aku mengerutkan kening, menutup mata, karena mbak-mbak yang make up-in aku menyuruhku merem. Eh iya, aku lagi mau ikut karnaval gitu, mewakili kampus. Lebih tepatnya mewakili fakultas seni rupa, tepatnya lagi, mewakili jurusan desain komunikasi visual. Di acara menyambut hari kemerdekaan. Oh yes. Sudah hampir satu tahun aku LDR sama Kiyo. Dan semuanya berjalan baik. Sungguh luar biasa baik. Kiyo dua kali mengunjungiku semenjak menjadikan aku calon istrinya. Pertama, pas tahun baru. Dia dengan basah kuyub ngetuk pintu kostku sore-sore. Mana itu aku baru aja bisa merem. Untung ya, yang dateng calon suami. Coba kalau bukan? Udah aku sembur pakai api neraka. Terus dia ngajak lihat kembang api gitu di taman. Dua hari dia di Surabaya, nginep di hotel tempat dia ngelamar aku. Kami sepedahan pagi, selama dua hari dia di Surabaya. Makan soto di tempat yang dulu. Foto-foto lagi, tapi pakai hpku, soalnya hp Kiyo rusak karena kehujanan. Untung aja nih, si Najwa kan kerja di service hp, jadi bisa di servisin sama konter tempat Najwa kerja. Najwa dan Nadin udah ketemu sama Kiyo, pas Kiyo aku ajak nyervisin hpnya. Kata mereka Kiyo biasa aja. Karena Kiyo kurang ramah katanya. Aku sendiri gak protes sama Kiyo yang gak sok akrab sama Najwa dan Nadin. Cowok kan punya gaya sendiri, ya? Ya gak Bun? Kayak lakikmu bun. Lalu yang kedua, pas aku ulang tahun, di pertengahan Mei. Kali ini dia datang bilang-bilang. Gak kayak pas tahun baru, dia main nongol aja. Pas itu, aku bahkan yang jemput dia di bandara. Karena dia yang minta. Dia nyuruh temen baiknya disini, yang mana adalah Bagas, yang luar biasanya adalah orang yang motoin aku sama Kiyo dulu. Gak tau deh, kenapa Kiyo bisa temenan sama Bagas. Tapi kata Kiyo, Bagas itu supir grab yang pernah dipesen Kiyo pas balik ke Bali, tahun lalu.  Pas ulang tahunku itu, Kiyo kasih aku hadiah scrap frame. Foto-foto aku sama dia, pas di sepeda dulu. Dengan foto Kiyo pas nyium puncak rambutku, menjadi yang paling menonjol. Aku sampai terharu gila. Karena kata Mami Vira (sekarang aku panggil beliau Mami ) itu yang bikin Kiyo sendiri. Aku sih percaya aja, karena aku lihat banget itu hadiahnya gak ada sentuhan ceweknya. Rapi sih, tapi kesannya cowok banget. Bunganya cuma satu, background scrap framenya cuma gambar abstrak. Tapi tetep bagus dan aku suka. Kalau yang pas ultahku ini, Kiyo agak lama di Jawa. Hampir sepuluh hari, karena dia nemenin aku yang sakit. Jadi tuh, pas hari H ulang tahunku, Kiyo ngajak jalan-jalan ke tempat wisata di Surabaya. Dianterin Bagas ini. sampai jam dua belas malem, baru kami balik. Untung sih ya,, Bulekku Dinda, ngijinin aku jalan sama Kiyo.  Jangan tanya ke mana aja, karena banyak banget yang kami kunjungi. Terus besok paginya, kami sepedahan. Dan sepulang sepedahan itu, badanku panas banget. Aku sampai di rawat di klinik, karena muntah-muntah tiap mau makan. Mami nya Kiyo, sampai marahin Kiyo, dikiranya aku hamil gitu. Ya Allah, aku sampai dilema, mau marah, tapi Mami Vira lucu banget.  Ternyata aku cuma salah makan, aku lupa kalau aku gak bisa makan pepaya, dan pas aku ulang tahun itu, aku makan rujak buah yang ada pepayanya. Langsung deh, Bundaku marah-marah. Untung marahnya lewat vcall ya.  “Yaudah sih bun, namanya juga orang lagi seneng, calon suaminya dateng, ngerayain ulang tahun bareng. Apa aja ya aku makan, bun. Mana kan dibayarin sama Kiyo.” “Tetep ya, barang gratisan mah enak semua, ya La.” Ayahku menimpali. “Yaudah, besok Bunda ke kost kamu deh, kasian Kiyo jagain kamu terus. Lagian manja banget, muntah gitu aja nginep di klinik segala.” “Kiyo bun, yang maksa Nala,” sahut Kiyo. “Soalnya kalau Nala tetep di kost, Kiyo gak bisa jagain Nala, bun.” Aku langsung menyerahkan ponselku pada Kiyo. Memilih kembali berbaring, menutup mukaku dengan handuk basah. Menyembunyikan pipi meronaku dari Kiyo. Kiyo gila. Orang sakit malah dibikin baper lagi. "Aduh, kok Bunda jadi ikut baper." samar aku mendengar Bundaku menimpali ucapan Kiyo. 19 years old, and Bundaku masih menye-menye.  Lima hari aku di rawat di klinik. Karena ada masalah lain setelah aku sembuh muntah-muntahnya. Kakiku, rasanya ngilu banget. Sampai gak kuat jalan. Jadi aku diinfus lagi deh. Kata dokternya, aku kurang minum air putih. And damn, that’s right. Aku akui, aku kurang suka minum air putih. Jadi pas aku udah pulang dari klinik, si ganteng bermata sipit anaknya Mami Vira ini, punya inisiatif, nempelin beberapa perabotan di kostku dengan sticky notes. Tulisannya “Drink, Nala. Drink!”  Di banyak tempat. Di tivi, di samping bingkai foto kami. Di laptop. Di pintu rumah, di pintu kamar, pintu kamar mandi. Di sisir, di lemari sampai di hpku. Ada tulisannya “Drink, Nala. Drink!” Btw, tulisan Kiyo bagus. Rapi. “Duh, Nala udah cantik aja,” seru Nadin, dia menemuiku untuk mengantarku nanti ke start karnavalnya. “foto dong, La.” Mbak yang ngerias aku minggir. Memberi ruang pada Nadin untuk foto bareng denganku. “Fotoin aku sendiri dong, Din. Mau aku kirim ke Kiyo.” Aku mengulurkan hpku. “Nih,” kata Nadin, mengulurkan akua gelas padaku. Aku memutar bola mata malas. Nadin mesti gini, tiap aku kasih hp, dia kasih aku air minum. “Aku kan udah pakai lipstik, Din.” “Yaelah, ini ada sedotan, La.” Aku merengut. Meraih sedotan itu lalu mulai minum. “Lagian pakai lipstik sekali doang aja, belagu,” cibir Nadin. Kini mulai membidikku dengan kamera hpku. * * * Akyo orang bali tapi bukan dukun Udah sampai mana, La? Masih jalan ini.  Akyo orang bali tapi bukan dukun Ck, kamu kenapa dandan cantik banget sih? Namanya juga karnaval Kiyo. Jurusan aku kebagian kostum adat. Aku dapetnya adat Jawa, ya dandan gini. Akyo orang bali tapi bukan dukun Ngambek! Haahhh... aku memasukkan kembali hpku pada pouch. Lalu kembali berjalan menghadap depan. Mengikuti pasangan jadi-jadianku, yang adalah pacarnya Nadin, dia dadah-dadah.  * * * Akyo orang bali tapi bukan dukun Tebar pesona aja terus. Itu pesan Kiyo dua jam yang lalu. Aku baru saja pulang dari karnaval. Kini melepas kostum dan menghapus make up di ruang wardrobe, ditemani Nadin yang dengan lembut mencabut bulu mata palsuku. “Kok aku jadi takut, Mas Ibram naksir kamu, ya La?” seru Nadin. “Apadeh. Dia itu dari tadi pas jalan, ngegerutu mulu. Andai Nadin juga ambil DVK dek.” Aku menirukan gaya cowoknya Nadin. Dia dua tahun di atasku. Dengan wajah tegas khas orang Jawa. Ganteng sih, tapi radak item. Cocok banget sama Nadin. “Dia bilang gitu?” “Hooh.” “Aku nemuin dia dulu ya, kamu bisa kan ngehapus itu?” Nadin menunjuk make upku yang masih belum terhapus sempurna. Lalu memberiku micelar water.  * * * Jika tadi, pas aku jalan pamer baju adat Jawa (kebaya gitu, warnany gold, ekornya panjang, dan dipegang oleh Mas Ibram) cuacanya mendung. Bukan mendung kayak mau ujan, lebih ke... mataharinya ketutup awan aja. Kini, saat aku mengayuh sepeda, pulang ke kostku, cuacananya, ya Allah panas. Padahal ini udah jam empat sore.  Kayuhanku berhenti mendadak, tepat di depan gerbang rumah kostku. Dengan bunyi rem sepedaku yang berdecit keras. Aku menurunkan kakiku, untuk menyeimbangiku agar tidak jatuh. Satu tanganku melepas kacamata jalanku. Memastikan -dia- yang berdiri bersandar di tembok samping pintu rumah kostku, adalah -dia- yang tadi melarangku ikut karnaval. “Turun! Matung aja di situ sampai ujan turun.” Aku mendengar suaranya, yang memerintah. Menurut, aku turun dari sepeda. Menuntun sepedaku mendekat padanya. Dia mengambil alih sepedaku, dan menyandarkannya. “Kok, kamu udah di sini aja? Udah lama di sininya? Terus, kenapa kamu gak chat aku kalau kamu ke sini sih?” berondongku. Dia hanya menghela napas. “Bukain kek, pintunya. Ajak ngomong di dalam,” ketusnya. Lagi, aku menurut, mengambil kunci kostku dan membuka pintu. “Assalamualaikum, Nala.” Kiyo berkata lembut. Sebelum memasuki rumah kostku. Membuat senyum sialan ini terukir di wajahku. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN