BMF - 8

683 Kata
DELAPAN “Kunyuk!!” Nadin membentakku. Tapi malah membuatku tertawa. “Kenapa tumbenan banget, ngampus bawa sepeda.” “Capek, Din, jalan. Lagian seneng dong, harusnya kamu, jadi gak nganter aku ke kost.” “Ya tapi, ntar tuh aku mau minta tolong kamu, buat jemput Najwa di halte.” Aku menghentikan langkahku menuntun sepeda ke parkiran. “Najwa ke sini?” “Iya!” Nadin masih kesal. “Dan aku tuh ntar ada janji sama kak Ibram.” “Yaelah, demi temen, Din.” “Ck.tau ah, La.” Lalu Nadin berlalu begitu saja. Aku memarkir sepedaku di tempat yang sudah disediakan kampus. Hendak menyusul Nadin, namun ponselku berbunyi. Akyo orang bali tapi bukan dukun Just landed in my bed. Udah kangen kamu aja, deh :( Lah, itu kenapa ada emoji sedih. Yaudah sih, liatin foto aja. Tadi kan udah foto sama aku. Akyo orang bali tapi bukan dukun Kamu gak kangen aku? Enggak, ntar bulu mata kamu rontok. Kasian mata sipit kamu gak ada yang menaungi. Akyo orang bali tapi bukan dukun Dasar calon istri rasis DEG. Getaran ini lagi. Padahal cuma baca chat Kiyo. Tapi chat itu ngingetin aku sama tadi pagiiiii... “La,” panggil Kiyo sembari masih mengayuh sepeda, pulang dari tukang soto. “Apa sih?” “Aku boleh minta foto kamu, gak?” Kiyo menghentikan laju sepedaku. Dia masih membungkuk. “Masak aku gak punya fotonya calon istriku sih?” Gila aja rasanya ini jantung langsung mencelos. Udah kayak sumbu kembang api yang dinyalain. Mbeledos sana mbeledos sini. Aku belum menjawab, saat Kiyo sudah mengeluarkan ponselnya. Mengatur posisi ponselnya di depanku. Dan mulai membidik. Ya Allah, hasilnya baguuuusss.. aku sih maklum, karena hp Kiyo tuh hp mahal. Tapi angle dia ngambilnya tuh lo. Hasilnya jadi keren Gila. Gak sekali jepret doang, beberapa kali jepret, tapi dia pinter banget ngatur angle-nya. Apalagi pas dia foto sambil nyandarin dagunya di puncak kepalaku. Idih, melelehhh... “Mas..” Suara Kiyo terdengar. Hah, mas? Aku mendongak padanya, yang menoleh ke samping, pada seorang lelaki dewasa yang sedang lari pagi. “Ganggu bentar dong, mas. Tolong potoin saya sama calon istri saya,” pinta Kiyo. Mas yang dimaksud Kiyo tersenyum, “Boleh,” kata Mas itu. Lalu mengambil hp Kiyo. Aku berniat turun dari sepeda, namun dihalangi Kiyo. “Mau ke mana?” “Turun,” “Ck, foto di atas sepeda aja.” Kiyo menarikku, membuatku duduk seperti semula. “Senyum, dek.” Mas itu menyuruh. “Satu, dua, tiga.” Cup... * * * “Jadi, si Kiyo-Kiyo ini ngelamar kamu, La?” tanya Najwa bersemangat. Dia sampai menumpahkan saos kentang gorengnya. Membuat Nadin misuh-misuh karena saos itu tumpah ke bedaknya. “Wa!!” pekik Nadin. “Bedak aku!” “Salah sendiri, naruh bedak di situ,” omel Najwa. “Terus gimana?” “Ya, dia bilang, dia ngajak aku serius. Terus kami akan nikah kalau kami udah lulus.” Aku menjawab apa adanya. Ya seperti yang Kiyo ucapkan saat nganter aku pulang dari hotel. Kita, gak pa-pa kan LDR? Aku mau kumpul-kumpul duit, buat nikahin kamu, saat kita udah lulus ntar. Aku janji akan sering ke sini, ngapelin kamu. “Tapi serius, si Kiyo ini nekad banget. Ngajak pacaran dulu kek paling gak.” Nadin ikut menambah. “Yang bagus tuh, ya gitu. Kalau serius ya dilamar. Bukan dipacarin doang, disakitin terus diputusin. Udah bener itu Kiyo. Yah sayang banget, kami belum ngeh wajah Kiyo. Kamu gak ada foto Kiyo, La?” Aku menggeleng. Karena aku lupa minta foto kami tadi pagi. “Ck, Najwa tuh curhat apa gimana? Sok gaya anti pacaran, tapi mantan sekeredus,” cibir Nadin. “Kamu kira mie sedap, sekerdus,” protes Najwa. “Ngomong-ngomong kerdus, Tante Vira bawain aku kue sekerdus lagi.” Aku teringat, lalu membuka ranselku, mengeluarkan dua toples kue kering buatan Tante Vira. Lalu menyerahkan pada dua temanku ini. “Waaaahh... ini tuh kue paling enak.” Najwa menerimanya. “Kue paling gratisssss..” Nadin ikut menerimanya. “Langgeng ya kamu, sama Kiyo.” “Aaamin.” Itu suara Najwa. Dan aku? Aamin dalam hati. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN