Kelima orang itu panik, tentu ada hal yang tidak beres yang mereka rasakan. Mereka mulai berlari, tapi mulut terowongan benar-benar susah dijangkau. "Apa yang terjadi? Kenapa mulut terowongan semakin jauh saja ketika kita terus berlari?" Jung Ho Seok bertanya dengan napas terengah, mereka terus berlari penuh kepanikan dan memang semuanya tidak mudah dipahami.
"Aku tidak tahu, Ho Seok. Sepertinya penunggu tempat ini tidak mengizinkan kita pergi dari sini," jawab Kim Seok Jin.
"Sebaiknya kita terus berlari!" teriak Min Yon Gi, pria itu mempercepat laju larinya dan dikuti keempat temannya. Min Yon Gi yang biasanya tenang dan kalem tiba-tiba jadi panik, pasalnya baru kali ini mereka sampai terjebak.
"Tidak, kita jangan terus berlari ke depan. Ini adalah ilusi yang dibuat penghuni gaib tempat ini agar membuat kita bingung." Jeon Jung-Kook memperingati.
"Lalu kita harus berlari ke arah mana, Jung-Kook?" tanya Kim Nam Joon.
"Tabrak dinding!"
"Apa?!" teriak keempatnya tak percaya dengan pendengarannya, apa jadinya mereka jika menabrak dinding? Kepala mereka pasti bakal mendapat benjolan besar.
"Cepat!" Jeon Jung-Kook memimpin di depan dan berteriak saat tubuhnya bersiap menabrak dinding terowongan dan dikuti yang lainnya.
"AAAAAA!" Mereka berteriak, dan ternyata tubuh mereka satu per satu menembus dinding terowongan.
Kini kelimanya tiba-tiba ada di depan mulut terowongan, mereka merasa bingung seperti orang linglung saat tadi penuh kepanikan di dalam terowongan yang seperti tanpa ujung, kini tiba-tiba berada di depan mulut terowongan.
"Itu mereka!"
Di tengah kebingungan terdengar teriakan Park Jimin, kelimanya menoleh ke arah suara dan melihat kedua teman lainnya berlari ke arah mereka. "Sialan, kalian pergi ke mana? Kenapa kami cari tidak ada?" tanya Kim Tae Hyung, pria itu terengah-engah sedikit membungkukkan punggung dan menatap kelima teman di depannya dengan alis berkerut. "Kalian kenapa diam, aku dan Jimin mencari kalian ke mana-mana tahu!" omelnya kesal.
"Tae benar, kalian pergi ke mana? Aku dan Tae mencari kalian tapi tidak ketemu," sambung Park Jimin.
"Kami berlima melakukan penelusuran ke dalam terowongan," jawab Kim Seok Jin.
"Jangan bohong kau, Jin! Aku dan Tae tadi juga masuk terowongan, tapi kita tidak melihat satu mahluk pun, apalagi melihat kalian!"
"Serius, kami tadi melakukan penelusuran di dalam, masa kalian tidak menemukan kami?" sahut Min Yon Gi.
Park Jimin tak percaya. "Yon Gi, tapi kami tadi--"
"Kita harus pergi!" sela Jeon Jung-Kook, membuat semua orang tegang lagi, tapi memang ia merasakan bahwa banyak mahluk dari dalam akan berbondong-bondong keluar ingin menyeret mereka lagi. "Cepat!" Pria itu berlari lebih dulu agar segera menjauh dari mulut terowongan.
Keenam orang lainnya tak ada waktu untuk bertanya lagi, mereka tahu apa pun yang Jeon Jung-Kook katakan itu benar, soal ini dia memang lebih tahu.
Ketujuhnya berlari lebih jauh, beberapa meter dari terowongan mereka berhenti berlari dan menoleh ke belakang, mereka sangat merasa lega saat rasanya mereka baru saja keluar dari alam lain.
Mereka menghela napas lega. "Syukurlah, akhirnya kita bisa lepas dari ilusi yang dibuat penghuni gaib sana untuk memerangkap kita," kata Jeon Jung-Kook.
"Jadi, maksudmu tadi kalian benar-benar ada di dalam? Tapi, kenapa aku dan Tae tidak bisa melihat kalian?" tanya Park Jimin masih tak percaya.
"Ya, itu karena kami sudah dibawa ke alam lain, sementara kalian tertinggal di alam nyata. Meski kita ada dalam ruang yang sama, kita tidak akan bisa melihat satu sama lain, kecuali kami atau kalian yang menyusul. Kalau kami tadi tidak bisa keluar dari ilusi, mungkin kita tidak akan bertujuh lagi," jelas Jeon Jung-Kook.
"Jung-Kook, kata-katamu menakutkan. Apa jadinya kalau kita berpisah dengan cara seperti ini," kata Kim Tae Hyung, pria petakilan itu tampak bersedih.
"Tapi, pada kenyataanya Tuhan masih mempertemukan kita, kan? Jadi jangan kahwatir. Lebih baik kita pulang, aku lelah mau tidur." Jeon Jung-Kook tersenyum tipis.
Kim Tae Hyung tampak menyeka sudut matanya yang sempat berair, dia mengangguk dan yang lain juga mengangguk setuju. "Ayo, ayo!"
Mereka bertujuh berjalan untuk kembali ke toko tempat mereka tadi memarkir mobil. Namun, saat mereka hampir sampai, terlihat wanita berambut panjang dengan gaun merah tengah berdiri di samping mobil mereka.
Tentu saja mereka semua terkejut hingga membuat Kim Tae Hyung hampir terjungkal saking kagetnya, pasalnya wanita mana yang berkeliaran di waktu dini hari begini. "Ku-kuntilanak merah!" teriaknya ketakutan.
Park Jimin segera membekap mulut Kim Tae Hyung agar jangan berteriak lagi, karena ia takut membuat wanita bergaun merah itu berbalik badan lalu memperlihatkan wajahnya yang jelek, Park Jimin tidak bisa menjamin kalau dirinya bisa tetap sadar nanti.
"Diamlah! Kau jangan berisik! Bagaimana jika dia berbalik badan dan mengigitmu, Tae."
Kim Tae Hyung menggeleng cepat. "Mmh, tidak, aku tidak mau!" sahutnya dengan suara tertahan karena telapak tangan Park Jimin masih membekap mulutnya.
"Makanya kau diam, jangan berisik! Dasar kau." Park Jimin lalu melepas bekapannya dan mereka fokus pada sosok wanita bergaun merah yang berdiri di dekat mobil mereka.
"Apa dia hantu?" tanya Park Jimin.
Belum ada yang menjawab, mereka masih mengidentifikasi wanita berambut panjang dengan gaun merah di malam hari seperti ini. Jeon Jung-Kook mengerutkan kening. "Aku tidak merasakan aura makhluk astral dari sosok itu," katanya heran, tapi kalau sosok itu manusia, sedang apa malam-malam begini ada di tempat seperti ini? Mana sepi pula.
Mereka bertujuh bergerak perlahan, mendekati mobil mereka dan melihat sosok wanita bergaun merah yang membelakangi mereka. Mereka menatap sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lantas mereka mengerutkan kening. "Hantunya pakai sendal jepit, dan menapak di tanah," kata Kim Tae Hyung dengan nada pelan.
Park Jimin memukul kepala Kim Tae Hyung gemas, membuat Kim Tae Hyung mengaduh dan mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit. "Jelas dia menapak tanah, kan Jung-Kook bilang tadi dia tidak merasakan aura makhluk astral, itu artinya wanita ini manusia," kata Park Jimin di dekat wajah Kim Tae Hyung, ingin rasanya ia memakan kepala Kim Tae Hyung yang memiliki otak sedikit sengklek.
Kim Tae Hyung nyengir kuda seraya menggaruk tengkuknya, lalu mereka kembali menatap ke arah sosok wanita bergaun merah di depan mereka. Dilihat-lihat secara seksama punggungnya tidak berlubang, kakinya juga menapak tanah, seratus persen bisa dipastikan kalau wanita ini manusia.
"Jangan-jangan dia orang gil--"