"SEMBARANGAN!" Wanita bergaun merah itu berbalik badan membuat ketujuh pria di belakangnya hampir terjungkal kaget.
"Astaga!" pekik Kim Tae Hyung seraya mengusap dadanya yang berdebar-debar seakan jantungnya hampir loncat dari tempatnya.
Wanita bergaun merah itu bertolak pinggang di depan ketujuh pria tampan itu, menatap wajah mereka satu per satu dan mengacungkan satu jarinya menunjuk satu per satu wajah-wajah mereka. "Siapa tadi yang bilang kalau gue orang gila?" tanyanya galak.
Keenam pria lainnya langsung menoleh pada Kim Tae Hyung, tapi pria itu hanya biasa saja, toh yang dia lihat hanya seorang wanita kecil tak berdaya seperti ini. Tinggi tubuhnya saja pasti tidak lebih dari 150cm, tapi penampilannya cukup dewasa dan ... agak semrawut.
"Lo yang tadi ngatain gue?" tunjuknya pada Kim Tae Hyung, meski dia kecil, pendek dan seorang wanita, rupanya dia tidak takut pada pria tinggi, tampan di hadapannya.
Kim Tae Hyung mencebikkan bibirnya, terlihat sangat menyebalkan. "Ya lagian, kau seorang wanita malam-malam begini ada di tempat begini sedang apa? Kalau kau bukan hantu, bukan orang gila, terus apa?"
"Uh!" Wanita itu maju dan menginjak punggung kaki Kim Tae Hyung yang memakai sepatu bermerk, meski dia hanya memakai sendal jepit, injakannya lumayan juga.
Kim Tae Hyung hanya meringis, tak menyangka mendapat serangan dadakan. "Rasain Lo, makanya kalau ngomong tuh disaring pake saringan teh kalau bisa, jangan asal jeplak aja!" omelnya galak.
Kim Tae Hyung terdiam, menatap wanita kecil di depannya yang aneh. "Orang tidak penting, lebih baik kita pulang." Lagian mana ada orang gila mau disebut dirinya gila, dari pada buang-buang waktu mending pulang.
Kim Tae Hyung berbalik badan dan mengajak teman-temannya agar segera masuk mobil, wanita itu tampak panik. "Kalian ini manusia tak punya hati, ya?"
Ketujuh pria itu berhenti. "Maksudnya?" tanya Kim Tae Hyung, lagi-lagi dia yang menyahut, memang yang lainnya bisu apa? Wanita itu sebal!
Wanita itu mengatupkan bibirnya, kesan pertama sudah tidak enak, bisakah dia meminta pertolongan pada mereka? Terlebih pada pria yang menyebalkan ini. "Mmh, kalian tega mau ninggalin gue sendirian di sini? Gue kan wanita lemah yang tak berdaya, kalau ada yang jahat sama gue gimana?" Sebisa mungkin wajah wanita itu dibuat sememelas mungkin agar bisa menarik hati mereka.
"Memangnya siapa yang berani dengan wanita bar-bar sepertimu, preman juga bahkan hantu sekali pun bakal kabur kalau berhadapan denganmu," sahut Kim Tae Hyung dengan senyum mengejek.
Nih laki-laki mulutnya tidak bisa bicara bener apa? Tapi, wanita itu hanya mengerucutkan bibirnya. "Jangan dilawan ... jangan dilawan ... gue lagi butuh tempat tinggal, nggak mungkin gue jadi gelandangan di kota orang, semoga aja ketujuh laki-laki ini orang baik semua. Dari muka-mukanya sih ganteng-ganteng kayak siapa ya? Kayak artis pop Korea yang biasa si Juleha tonton. Buset dah, gue lupa lagi nama bandnya apaan," batin perempuan itu seraya memperhatikan wajah-wajah ketujuh pria di hadapannya, sambil mengingat, tapi tidak ingat-ingat.
Memang payah daya ingat wanita ini, tapi yang terpenting sekarang dia butuh pertolongan, jadi fokus minta tolong saja.
"Jangan gitu dong, gue tersesat, tas dan semua barang bawaan gue dijambret. Dari sore tadi gue luntang-lantung di jalanan, mana laper lagi belom makan." Wanita itu mengelus perutnya yang kecil dengan wajah menunduk sedih.
Kim Tae Hyung menaikkan satu alisnya tak acuh. "Memangnya apa peduli kami?" Pria itu hendak berbalik badan lagi, tapi perempuan itu segera menarik lengan jaket Kim Tae Hyung hingga pria itu urung berjalan.
"Jangan gitu dong, Mas ... eh, gue panggi Mas apa apa nih? Ck, udahlah intinya tolongin gue ya, gue udah kagak punya apa-apa, gue juga kagak tahu jalan pulang. Gue yakin kalian orang baik, kagak apa-apa deh gue jadi babu di rumah lo pada juga. Asal gue dapet rumah tinggal sama makan," katanya memohon.
Kim Tae Hyung dan keenam orang lainnya tampak kasihan melihat wajah wanita yang hampir saja menangis ini, tadi dia galak, tapi sekarang malah terlihat sekali kelemahannya.
"Kasihan dia, kita ajak ke rumah saja," usul Kim Seok Jin meminta pendapat pada yang lainnya.
Kim Nam Joon, Jeon Jung-Kook, Jung Ho Seok, dan Min Yon Gi bersikap biasa, seolah pasrah dan terserah saja apa kata Kakak tertua. Tapi, Kim Tae Hyung yang resek dan Park Jimin yang cerewet tampak tidak setuju.
Memang resek kedua-duanya!
"Apa kamu yakin? Kalau dia seorang pencuri bagaimana?" tanya Kim Tae Hyung sembarangan, seketika pegangan tangan wanita itu pada lengan jaketnya terlepas.
Sedih, dituduh sekejam itu.
"Tae benar, Jin. Kita tidak kenal siapa wanita ini--"
"Gue Susan," selanya lalu mengulurkan tangan pada Park Jimin. "Katanya tidak kenal, jadi ayo kenalan. Gue Susan, kalian siapa?" tanyanya sok manis, biar apa? Ya biar bisa meluluhkan hati-hati pria di hadapannya.
Kim Tae Hyung tersenyum mengejek. "Aku tidak yakin kalau kau bisa menghafal nama-nama kami semua."
Susan menarik tangannya kembali, menatap Kim Tae Hyung dengan raut bingung. "Memangnya serumit apa nama-nama kalian hingga gue kagak bisa menghafalnya? Pokoknya, serumit apa pun nama-nama kalian, gue pasti bisa mempersimplenya," kata Susan enteng.
"Caranya?" tanya Kim Tae Hyung, kali ini dia yang penasaran.
"Sebutin aja nama-nama kalian. Dimulai dari Mas Genteng ini," tunjuknya pada Kim Seok Jin.
Kim Seok Jin yang murah hati pun tersenyum. "Aku Kim Seok Jin," katanya seraya memegang d**a memperkenalkan diri.
Seketika Susan tercengang. "Waduh iya, namanya kok aneh. Eh, bukan aneh, tapi susah dihafal. Satu orang aja namanya rumit, apalagi gue harus hafalin dengan nama rumit keenam lainnya," batinnya seraya memeperhatikan wajah-wajah mereka yang super ganteng, asli Susan baru pertama kali melihat wajah-wajah pria setampan ini. Di kampungnya mana ada.
"Aku Jeon Jeon-Kook."
"Apa? Jeon apa? Dekok? Astagfirullahaladzim. Kenapa sulit-sulit amat, udah hidup gue sulit, ekonomi sempit, perut gue melilit, lidah gue pait, otak gue malah dipaksa kudu mikir rumit," batinnya, Susan menelan Saliva susah payah.
"Aku Kim Nam Joon." Susan meringis menatapnya sama aja susah sih! Lalu beralih pada yang di sebelahnya.
"Aku Jung Ho Seok." Susan semakin tersedak di tenggorokan, yang pertama tadi juga dia lupa siapa namanya tadi? Wah, ambyar!
Kini ia beralih melihat ke orang yang ada di samping Kim Nam Joon. "Min Yon Gi." Pria itu tampak datar, tanpa menggunakan embel-embel kata 'aku' di depannya.
"Aku Park Jimin," sambungnya seraya menatap Susan, pria itu tahu kalau wanita di depannya hampir mau menangis, membuat Jimin senyum-senyum lucu.
"Sialan nih Ncim segala ngetawain gue," batin Susan, tanpa sadar dia menyebut nama Park Jimin pakai panggilan asal, nyerempet-nyerempet mirip.
Jimin-Ncim, Ncim-Jimin, hehe bagus juga dipikir-pikir, mudah diingat dan dilisankan.
Kini Susan menatap satu orang lagi, pria tampan tiada tara, tapi super nyebelin. "Aku yakin kau sudah lupa dengan nama Kakak Tertua kami," tunjuknya pada Kim Seok Jin, senyumnya meremehkan.
Susan melirik pada Kim Seok Jin yang tersenyum manis, beda seperti Kim Tae Hyung yang tersenyum menyebalkan. Susan pun tersenyum padanya. "Nih laki senyumnya manis bener, beda sama nih orang atu, dari tadi ngeselin ati gue muluk!" batin Susan seraya menatap Kim Tae Hyung kesal. "Ya elah, ngeremehin amatan sih lo. Siapa coba nama elo gue tanya," tantangnya tak mau menunjukkan rasa takut.
"Kim Tae Hyung." Pria itu tersenyum remeh, apalagi saat melihat wajah Susan yang pucat. "Bagaimana? Ingat nama-nama kami?"
Susan tersenyum kikuk, dia benar-benar lupa nama-nama mereka yang barusan tadi disebutkan satu per satu. Susan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan terkekeh sedikit malu. "Halah, apalah arti sebuah nama, yang penting udah kenalan, yang penting Lo pada inget kan nama gue?" tanyanya seraya menunjuk wajah-wajah ketujuhnya lalu menunjuk dadanya sendiri.