Mereka mengangguk, dan Susan tersenyum girang. "Nah! Ya udah beres urusan kalau gitu." Susan menepuk kedua telapak tangan dan tersenyum senang.
"Beres apanya? Kami ingat namamu, tapi kau tidak." Kim Tae Hyung tak terima kalah.
"Ya elah, perihal nama aja ribet Lo! Tar juga gue apal seiring berjalannya waktu."
Ketujuhnya terdiam, Kim Tae Hyung juga tampak lelah berdebat dengan perempaun di hadapannya ini. Park Jimin saja malas ikut-ikutan, tapi mengapa Kim Tae Hyung malah bersemangat tadi, sekarang dia tampak menyerah.
Apa dia sudah mengaku kalah? Wanita memang tidak pernah mau kalah, di pasal mereka juga tidak ada istilah wanita bisa salah. Wanita selalu benar, kalau wanita salah yang balik lagi ke pasal pertama.
Melihat mereka diam saja, Susan bertanya lagi. "Jadi gimana? Bersediakah kalian mengadopsi gue?"
"TIDAK!" jawab Kim Tae Hyung tak acuh, pria itu berbalik badan dan berjalan.
Susan lemas, langsung berjongkok dan menenggelamkan wajahnya di atas lutut.
Dia menangis!
Ketujuh pria itu menoleh kembali, dan kini melihat wanita kecil yang berjongkok di bawah. Tubuhnya yang pendek tampak kecil di atas tanah. Susan capek, semua barangnya hilang, dia tidak punya uang, tidak punya makanan, tidak punya tujuan, sekarang dia bingung.
Ketujuh pria itu saling pandang untuk meminta pendapat satu sama lain, setelah mendapat kesepakatan meski Kim Tae Hyung sedikit keberatan sebenarnya. Sejujurnya Kim Tae Hyung bukanlah pria yang kejam, dia hanya gengsi karena Susan mampu membuat dirinya kalah debat.
Kim Seok Jin melangkah, pria itu berjongkok di dekat Susan yang terisak. Wanita ini tampak keras dari luar, tampak kasar juga, tapi mengapa kini begitu terlihat rapuh dan menyedihkan.
Kim Seok Jin menepuk pundak Susan yang tampak bergetar pelan, isakannya bahkan ia tahan agar tidak terlalu keras. Susan tidak biasa menunjukkan kelemahannya pada orang lain, tapi saat ini seakan dirinya merasa putus asa dan tidak tahu harus meminta perlindungan pada siapa.
"Berhentilah menangis, ayo berdiri. Kamu bisa ikut dengan kami."
Kata-kata Kim Seok Jin bagaikan angin sejuk yang masuk ke telinganya, seketika wanita itu mengangkat kepala dan menyeka air mata yang membasahi wajahnya. "Serius? Gue bisa ikut kalian?" tanyanya tak percaya.
Kim Seok Jin mengangguk dengan senyum manis yang mendamaikan seluruh jiwa dan raga. Susan tak bisa lagi membendung air matanya, hatinya terenyuh merasa terharu. Sejak sore tadi dia sudah berjalan jauh, kelaparan dan kehausan, dia ketakutan juga berada di kota besar seperti ini sendirian, dan sekarang bertemu mereka seakan ia menemukan oase di tengah padang tandus.
"Terima kasih, terima kasih atas kebaikan hati kalian. Gue janji akan jadi anak baik, patuh dan tidak sombong." Susan mengacungkan dua jari membentuk huruf V .
Kim Seok Jin tertawa kecil begitu pun dengan yang lainnya, Kim Tae Hyung juga diam-diam senyum-senyum, rupanya baru beberapa saat bertemu dengan Susan ini bisa mengubah hari-hari mereka yang monoton jadi lebih berwarna. Secara setiap hari cuma melihat sesama laki-laki, kan bosen.
"Kalau begitu mari kita masuk mobil, kamu pasti sangat lelah." Dengan murah hati Kim Seok Jin menggandeng lengan kecil Susan dan memintanya berdiri.
Susan menatap tangan putih nan lembut pria itu, jauh dari dirinya yang sekedar orang kampung dan biasa bekerja kasar. Namun, mengapa dia begitu baik hati, Susan lagi-lagi merasa terharu, dia yakin mereka bukan orang jahat, mereka sebenarnya orang-orang baik, termasuk pria bermulut cabai itu juga.
Susan melirik Kim Tae Hyung dan pria itu tampak acuh tak acuh, padahal di dalam hatinya sudah merasa biasa saja dan ikut peduli. "Ayo," ajak Kim Seok Jin agar wanita itu mau bergerak dari tempatnya. "Kau duduk di depan saja denganku," kata Kim Seok Jin, pria itu meminta kunci mobil dari Kim Nam Joon.
Sikap Kim Seok Jin khas pria gentelman, dia membukakan pintu depan dan mempersilakan wanita itu untuk masuk, begitu pun dengan yang lain. Pria itu juga kini berjalan mengitari setengah mobilnya dan duduk di kursi kemudi. "Apa kau siap? Kita akan pergi ke rumah kami," tanya Kim Seok Jin pada Susan, dan wanita itu hanya mengangguk dengan senyum tipis.
Kim Seok Jin segera memanuver mobil meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah. Di tengah perjalanan di dalam mobil sangat hening, Susan sebenarnya sangat mengantuk, tapi dia tahan-tahan semampunya.
Kim Seok Jin menoleh padanya. "Kalau kau mengantuk, tidur saja."
Susan segera menggeleng. "Tidak, gue kagak ngantuk. Tapi, apa masih jauh?" tanyanya ingin tahu, karena ia sudah tidak tahan mau tidur, tapi kalau tidur di mobil dia takut menyusahkan orang lain, karena dia tahu dia ini type orang yang susah dibangunkan kalau sudah tepar.
"Tidak, 10 menit lagi juga sampai," sahut Kim Seok Jin, dan Susan mengangguk.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat gedung dan pohon yang seperti berlari menjauhinya. Susan menghela napas dan menyeka sudut matanya agar tidak menangis lagi, beban di hatinya tak ingin ia tunjukkan pada siapa pun.
***
Mobil mewah warna putih itu sampai di depan gerbang sebuah rumah, dengan sensor canggih yang terpasang membuat gerbang tinggi itu terbuka sendiri dan itu membuat Susan terpekik takjub, maklum orang kampung ya. Please, jangan dihujat!
"Waw, emezing! gerbangnya bisa buka tutup sendiri, Mas," katanya sembari menoleh ke belakang melihat gerbang rumah yang menutup kembali setelah mobil memasuki halaman.
Kim Seok Jin tersenyum, lalu memarkir mobilnya di depan rumah. "Sudah sampai, ayo turun," ajaknya seraya melepaskan seatbelt, lalu menoleh pada Susan yang sedang berusaha membuka pintu mobil.
Lagi-lagi dia terkekeh melihat tingkah Susan yang konyol. "Sebentar aku bukakan," kata pria itu, dan Susan hanya meringis saja merasa malu, buka pintu mobil saja tidak bisa, Susan ... Susan.
Kim Seok Jin keluar mobil dan yang lainnya juga sudah berada di luar hanya Susan sendiri yang masih di dalam. Kim Seok Jin membukakan pintu dan mempersilakan Susan untuk keluar, perempuan itu turun dari mobil melihat rumah mewah di depannya dia juga merasa takjub.
"I-ini rumah kalian?" tanyanya gugup.
"Iya lah, kalau ini bukan rumah kami sedang apa kami kemari," sahut Park Jimin.
Susan mengatupkan bibirnya dengan senyum masam, ini orang sama itu yang satunya sebelas dua belas. Cerewet, bawel, mulut cabe.
"Sudah, ayo masuk." Kim Seok Jin berjalan di depan dan berdiri di depan pintu yang terdapat benda bulat kecil di sana, Susan tidak tahu itu apa tapi pintu rumah kemudian bisa terbuka sendiri tanpa harus disentuh, bahkan tidak ada lubang kunci di sana.
"Canggiiihhh!"