"Belajar yang rajin." Alif mengusap kepala Aura yang tertutupi oleh phasmina plisket warna creame itu. "Sun jangan lupa!" Usai mengatakan itu Alif mencondongkan tubuhnya dan berharap Aura mencium pipinya. Bukan sebuah ciuman. Alif malah mendapat pukulan pelan dari tangan istrinya itu. Aura jadi menatap sekitar dengan wajah memerah. Emang benar-benar suaminya ini. Minta dicium di depan kelasnya yang di mana anak kampus masih berkeliaran. "Nggak inget tempat apa? Di rumah bisa, kan," omel Aura dengan mata melotot apalagi tangannya sudah bertolak pinggang. Melihat tampang Aura seperti. Alif malah semakin gemas untuk mencubit pipi Aura yang semakin hari semakin berisi saja. "Jangan ngomel-ngomel ntar kamu makin cantik," larang Alif. Aura mengernyit. "Sejak kapan orang marah tambah cantik

