Nyatanya hujan bertahan sampai sore. Meski siang tadi sempat reda sebentar, tapi sore harinya hujan kembali mengguyur ibukota. Jihan melenguh dalam hati, menatap air hujan yang turun dari langit. Menatap pergelangan tangannya, sudah pukul setengah enam. Jihan harus tiba di rumah tepat waktu, agar bisa masak makan malam untuk ketiga adiknya. "Kamu belum pulang?" "Astaga!" Jihan terperanjat, mengelus dadanya perlahan. Sangat terkejut melihat kedatangan Zavi yang tiba-tiba. Gadis itu menoleh sebentar dan memberi jarak setelah itu. "Masih hujan, Pak," balas Jihan. Dia ingin marah saat melihat tindakan tak senonoh Zavi di ruangan pagi tadi. Namun, Jihan sadar, dia bukan siapa laki-laki itu. Status mereka hanya sebatas sekretaris dan atasan, tidak lebih dan tidak kurang. "Ayo saya anter p

