Baikan

1309 Kata
Mungkin di dalam membangun rumah itu perlu pondasi yang kokoh. Begitu juga dengan dalam satu hubungan. Pondasi itu adalah saling kepercayaan dan saling terbuka dengan pasangan masing-masing. Bukan malah memendam semuanya dan membuat pasangan semakin berpikiran yang tidak-tidak. Yang utamanya adalah kejujuran. Sama halnya dengan Aura dan Alif. Keduanya masih awam dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Kelabilan mereka masih ada. Aura yang keras kepala dan Alif mulutnya yang nyinyir membuat Aura terkadang sakit hati dengan perkataan lelaki itu. Setelah menangis di dalam pelukan Alif. Aura merasa makin malu. Tapi tidak apa, rasanya beban yang beberapa hari ini ia simpan sendiri sedikit berkurang karena ia curahkan semuanya. Alif semakin mengeratkan pelukan mereka. Meletakkan dagunya di atas kepala Aura. Kini mereka berbaring di tempat tidur. Malam kian larut. Tidak ada niat mereka berdiri dari posisi nyaman itu. Hingga semuanya buyar kala suara nyaring yang berasal dari perut Aura. Wanita itu menunduk sambil merutuki dalam hati. Kenapa dalam situasi begini, ada saja yang menggangu. Alif diam-diam mengulum bibirnya. Hendak tertawa tapi ia tahan. "Kamu lapar?" tanyanya. Mendengar pertanyaan itu, Aura mengangguk pelan. Lebih baik jujur karena sudah kepalang ketahuan. "Ya, udah. Aku masak dulu," ucap Alif dan turun dari tempat tidur. Aura melirik Alif yang kini membuka lemari mencari pakaian lelaki itu. "Kamu di sini aja, nanti kalau udah masak. Aku ke sini lagi," tutur Alif. Mengacak rambutnya tidak beraturan. Menjadikan rambut lelaki itu awut-awutan sendiri. Alif sudah turun ke dapur. Aura dengan penuh ke bimbingannya memilih ikut menyusul Alif ke sana. Wanita itu tertegun melihat Alif yang begitu lihai dalam mengolah bahan-bahan masakan. Aura mencebikkan dirinya. Sekarang baru menyesal kenapa dulu dia tidak pernah belajar masak ke Mami. Tapi ada satu hal yang Aura takutin kalau memegang alat dapur. Sedikit bercerita. Dulu Aura di kelas dua sekolah menengah atas suka sekali melihat tutor masak di ponsel. Karena penasaran, Aura pun memilih mencoba untuk memasak sesuai panduan dari video di ponselnya. Nyatanya tidak sesuai dengan perkiraan Aura. Setiap kali dia memasak, masakannya itu tidak pernah jadi seperti pada umumnya. Nyaris gatot semuanya, alias gagal total. Tidak sekali dua kali Aura mencoba. Malahan puluhan kali. Sehingga hari itu, Aura marah sendiri dengan dirinya. Kenapa tidak jago dalam bidang satu itu. Sementara dia sangat pintar dalam urusan adu otot. Sampai suatu saat Aura pun berkata di depan Mami. "Mulai hari ini, aku Aura nggak mau memijak dapur dan memegang alat masakan. Aku benci memasak." Dan setelah itu, Aura tidak pernah ke dapur lagi. Kalau ke dapur dia sebatas membuka kulkas, itu doang nggak lebih. Bahkan alat dapur pun tidak pernah dia pegang sejak itu. Aura duduk di kursi meja pantry. Memperhatikan Alif dengan celemek melekat di tubuh lelaki itu. Tanpa sadar Aura tersenyum kecil. Dia di beri suami yang pandai memasak. Berarti kekurangannya bisa di tutupi oleh suaminya sendiri. Ah, betapa baiknya Tuhan mengirimkan Alif ke dia. Tidak sadar apa. Beberapa menit lalu mereka masih berantem? "Eh?" Alif sedikit terkejut mendapati Aura di kursi dekat pantry. "Kenapa turun?" tanyanya. Kembali menuangkan sayur sop kedua mangkuk terpisah. "Bosen di kamar. Jadi, nunggu lo di sini aja." balas Aura menopang dagunya. Memperhatikan Alif demgan seksama. Tertegun saat dia memperhatikan wajah Alif yang masih terdapat beberapa memar di sana. Tapi itu tidak mengurangi kadar ketampanan suaminya itu. "Itu wajah kamu, akibat aku tonjok kemarinnya?" tanya Aura sedikit meringis. Mengingat ke brutalannya yang memukul Alif karena kesal dengan laki-laki itu. "Iya, tapi udah mendingan." jawab Alif seadanya. Takut Aura kembali merasa bersalah karena sudah memukulnya. "Maaf," cicit Aura menunduk sambil memilin tangannya. Alif tersenyum kecil, menepuk kepala Aura pelan sebanyak dua kali. "Udah, nggak apa-apa." ucap Alif menenangkan. Makanan sudah terhidang di meja pantry. Karena malas mengangkat semua makanan ke meja. Alhasil keduanya memilih makan di sana saja. "Gimana?" tanya Alif dengan senyuman yang mengharapkan pujian dari Aura tentang hasil masakannya kali ini. "Enak." Aura manggut-manggut. Kembali memakan sop yang di masak Alif tadi. "Masakan kamu nggak mengecewakan sama sekali." Puji wanita itu. Alif semakin tersenyum lebar. Semakin manis di mata Aura karena tambahan tahii lalat di atas bibir lelaki itu. Pahatan sempurna yang patut di kagumi oleh semua makhluk. Alif begitu sempurna, tapi anehnya kenapa selalu di rundung oleh Andy dan kawan-kawan. "Belepotan," kata Alif sembari mengusap sudut bibir Aura yang terdapat sebulur nasi di sana. Aura tertegun kembali. Karena sempat saling pandang dengan Alif. Wanita itu berdehem sebentar. Mencoba fokus kembali ke makanannya. Begitu juga Alif. Sesekali melirik Aura yang diam-diam mengulum senyumnya. "Ra!" panggil Alif. Menggeser kursi untuk pindah di dekat Aura. "Hm?" Aura memandang Alif dengan wajah bingung. Mengerjap kala wajah Alif semakin mendekat. Sungguh gugup, meski mereka sudah berhubungan lebih intim dari ini. Aura menutup matanya saat Alif mempertemukan bibir mereka. Tangan Alif beralih ke belakang kepala Aura dengan satu tangan memegang pipi Aura agar semakin dekat dengannya. Tangan Aura tanpa sadar mencengkram kaos putih polos yang di kenakan Alif sekarang. Alif menjauhkan wajahnya dari Aura untuk meraup pasokan udara yang sudah menipis. Aura langsung memalingkan wajahnya demgan gugup. "M-makan!" suruhmya tergagap. Meraih sendoknya lagi, Aura kemudian mengaduk nasinya dengan asal. Sesekali melirik Alif yang terus memperhatikannya. Karena kesal sekaligus gugup di perhatikan begitu. Aura meradang dan menatap Alif tajam. "Makan, Lif! Jangan lihatin gue terus," katanya dan kembali memalingkan wajah. Alif tersenyum gemas dan mengecup pipi Aura sekilas. Setelah itu memakan nasinya dengan tenang. Tidak tahu kalau Aura sudah menahan jeritannya dari tadi. *** "File-nya nanti kirim ke gue aja. Terus setelah gue periksa, lo harus printer. Paham kan? Gue malas ulang-ulang lagi omongan gue sendiri." Aura bertanya kepada dua temannya yang ada di sisi kiri dan kanannya masing-masing. "Siap, Ra!" sahut temannya patuh. "Kita duluannya, mau ke kantin udah lapar soalnya." pamit keduanya meninggalkan Aura sendirian di koridor. Aura mendengkus pelan melihat berbagai macam para buaya di sekitarnya. Aura paling tidak suka di perhatikan seperti santapan mereka saja. Jalan Aura di halang sama tiga orang di depan sana. Salah satu dari mereka berjongkok di depan Aura dengan satu buket bunga di tangannya. "Aura, untuk ke sembilan puluh sembilan kalinya gue nembak, lo." Andy membuka suara dan berdehem sebentar. "Aura Putri Narendra. Anaknya Papi Gani, mau nggak lo, jadi pacar gue?" Andy memandang Aura dengan tatapan memelas. "Kalau pacaran sama gue. Gue jamin deh, hidup lo kayak ratu yang di manjakan sama raja dan para dayang-dayangnya. Betul nggak teman-teman?" tanya Andy meminta persetujuan dua temannya.. "Betul banget!" balas keduanya. "Ayo dong, Ra! Terima si Andy. Nggak kasian lo, dia udah berusaha mati-matian buat ambil hati lo." ujar dari salah satu teman Andy. Yang diangguki sama Andy dengan cepat. Aura menatap mereka malas. Wanita itu melipat tangannya di depan d**a. Tidak sengaja matanya bertubrukan dengan Alif yang berdiri tidak jauh darinya. Senyum jahil terbit di bibir Aura. Sekali lagi dia melirik Alif, lelaki itu terlihat was-was. Dengan santainya, Aura menerima buket bunga dari Andy. Dan Alif yang melihat itu memicingkan matanya. Kemudian menghela napas kesal, dan memilih pergi dari sana. Sebelum melihat semuanya. Aura terkekeh pelan melihat wajah kesal Alif. Merasa terhibur karena berhasil menjahili suaminya sendiri. Aura menunduk, memandang Andy yang sudah tersenyum lebar. Tapi senyum di bibir laki-laki itu hilang setelah melihat buket bunga tadi tercampak di lantai, di susul demgan sebuah kaki yang menginjak buket itu. "Maaf, Andy. Mau sampai seribu kali pun, lo nembak gue buat di jadiin pacar. Gue nggak akan pernah nerimanya." Aura menjeda sebentar. "Karena gue udah punya orang spesial di hidup gue. Dan yang terpenting, dia lebih baik dari lo." lanjutnya tajam. Dan berlalu dari sana. Andy terduduk lemas di lantai koridor. Menatap Aura nelangsa dan buket bunganya secara bergantian. Merasa gagal untuk mendapatkan hati bidadarinya untuk ke sembilan puluh sembilan kali. Oke, Andy tidak akan menyerah. Dia akan menjamin. Di seratu kalinya nanti, Aura pasti menerimanya. Fix, Andy yakin itu. Lagi pula siapa yang berani menolak pesona Andy ini. Cuman Aura doang yang berani dan Andy merasa tertantang untuk mendapatkan hati sang pujaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN