Langkah kaki Aura melambat ketika memasuki area perpustakaan. Biasanya dia jarang masuk ke sini. Jadi, demi suaminya yang tampan itu, Aura rela masik ke perpustakaan kampus.
Aura tersenyum melihat Alif kini tampak fokus pada buku di depannya. Sesekali lelaki memperbaiki letak kacamatanya. Entah kenapa pemandangan begitu sangat gemas di mata Aura.
Saat sadar, Aura kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sstt ... cowok!" panggil Aura pelan. Tidak mau menimbulkan suara keras di perpustakaan ini.
Alif yang mendengar itu langsung menoleh. Tapi saat melihat Aura duduk di hadapannya, lelaki itu enggan menjawabnya. Menjadikan Aura mendelik kesal.
"Serius amat baca bukunya, sampe istri sendiri di cuekin." celutuk Aura menopang dagu. Terus memperhatikan Alif dengan seksama.
Alif tidak goyah. Dia tetap pada pendiriannya, mendiami Aura karena wanita itu sudah beraninya menerima ungkapan cinta Andy. Sementara dirinya di sini masih berstatus menjadi suami Aura sendiri.
"Lif, ah!" decak Aura karena Alif terus menghiraukannya. "Gue ngomong sama lo, ini lho," lanjut wanita itu mengetuk meja kentara bosan. Apalagi Alif tidak menotice-nya sama sekali.
"Ck!" Alif ikut berdecak karena bukunya tiba-tiba di tarik paksa oleh Aura. Alif hanya bisa memandang Aura dengan tatapan malas.
Membuat Aura mencibir. "Kenapa natap gue gitu, hah?" tanya wanita itu garang. Kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a.
Alif memalingkan wajahnya setelah di semprot begitu. "Nggak jadi pacaran sama si Andy?" seru Alif sarkas.
Tawa Aura saja hampir pecah kalau tidak mengingat dia berada di perpus sekarang. Wanita itu hanya terkekeh geli. Tangan terulur dan mengunyel-unyel pipi Alif dengan gemas. Suaminya ini astaga seperti bocah saja. Cemburunya tidak ketulungan, kelihatan makin gemas karena wajahnya tertekuk masam.
"Aaaa suami gue, cemburu ini ceritanya?" Aura menaik turunkan alisnya menggoda Alif.
Alif masih dengan wajah cemberutnya menepis tangan Aura agar menjauh dari pipinya. "Cemburu apaan sih," elaknya kemudian.
Aura semakin gemas melihat tingkah Alif. Jadi, dia pun menegakkan tubuhnya. Menyandarkan punggung di sandaran kursi. "Ngaku ajalah, Lif! Kalo lo cemburu sama Andy." ledeknya lagi.
Lelaki itu hanya diam. Kembali menarik bukunya dan mencoba mulai membaca lagi. Tapi bukan namanya Aura kalau tidak jahil dengan orang terdekatnya.
Wanita itu memilih pindah duduk di samping Alif. Mulai bereaksi, menyadarkan kepalanya di bahu Alif dengan tenang. Mengambilnya satu tangan Alif dan memainkannya dengan asal.
Sampai Alif bosan sendiri melihat tingkah Aura ini. "Ra!" cegah Alif saat Aura jendak memasukkan jarinya ke dalam mulut wanita itu. "Jorok kamu!" lanjutnya menjauhkan tangannya dari Aura.
"Lagian lo, gemesin sih. Sampai gue mau gigit lo." Aura terkekeh mendengar ujarannya tadi.
Kemudian tangannya melingkar di perut Alif. Entah kenapa serasa tidak mau jauh dari Alif. Padahal beberapa hari mereka masih perang dingin. Dan dia juga sempat menolah perjodohan mereka ini.
Aura memejamkan matanya, tersenyum karena tangan Alif mulai berpindah di bahunya. Dan menepuk pelan di sana. Sungguh posisi yang paling ternyaman adalah di dalam pelukan suami.
"Ra," panggil Alif sela membacanya.
Yang di balas gumaman dari Aura. "Hm."
Alif menaruh dagunya di atas kepala Aura dengan santai. "Kamu nggak takut kita di lihat sama anak kampus?" tanta Alif.
Aura jadi membuka matanya. Melirik sekitar dan bernapas lega saat melihat keadaan perpustakaan sunyi. "Nggak takut, lagian nggak ada orang. Udah itu kita duduk di paling belakang." balas Aura kembali menutup matanya. Semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Alif.
"Nyaman kalau gini," gumamnya pelan.
Alif hanya tersenyum mendengar gumaman dari Aura. Dia tetap fokus membaca bukunya. Karena di kelas selanjutnya ada kuis dari dosen.
Keduanya larut dalam pelukan masing-masing. Tidak sadar ada yang memotret mereka berdua. Laki-laki itu kemudian tersenyum jahat. Mengantongi ponselnya dan berlalu dari sana.
Aura hampir saja memasuki alam mimpinya kalau saja, ponselnya tidak berbunyi. Wanita itu merogoh saku bajunya. Mengangkat telepon itu setelah membaca nama si penelepon tanpa melepaskan pelukannya.
"Apaan?" tanya Aura ogah-ogahan. Merasa momennya dengan Alif di ganggu.
Aura langsung menegakkan tubuhnya setelah mendengar suara gaduh di seberang sana. Di susul dia berseru. "Iya, iya, bentar!"
"Mau ke mana?" tanya Alif dengan satu alis terangkat.
Aura yang buru-buru menyampirkan tasnya pun menjawab. "Aduh itu dosen gue tiba-tiba masuk. Padahal tadi katanya ada urusan penting jadi nggak bisa masuk." Wanita itu menatap Alif sebentar. "Gue duluannya, bye, bye!"
Aura melambaikan tangannya. Yang di balas anggukan dari Alif. Tapi sedetik kemudian Aura kembali berputar arah untuk mendatangi Alif.
"Ada kelupaan." Wanita itu cengengesan. Mengambil tangan Alif dan menciumnya cepat. Setelah itu berlari keluar dari perpustakaan.
Alif yang di tinggalkan terpaku sesaat. Menatap tangannya yang di cium oleh Aura tadi. Kemudian menarik bibirnya tersenyum.
Setengah jam kemudian.
Alif keluar dari toilet setelah dari perpus. Sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai. Mengharuskan Alif buru-buru ke kelas. Kalau tidak mau ke tinggalan kuis.
Tapi di tengah jalan ia kembali di jegat oleh dua teman Andy. Menjadikan lelaki itu menghela napas. Tidak mau berurusan sama mereka lagi. Setelah beberapa hari lalu di buat babak belur sama mereka.
"Eh, apaan kalian ini?!" amuk Alif karena dia langsung di seret ke gudang belakang kampus. Sunyi dari pandangan orang-orang.
Tubuh Alif terhempas ke lantai begitu saja. Membuat lelaki iti merintih tidak karuan. Matanya menatap Andy dengan marah.
"Mau kamu apa sih sebenarnya? Kenapa selalu memukul saya?" tanya Alif yang sudah berdiri di depan Andy.
Andy berdecih pelan. Tanpa banyak bicara melayangkan satu pukulan ke wajah Alif. Sehingga lelaki itu mundur ke belakang untuk menyeimbangkan diri.
"Salah lo, banyak sama gue." balas Andy terlihat sangat terbakar sekarang. Matanya persis setajam silet. Ingin menikam Alif hidup-hidup.
"Salah satunya apa?" tanya Alif mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.
Andy mengeluarkan ponselnya. Kemudian menunjukkan foto Alif dan Aura di perpustakaan tadi. Alif mematung di tempat. Tidak menyadari ada melihat dia dan Aura tadi.
"Ini salah satunya." Andy mendekati Alif dan mencekik leher lelaki itu setelah menyudutkannya ke tembok. "Ada hubungan apa lo, sama Aura, hah?!" tanya laki-laki dengan emosi yang tidak terkendali. Merasa cemburu melihat bidadari hatinya bermesraan dengan musuh bebuyutannya.
"Lepas!" Alif memberontak. Memegang tangan Andy yang terus mencekik lehernya. "Kamu nggak perlu tahu, ada hubungan apa saya dengan Aura." balas Alif dengan napas sudah tertahan karena cekikan dari Andy.
Andy terkekeh jahat. "Lo makin sok berkuasa sekarang," ujarnya tajam. Semakin menekan tangannya ke leher Alif.
Lelaki itu sudah tidak bisa mengatur napasnya yang terputus-putus. "Uhuk! Lepas!" Alif memukul tangan Andy dengan sekuat tenaga. Tapi tetap sadar tenaga Andy lebih kuat darinya.
"Nggak akan! Lo harus mati! Karena udah berani nyentuh milik gue." balas Andy keukeuh.
Alif tidak tahu sekarang. Antara mau menangis atau tertawa. Karena Andy tidak tau saja, kalau Alif sudah lebih jauh menyentuh Aura. Membuat wanita itu merintih karena sentuhan tangannya. Serta erangan membuat Alif semakin berang kala wanita itu berada di kukungannya.
"Andy! Udah lepasin dia, b**o?!" seru satu teman Andy. Menatap Alif prihatin.
"Jangan halangi gue, anjing!" sentak Andy keras kepala.
"Lepasin aja! Kalau Alif mati, lo harus ingat. Sumber uang kita bakal nggak ada." ujar satu teman Andy lagi.
Andy yang menyadari itu langsung melepaskan tangannya dari leher Alif. Melayangkan satu tendangan ke perut Alif. "Untuk kali ini lo lepas dari gue," ujarnya dan berlalu dari sana. Terlalu muak melihat wajah Alif.
Sementara Alif meraup semua oksigen dengan tergesa-gesa. Memegang lehernya yang terasa sakit. Dia kemungkinan terduduk dan bersandar. Terus memegangi lehernya. Serta terbatuk kecil.
"Sampai kapan?" tanyanya lirih.