Alif membuka pintu kamar dengan pelan. Meletakkan tasnya di meja belajar. Kemudian duduk di pinggiran kasur dan memejamkan mata.
Kebetulan Aura baru keluar dari kamar. Wanita itu mengenakan piyama lengan pendek dan celananya batas lutut. Dia terbelalak melihat sudut bibir Alif lebam dan ada sedikit bekas darah di sana.
Pandangan Aura kemudian jatuh ke leher Alif. Di sana ada bekas jari-jari yang memerah melekat di sana. "Lif, lo kenapa?" tanya Aura mendekati suaminya.
Alif yang sedang memegang lehernya serta memijat pelan. Jadi, menjauhkan tangannya dari sana dan duduk tegak. "Nggak kenapa-kenapa," balasnya berbohong.
Mata Aura memicing tajam. Menekan kuat sudut bibir Alif yang lebam itu. Menjadikan lelaki itu meringis. "Ini namanya nggak apa-apa?" tanya Aura meledek sinis.
Alif terdiam keki. Tidak mungkin dia mengatakan sebenarnya. Bisa jatuh harga dirinya di depan Aura. Kalau dia habis di bully dan tidak bis berkelahi sama sekali.
"Ini tadi nggak sengaja jatuh," alibi lelaki lagi.
Namun, Aura sedikitpun tidak percaya dengan suaminya ini. "Bohong!" sanggah Aura tajam.
Duduk di samping Alif. Kemudian memegang leher Alif yang memerah itu. "Bilang sama gue, siapa yang lakuin ini sama lo?" tanya Aura.
Alif tergagap di buatnya. "Ra ...." Panggilnya lirih. "Ini sakit lho, obatin dulu kenapa. Nanti aja nanyanya," ujar Alif memelas.
Aura menghela napas pelan. Membuka laci nakas dan mengambil kotak PK3 di sana. Mulai menuangkan alkohol ke kapas dan mengoleskan di luka Alif.
"Kalau berantem sama orang itu harus di balas, Lif. Jangan diam aja. Itu kayak kemarin gue nonjok lo, sama sekali lo nggak menghindar dan pasrah aja gue tonjok," omel Aura menekan luka Alif sedikit kuat.
"Aduh!" Alif menepis tangan Aura. Memegang sudut bibirnya itu. "Jangan di tekan dong, Ra!" katanya dengan mata berkaca-kaca. Rasanya sangat perih.
Wajah Aura lempeng menatap Alif. "Jantan kok gitu aja udah kesakitan. Cemen lo!" cibir Aura. Menangkup wajah Alif. Dan meniup luka tadi.
Sedetiknya. Alif terpukau dengan perlakuan Aura ini. Matanya fokus menatap Aura yang sibuk meniup sudut bibirnya. Sekali entakan Alif semakin menipis jarak wajah mereka.
Menubrukkan bibir mereka. Sesekali Alif meringis karena lukanya masih sakit. Tapi tak urung melanjutkan permainannya. Sementara Aura terkejut dan mulai memejamkan matanya. Mengikuti permainan dari suaminya.
Selain tidak boleh menolak karena dosa. Itu juga membuat Aura ketagihan.
Alif dan Aura sama melepas pagutan mereka. Meraup oksigen dengan rakus. Tatapan Aura jatuh ke leher Alif. Jakun Alif yang naik turun membuat Aura tergoda. Setiap kali melihat itu, Aura tidak tahan untuk memegangnya.
Aura mengusap memar di bagian leher Alif. Membuat lelaki itu menahan napasnya. Alif memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Aura yang terasa halus dan membelai lehernya tanpa henti.
Tanpa di duga oleh Alif. Aura malah mengecup leher lelaki itu pelan. Membuat Alif terpaku dan memandang Aura tidak mengerti saat menjauhkan kepalanya dari sana.
"Biar lebamnya cepat sembuh," ujar wanita itu dengan pipi bersemu merah. Aura memalingkan wajahnya, tidak menduga dia bisa senekad itu.
Alif tersenyum lebar. "Kalau gitu, sakitnya langsung sehat," balasnya. Yang di balas oleh pukulan pelan dari Aura.
Wanita itu kemudian melipat tangannya di depan d**a. "Sekarang jujur, siapa yang udah berani giniin lo, hah?! Apa mereka nggak tau kalau lo, ini anak pemilik kampus. Dan bisanya semena-mena sama lo." ujar Aura mengingat alasan dari luka Alif hari ini.
"Lagian kenapa lo, sembunyikan identitas asli lo, sih?" tanya Aura heran. "Biar tuh orang nggak buat kayak gini lagi." Aura mengomel tanpa henti.
Tangan Alif menangkup wajah Aura. Menjadikan mulut wanita itu mengerucut lucu seperti mulut ikan koi saja.
"Kalau aku buka identitas asli aku. Mungkin makin banyak yang nggak suka sama aku, Ra," jelas Alif dengan pemikirannya selama ini.
Aura memegang tangan Alif. "Jangan selalu berpikiran begitu, Lif. Nggak semuanya benci sama lo," balas Aura memberikan pengertian ke Alif.
Tak berapa lama mata Aura memicing. Menatap Alif menuntut. "Oh, atau luka ini karena Andy yang suka bully kamu itu?" tanyanya. Mengingat wajah berandal laki-laki itu.
Alif terbungkam dan tidak menjawab. Membuat Aura semakin yakin kalau ini adalah perbuatan dari laki-laki itu awas saja. Besok Aura akan memberikan pelajaran yang setimpal.
***
Langkah kaki Aura semakin yakin memijak di sepanjang koridor. Untuk mencari keberadaan Andy. Membalaskan dendam Alif lewat dirinya.
Awas saja kalau dapat.
Senyum miring terpatri di bibir indah Aura. Langkahnya semakin kencang melihat Andy yang bercengkrama dengan dua temannya.
"Andy!" teriak Aura setelah mendekat. Saat Andy menoleh ke Aura saat itu juga satu pukulan melayang ke wajah si berandal itu.
Membuat semua orang yang ada di sana memekik tertahan. Tidak menyangka aksi nekad Aura kali ini.
Andy berdiri dan menatap Aura dengan tatapan tidak mengerti. "Aura! Maksud lo, nonjok gue apa, hah?! Gue ada salah?" tanya Andy mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah segar.
Kekuatan Aura tidak main-main. Andy dan Aura itu belajar beladiri di tempat yang sama. Sehingga dari itu Andy bisa menyukai Aura karena jago adu otot. Apalagi kalau dia melawan wanita itu, Andy bisa saja di kalahkan.
"Ayo join!" tantang Aura tidak berpikir ulang lagi.
Diam-diam Andy menelan salivanya kasar. Bagaimana? Aura itu pemegang sabuk hitam. Dan itu bukan tandingan Andy sama sekali.
Melihat ke terdiaman Andy. Aura tersenyum remeh. "Lo takut sama gue?" tanyanya.
Andy sebagai laki-laki yang di tantang begitu tentu saja tak terima dan langsung berseru. "Siapa takut? Ayo join sekarang di ruang latihan!" seru Andy kemudian. Melemparkan tasnya ke temannya.
Berjalan cepat ke gedung sebelah di mana tempat latihan anak beladiri. Aura mengangguk. Ikut menyusul Andy dari belakang.
Ruang latihan ramai sekarang karena di kerumuni mahasiswa dan mahasiswi. Mereka datang berbondong-bondong untuk melihat pertarungan antara Aura dan Andy. Yang setahu mereka Andy sangat bucin dengan Aura. Tidak menyangka menerima tantangan Aura sendiri.
Aura masuk ke dalam ruangan setelah selesai mengganti bajunya menjadi seragam biasa yang dia gunakan. Pakaian putih dengan sabuk hitam di pinggangnya.
Alif yang lewat di lapangan mengernyit melihat banyak orang berlari menuju gedung latihan. Laki-laki berkacamata itu memberhentikan salah satu mahasiswa yang kebetulan mau ke sana.
"Eh, itu kenapa ada ramai-ramai?" tanyanya.
Mahasiswa itu pun menjawab. "Itu Aura nantang Andy buat join." Lalu setelah itu berlari tergesa-gesa.
Mendengar itu. Alif langsung ikut ke sana. Membelah kerumunan itu sebisa mungkin. Tapi sesekali badannya ikut terdorong sama mahasiswa lainnya yang sudah berseru heboh mendukung Aura.
Alif melongo melihat Aura sudah mengambil kuda-kuda sekarang. Mungkin istrinya itu tidak menyadari kehadirannya karena terlalu sibuk untuk melawan Andy.
Kuda-kudaan sudah di pasang. Andy terlebih dulu melawan. Dan dengan mudahnya Aura mengelak tanpa kesusahan sedikit pun. Sepanjang pertarungan dua anak adam itu.
Aura membanting tubuh Andy ke matras setelah mendapatkan kelemahan laki-laki itu. Andy memekik tertahan kala tangannya di tekuk oleh Aura.
"Akh! Ra," ungkap Andy dengan nada pelan.
"Ini hukuman buat lo, karena suka bully orang lemah." balas Aura tajam. Kembaki berdiri. Dan membantu Andy dengan baik hati.
"Udah nyerah?" tanya Aura. Tentu saja Andy menggeleng sebagai jawaban. Karena dia tidak mungkin kalah di depan semua mata yang ada di ruangan itu. Bisa hancur harga dirinya.
Laki-laki itu kembali menyerang Aura dari berbagai sudut arah. Namun, tetap saja dia kalah. Tapi ketika Aura mengalihkan pandangannya matanya tertubrukan dengan mata Alif. Sehingga membuat dirinya lengah sendiri.
Menjadikan Andy mengambil kesempatan itu untuk meruntuhkan Aura. Mengambil tangan Aura dan membanting tubuh wanita itu. Mengunci pergerakan Aura.
"Dengar Aura, meski gue cinta sama lo. Itu nggak akan menjamin gua akan mengalah. Karena sejarahnya Andy nggak akan mau kalah," bisik Andy pelan.
Aura berdecak pelan, tetap bergerak agar Andy melepaskan tangannya. Sekali lagi dia menatap Alif, tapi laki-laki mengalihkan perhatiannya dan memilih pergi dari sana.
"Ck! Pasti dia marah karena gue udah nantangin Andy buat balas dendam," gumamnya.
"Gue kalah!" seru Aura. Memilih mengalah karena membujuk Alif lebih penting dari meladeni Andy.
Andy sontak tersenyum bangga. Melepaskan Aura. Dan memandang semua orang di sana.
"Lihat kan, gue menang lawan Aura." serunya sombong.
Semua mahasiswa langsung mencibir dan melempari Andy dengan gumpulan kertas. "Nggak jantan lo, lawan cewek. Hu ...." Sorak mereka meremehkan Andy.
Tidak menyadari kalau Aura sekarang berlari mengejar Alif yang sudah keluar dari gedung.