"Lif!" Aura menahan pergelangan tangan lelaki itu. Membuat Alif berbalik menatap wanita itu. Alif segera mengalihkan pandangannya, begitu enggan menatap Aura sekarang.
"Lo, marah?" tanya Aura pelan.
Alif melirik Aura sekilas. Kemudian menatap sekitar, tidak ada sebagian mata menatap ke arah mereka. Karena anak-anak di ruang latihan tadi mulai berhamburan ke luar.
Segera Alif melepaskan tangan Aura dari pergelangan tangannya. Menjadikan wanita itu sedikit tersentak. Alif meringsut mendekat. Dan berbisik ke wanita itu. "Banyak yang lihatin," ujarnya.
Aura mendengar itu, mengalihkan pandangannya. Dan benar banyak mata yang menatap mereka sekarang.
Tanpa sepatah kata, Alif pun berlalu dari sana. Meninggalkan Aura dengan kernyitan heran. Wanita itu langsung melangkah menuju rung latihan lagi untuk mengganti bajunya. Membenarkan sedikit jilbabnya yang kusut.
"Ra, meski lo kalah sama Andy. Kita tetap dukung lo, kok. Karena kita tau kalau Andy itu nggak cocok bertanding sama lo," salah satu teman kelasnya mendekat.
Aura hanya tersenyum tipis.
"Nggak masalah gue kalah sama Andy, karena gue kasih dia kesempatan aja biar nggak malu kalah sama cewek kayak gue," senyum tipis Aura tadi berubah jadi seringai saat melihat Andy ke luar dari ruang pelatihan.
Wanita itu menatap santai ketika sosok lelaki itu berjalan ke arahnya dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana. Aura pun melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Karena lo kalah sama gue, lo harus ngedate sama gue malam ini," putus Andy seenak jidatnya.
Aura mendengkus kasar jadinya. Menggeleng kecil dan menepuk bahu Andy sekali. "Harusnya lo malu," celutuk Aura. "Andai gue tadi nggak biarin lo menang aja. Lo pasti nggak mau nunjukin wajah lo lagi di depan anak-anak, ya, minimal seminggu sih." Aura tersenyum meremehkan lelaki di depannya.
Sontak rahang Andy mengeras. Sungguh dia bertanya kenapa dia jatuh hati ke perempuan yang sangat licik seperti Aura ini. Wajah Andy langsung memerah dan melihat sekitar mereka. Menggerakkan kepalanya untuk menyuruh dua temannya mengikuti jalannya.
Dan berlalu begitu saja meninggalkan Aura yang menghembuskan napas kesal. Gara-gara mengaja join si Andy, Alif malah marah ke dia.
Astaga Aura harus menyiapkan sesuatu untuk membujuk Alif. Kalau tidak dia bisa mati kelaparan di rumah nanti kalau tidak di masakin sama Alif.
Tiba-tiba satu ide melintas di kepala Aura. "Apa gue pakai baju seksi di depannya. Biar tuh anak luluh," gumam Aura tanpa sadar. Seraya berjalan memasuki ruang latihan lagi.
Sesaat Aura menggeleng ribut. "Nggak-nggak! Ngapain juga gue sibuk-sibuk bujukin tuh anak. Ntar baik sendiri pasti," yakin wanita itu.
Aura melepas baju putihnya itu. Menyisakan kaos lengan pendek, setelah itu Aura kembali memakai kemejanya serta rok plisketnya. Usai itu, Aura mematutkan dirinya di depan cermin. Tersenyum kecil, tak menampik kalau dia begitu cantik, ya, walaupun ada garis wajah garang di sana.
Aura ke luar dari sana sambil berlari kecil. Mata wanita itu memicing saat mendapati Alif sedang berbicara dengan Friska, sepupunya. Entah kenapa area di sekitar Aura jadi panas. Apalagi melihat Alif tersenyum menanggapi candaan dari Friska, bisa jadi.
Aura mendengkus tidak suka. Berjalan cepat ke arah dua orang itu. Seolah-olah tidak memperhatikan keduanya dan dengan sengaja Aura menabrak bahu Alif kasar. Membuat laki-laki itu sedikit terhuyung dan meringis pelan.
Bukannya merasa bersalah, Aura malah terus berjalan santai.
"Mampus! Siapa suruh ganjen sama cewek lain," rutuk Aura pelan. Tersenyum miring tanpa menoleh ke arah Alif yang kini menatap wanita itu dengan tatapan kesal.
***
Biasanya di rumah, Aura pulang yang paling lambat. Dan untuk hari ini dia tumben sekali pulang cepat. Mendahului Alif yang mungkin masih sibuk di kampus.
Setelah membersihkan tubuhnya. Aura berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Wanita itu mendesah frustasi ketika melihat tidak ada makanan yang bisa di makan. Hanya ada bahan mentah.
Aura berjalan lunglai ke ruang tengah. Memegang perutnya yang sudah berbunyi. Sial sekali! Kenapa Alif tidak memasakkan makanan untuknya di rumah ini. Dan kenapa suaminya ini pulang lama sekali?!
Wajah Aura sudah menekuk kesal. Melipat kedua tangannya di depan d**a. Karena bosan. Aura memilih mengambil remote tv dan memencetnya asal.
Suara mesin mobil yang Aura dengar, membuat wanita itu tersenyum senang. Tapi mengingat masih kesal dengan Alif tadi. Ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
Kembali melipat kedua tangannya di depan d**a dan bersikap seolah sibuk menonton tv. Padahal telinganya mendengarkan suara pintu yang di buka. Bersamamu langkah kaki yang mendekat.
Dari sudut matanya, Aura melihat Alif berjalan saja menuju lantai atas tanpa menyapanya yang jelas-jelas ada di sini. Semakin kesal dengan tingkah Alif, Aura berjalan menghentakkan kakinya menyusul suaminya di sana.
"Nyeselin banget sih!" sentak Aura memukul punggung Alif. Sehingga lelaki itu memekik tertahan.
"Kamu apa-apa, sih?!" tanya Alif. Baru saja meletakkan tasnya di meja belajar dia malah dapat pukulan dari istrinya. "Harusnya suami itu kalau pulang di sambut, bukan malah di timpuk!" omel lelaki itu.
Aura malah menye-menye di depan Alif. "Lemah banget lo, baru segitu aja udah kesakitan," cibir Aura. "Belum lagi gue tonjok kayak waktu itu." sambungnya.
Alif memalingkan wajahnya. "Iya, iya, aku tau kok, kamu jago banget berantem," sindirnya. "Sampai-sampai ajak Andy join. Buat apa sih?" tanya Alif heran.
"Sengaja bangetnya kamu mau di pegang-pegang sama laki-laki lain." Alif berkata lagi.
Sedangkan Aura menganga tidak percaya dengan perkataan suaminya ini.
"Eh, gue ajak dia join karena niat buat bales dendamnya! Karena dia udah berani mukul lo," sanggah Aura berkacak pinggang. "Bukan gue modus karena mau di pegang-pegang dia! Harusnya lo, bersyukur karena gue udah baik balasin dendam buat lo," sambung Aura dengan napas memburu. Meniup poninya yang menutupi matanya dengan dongkol.
Alif terdiam mendengar itu. Tidak pernah terpikirkan seperti itu sebelumnya.
"Lo juga?!" Aura mendelik kesal. "Kenapa senyum-senyum sama sepupu gue, hah?! Caper, ya, lo!" todong Aura dengan jari telunjuknya.
Alif di depan wanita itu menahan napas. Menurunkan tangan Aura perlahan-lahan dan sekali sentakan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Dan bergumam, "Maaf."
Aura mengerjapkan matanya lemah.
"Maaf, maaf. Karena aku nggak tau kalau kamu punya niat baik buat balaskan dendam ke Andy karena perbuatannya ke aku," ujar Alif pelan.
Mengendurkan pelukan mereka. Menangkup pipi Aura. "Tapi sekali lagi kamu jangan nekad kayak tadinya. Aku nggak suka kamu di tindih-tindih sama Andy," ucap Alif. Memajukan wajahnya mendekat ke wajah Aura. "Soalnya, cuman aku yang boleh nindih kamu." sambungnya.
"Apaan, sih?!" Sekali hentakan Aura menjauhkan wajah Alif dari depan wajahnya. Mendadak wajahnya memanas seketika. Apalagi melihat Alif yang kini tersenyum menyebalkan.
"Lah, aku bener kan?" tanya Alif. "Aku ini suami kamu, jadi sah-sah aja kalau mau tindih kamu. Bahkan lebih dari itu dapat pahala yang lebih gede lagi," tutur Alif. Semakin mengembangkan senyumannya.
Aura mendengkus kasar. "Ngaco lo," balasnya memalingkan wajah ke samping.
Dan akhirnya permasalahan hari ini selesai. Dengan cara ke cemburuan mereka yang masing-masing. Ujungnya di perbaiki dengan cara yang unik.
"Aaaa! Alif, turunin gue?!" pekik Aura ketika tubuhnya terangkat.
Alif menggeleng dengan wajah merah padam karena menahan bobot badan Aura yang tidak di bilang ringan. "Nggak mau! Temenin aku mandi!"
"Nggak adanya, Lif! Gue udah mandi," larang Aura.
Tapi semuanya pupus saat Alif menurunkan dia di atas shower. Dan detik itu air menggunyur tubuh keduanya. Alif tertawa renyah melihat wajah kesal Aura.