“Sakit?” Aku menggelengkan kepala. Gegas berjalan ke arah sofa lalu menghempaskan bokongku di sana. Pikiranku masih bertalu-talu membayangkan proses persalinan yang akan segera datang menghampiriku. Kadang aku meringis, kadang aku merapatkan kedua kakiku, seakan apa yang diceritakan Nabila aku alami sendiri, detik itu juga. “Aaaa …” teriakku menggigit bantal sofa. Ummi Hanifah dan Zayyan terperanjat, gegas mendekat. “Ada apa, Nak?” tanya Ummi Hanifah mendahului Zayyan. Seketika aku histeris menarik-narik lengan ibu mertuaku. “Ummi, aku gak mau melahirkan. Aku gak mau sakit. Ummi, tolong aku,” cerocosku histeris sendiri. “Perlu di rukyah ni. Takut setannya malah agresif, kasihan bayi dalam perut,” ujar Ummi Hanifah. “Ummi, apaan sih? Aku bukan kerasukan setan,” protesku mencebik seba

