“Mama.” Gegas aku turun dari motor, berlari menghampiri mama yang tengah membeli takjil. “Mama.” Rasa rindu melebur begitu cepat. Begitu dia membalikkan tubuhnya, kedua tanganku terulur hendak memeluk tubuhnya, tapi malah memeluk angin saat seorang perempuan sebayaku memasang badan. “Ya elah, elo lagi.” Aku berdesis sebal melihat Miska, saudara tiriku yang selalu bersikap posesif terhadap mama. Dia yang menguasai Mamaku, padahal aku sendiri yang keluar dari pabriknya bukan Miska. Tapi apa boleh buat, Mama terlalu cinta dengan Om Irfan sampai menjadikan Miska begitu spesial di hatinya. “Ngapain ke sini?” tanya Mama menatapku. “Lagi ngabuburit. Ma, sini dong, aku mau peluk Mama,” pintaku sedikit merengek, berharap Mama mau menyingkirkan Miska dan memelukku. “Sudah besar, ngapain dipel

