Tak Disangka

1161 Kata
Beribu tanya tentangmu Beribu sangka tentangmu Semua tak ku mengerti Lamunan ku buyar saat Rendi mulai berbicara. Tapi aku tak mengerti apa yang dibicarakannya. Adakah dia menyembunyikan hal lain lagi? "Erna, aku minta maaf. Aku berkali-kali merepotkan- mu. Aku tak bermaksud begitu." kata-kata Rendí membuatku bingung. "Ada apa denganmu, Ren? Masalah ibu tiri kamu lagikah? Atau ada masalah lain?" tanyaku bertubi-tubi. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." katanya dengan lesu. "Lalu, apa maksudmu menarik tanganku? Sumpah tadi aku kaget loh kirain siapa yang narik" tanyaku penuh rasa ingin tahu. "Aku hanya ingin sesaat bersamamu. Bisakah kau menemaniku walau hanya 5 menit?" pinta Rendi penuh harap "Aku hanya mau duduk bersamamu di sini. Aku .." kalimatnya menggantung. "Kamu jangan membuatku penasaran, Ren. Ada apaan sih?" kataku kebingungan menghadapi sikap Rendi yang aneh. Jarum jam terasa berjalan begitu lambat, padahal Rendi hanya meminta lima menit saja waktuku. Berkali-kali kulirik jam tangan milik Rendi, perasaan jarum jamnya tetap tak bergerak sampai akhirnya Rendi beranjak mengajakku pulang. "Aku antar, ya!" pinta Rendi. "Tak usah. Kamu langsung saja pulang. Segeralah beristirahat agar besok segar kembali!" saranku pada Rendi, sengaja aku menghindar agar dia tidak mengantarku pulang. "Kalau begitu aku antar sampai depan. Kamu naik angkot, aku langsung pulang." pintanya, permintaan Rendi tak mungkin lagi bisa kutolak terpaksa aku menyetujuinya. Depan papan nama SMA aku menunggu angkot ditemani Rendi. Tak lama angkot pun datang. Aku pamit padanya, Rendi pun melambaikan tangan. Kulihat dia pergi ke arah yang berlawanan. Kupandangi dia sampai akhirnya tak terlihat lagi. Keesokan harinya Rendi tak masuk sekolah. 'Aku bertanya-tanya kemanakah dia? Apa yang terjadi padanya? Rendi ada apa denganmu?' Tati, teman sebangku Rendi seperti merasakan kepenasaranku. Dia menghampiri dan duduk di sebelahku. "Kamu mencari Rendi?" tanya Tati. "Kamu tahu dia dimana?" tanyaku balik bertanya. "Dia di kostannya." jawab Tati pendek. "Hah? Mengapa ngekost? Bukankah dia tinggal dengan orang tuanya ya?" tanyaku lagi penuh rasa penasaran. "Sejak ayahnya menikah lagi dia lebih memilih untuk kost daripada tinggal bersama mereka." jawab Tati seolah dia tahu banyak hal tentang Rendi. Obrolan kami terpotong bel yang berbunyi nyaring dan panjang tanda masuk kelas. Kuperhatikan satu demi satu guru yang menerangkan di depann kelas. Kubiarkan fokus hanya pada mereka walau lamunan dan otak ini hampir semua tertuju pada Rendi. Aku takut terjadi hal yang tak diinginkan. *jiak ngapain kamu mikirin si Rendi Erna? Suka nih ma dia? wokeh see markijut epribadeh Waktu Asar sudah tiba, lebih baik aku segera bersujud di hadapan-Nya. Air wudu yang membasuh wajah terasa begitu menyegarkan. Seakan segala pikiran luruh bersama jatuhnya air wudu. Salat kali ini terasa begitu nikmat, terasa sekali Allah begitu dekat. Tak terasa air mata jatuh berderai membasahi sajadah tempatku bersujud, dalam sujud kuberdoa untuk Rendi. Doa yang meluncur dengan mulusnya. 'Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu harapkan dan mendapatkan yang terbaik, Ren. Aamiin.' Terasa nyaman setelah berdoa. Seminggu sudah Rendi tak masuk sekolah. Tidak ada kabar. Dia hanya mengirimkan surat yang dititipkan pada Tati berisi ijin tidak masuk sekolah karena sakit. 'Dia sakit apa? Apa parah kah? sampai berhari hari bahkan seminggu tak masuk? Ah sudahlah ngapain juga di pikirin sih, mungkin dia sedang tak ingin diganggu siapapun.' Seiring waktu aku mulai melupakan masalah Rendi. Kini aku diajak Wati untuk mengikuti ektrakurikuler yang diikutinya. Dia sebenarnya sih sudah masuk menjadi anggota Pramuka. Pramuka sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler mempunyai bidanglain yang banyak peminatnya yaitu bela diri. Wati mengajakku untuk mengikuti ekstrakulikuler tersebut. Aku menerímanya karena tak ada salahnya bila ada kegiatan lain yang mendukung selain belajar. Wati memberitahuku bahwa latihan akan dilaksanakan setiap hari Selasa sepulang sekolah. Bel tanda pulang berbunyi mendayu-dayu. Kami pergi ke toilet putri bersiap ganti pakaian olahraga untuk latihan hari ini. "Erna, ayo ganti baju dulu!" ajak Wati padaku. "Ayo!" jawabku sambil berlari menuju toilet putri. "Cepat, cepat lari dulu 5 putaran!" seru kakak pembina. "Sebelumnya, mari kita berkumpul di sini untuk berdoa sesuai kepercayaan masing masing!" ajaknya. Selesai berdoa kami pemanasan terlebih dahulu dengan berlari kecil mengitari lapangan volley ball. Kami melanjutkan dengan senam pernafasan untuk merilekskan tubuh agar siap latihan. "Ayo, Adik-adik buat barisan. Rapihkan barisannya lalu rentangkan tangannya agar tidak saling bersinggungan satu sama lain!" perintahnya pada kami sambil terus memberikan komandonya. Kami memulai latihan pernafasan perut lanjut setengah perut satengah d**a sampai akhirnya pernafasan d**a. Hawa panas menjalari perut dan dadaku. Itu artinya latihan pernafasannya sudah benar. Sekilas kulihat bahwa seperti ada seseorang tengah memperhatikan latihan kami di balik pohon besar depan ruang guru. 'Rasanya aku kenal bayangan orang itu, tapi siapa? ah iya kalau tak salah .. Itu Rendi. Tapi ngapain dia kayak sembunyi sembunyi kaya gitu?Ngapain coba' Azan Maghrib sudah berkumandang tandanya kami harus mengakhiri latihan. Rendi menghampiriku dengan senyum manisnya. "Ren, kapan kamu datang?" tanyaku basa-basi. "Sudah dari tadi. Aku memperhatikanmu mulai dari masuk toilet sampaiselesai latihan." jawabannya membuat- ku tak bisa lagi berkata-kata. "Salat dulu ya, Ren!" ajakku pada Rendi. "İya." jawabnya sambil mengiringi langkahku. Selesai salat Rendi mengajakku masuk sebuah warung makan. "Makan dulu!" ajaknya. Aku mau menolak tapi dia sudah duduk dan memesan makanan. Kan ga enak, jadi ya udah lah. "Kamu mau makan apa?" tanya Rendi. "Apa saja yang penting enak." jawabku sambil duduk di depan Rendi. Rendi memesan nasi putih dan ayam goreng komplit 2 porsi serta 2 gelas air jeruk hangat. "Ren, kemana aja kamu tak masuk sekolah? Sampe seminggu pula, katanya sakit. Sakit apa? Parah kah? Kamu sampai di rawat?" tanyaku beruntun. "Satu satu dong tanyanya." jawab Rendi sambil tersenyum menggodaku. "Aku kerja." jawabnya membuat alisku terangkat. "Tapi aku pasti meneruskan sekolah kamu jangan khawatir." jawab Rendi menghilangkan rasa khawatirku. "Syukur deh, kalau begitu. Bagaimana pun juga sekolah harus tetap diutamakan. Kamu bisa kerja sambil sekolah. Tapi sebenarnya aku berharap Kamu selesaikan dulu SMA-nya baru kerja. Kan pendidikan nentuin besar gaji" omonganku seperti seorang ibu pada anak-nya. "Kamu tenang saja. Aku masih waras, kok." kata Rendi berusaha menghilangkan kekhawatiranku. "Eh, Ren. Aku tak bawa uang untuk bayar makan. Mending gini deh besok aku ganti ya" kataku penuh kejujuran dan rasa sungkan "Jangan khawatir. Aku tahu, kamu tak punya uang selain untuk ongkos. Udah gausah di ganti cantik" seloroh Rendi sambil tertawa. "Terima kasih makan malamnya, Ren!" kataku pada Rendi terdengar sekali basa-basinya. "Aku akan mengantarmu pulang." kata Rendi. "Tak usah, Ren." elakku "Ayo!" Rendi memegang tanganku untuk ikut naik motor bersamanya. "Aku tak bisa. Gapapa pake angkot aja" kataku berusaha menolak ajakannya. "Yailah Na anggap aja aku tukang ojek. Kamu gak perlu berpegangan bila merasa sungkan. Ayo keburu malem" kata Rendi seperti tahu isi hatiku. Aku berusaha untuk tidak mempunyai perasaan lebih selain teman. Aku merasa nyaman bila hanya sebatas teman. Tak perlu ada komitmen tak perlu merasa canggung. Aku tak mau terbawa perasaan. Bagiku masa SMA bukan saatnya untuk pacaran, apalagi dalam kamusku tak ada kata pacaran. 'Maafkan aku Ren, aku tak bisa menganggap mu lebih dari seorang teman. Kamu bebas curhat bersamaku, menjadikan ku sandaran, tanpa harus merasa sungkan, namun untuk hubungan yang lain aku rasa itu tak bisa ku lakukan. Tak perlu takut tak dihargai, karena aku temanmu, Rendi'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN