Teman janganlah kau salah sangka
Teman aku mencintaimu karena kamu temanku
Tapi maaf aku tak ingin ada ikatan
Sayup-sayup di kejauhan terdengar suara mengaji. Alunan suaranya begitu merdu sekali. Kupaksakan diri untuk segera bangun agar dapat salat tahajud walau hanya beberapa rakaat.
Semilir angin subuh di musim kemarau terasa begitu kering dan dingin. Air wudu yang membasuh mukaku terasa bagai air es. Aku segera mengeringkan wajah dan tangan lalu memakai mukena agar tubuh tidak kedinginan.
Hari Minggu ini rasanya aku ingin bermalas-malasan, lepas dari menjalankan rutinitas belajar setiap hari. Ibuku seolah mengerti keinginan anaknya, dia membiarkanku tiduran setelah selesai salat Subuh. Ekstrakurikuler juga tidak ada jadwal latihan jadi hari ini bebas.
Sekira jam 8 aku mendengar suara motor yang mendekat Kutengok dari jendela, benar saja ada sepeda motor yang tengah di parkir di depan rumah. 'Siapa gerangan pstpagi begini datang bertamu?'
Tak lama berselang pintu ada yang mengetuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."suara yang mengucapkan salam. Sepertinya kenal dengan suara itu.
'Ah, Rendi, tapi mau apa dia pagi-pagi datang bertamu? lagipula bukan nya gak ada pekerjaan rumah kelompok kan?'
Aku segera mendekati pintu untuk membukanya, sambil menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam. . ."
"Pagi, Erna!" sapanya sambil tersenyum
"Pagi, Rendi. Ada apa pagi-pagi datang ke rumahku? ada tugas kelompok kah?" jawabku sambil terus bertanya.
"Boleh, aku masuk dulu?" tanyanya.
Ibuku yang mendengar ada suara dari depan segera menghampiriku. Dia bertanya siapa yang datang.
"Erna, ada tamu? Siapa yang datang? tanya ibuku.
"Rendi, temanku, Bu." jawabku setengah berteriak.
"Suruh masuk. Sekalian bawa air sama cemilannya, nih!" suruh ibuku.
"Iya, sebentar, Bu." jawabku sambil mempersilahkan Rendi masuk sedangkan aku langsung pergi ke dapur untuk mengambil air dan cemilannya.
Aku duduk setelah selesai menghidangkan semua sajian lalu bertanya pada Rendi.
"Ren, Kamu mau apa sih datang pagi-pagi ke rumahku? Ada tugas baru kah?" tanyaku penuh selidik.
"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan." jawab Rendi ringan.
"Hah? Oh aku malas keluar, ah." jawabku tak bersemangat.
"Ayolah! Ada yang ingin aku tanyakan padamu." rajuk Rendi penuh harap.
"Mau tanya apa, sih? Di sini saja kan bisa. Untuk apa pergi keluar? Jangan aneh aneh deh Rendi. Jangan bikin pikiran ku mikir yang lain" jawabku dengan memberikan pertanyaan.
"Pokoknya kita harus keluar. Tak enak bicara di sini. Aku tak bebas untuk membicarakannya. Aku mohon." pinta Rendi penuh harap sambil menyatukan dua telapak tangan di dadanya.
"Iya, iya. Ya sudah iya ayo" jawabku. Aku merasa tak enak dengan sikapnya yang seperti itu.
Dandan alakadarnya lalu langsung menemui Rendi.
"Ayo, Ren!" ajakku pada Rendi.
Aku menemui ibu untuk berpamitan, setelah mencium punggung tangannya dan mengucapkan salam kami pun berlalu.
Rendi mengendarai motor menuju ke arah selatan tepatnya menuju perkebunan teh. Hawa dingin suasana pegunungan mulai menelusuri jaketku. Sinar matahari memantul dari daun teh yang terkena cahayanya menambah semarak suasana pagi menjelang siang di perkebunan. Canda tawa para pemetik teh menambah hidup suasana damai pegunungan. Sejenak kekagumanku pada semesta menyeruak. Tak terasa bibirku berbisik 'Masya Allah, sungguh indah ciptaan Engkau, yaaAllah.'
Rendi memarkir motornya di salah satu lembah hijau perkebunan teh.
"Kita istirahat di sini." katanya membu- yarkan lamunanku.
"Eh, sudah sampai, ya?" tanyaku gelagapan.
"Kenapa? kamu melamun dari tadi?" canda Rendi.
Aku tak membalas candaannya hanya sekilas memalingkan wajah mengalihkan pandangan ke arah kebun teh yang hijau.
"Foto-foto di sini asyik juga, nih." kataku.
"Boleh. Kebetulan aku bawa kamera." jawab Rendi.
"Wah, Kamu benar-benar niat ya, sampe bawa kamera segala. Persiapan mau piknik, ya kamu?" kataku mencandainya.
"Iya, dong. Masa bawa pacar tidak persiapan." kata Rendi membuatku terkesiap.
"Apa .?" kataku tak percaya.
'Mengapa Rendi mempunyai pemikiran seperti itu. Wah bahaya.'
"Kenapa, Kamu 'kan pacar aku." Rendi terus menggodaku.
"Kamu seenaknya saja membuat pernyataan. Kapan Kamu menyatakan cinta pada aku? Jangan mengarang, Kamu." aku berusaha menutupi perasaan yang mulai tak nyaman.
"Tenang saja, Sobat aku hanya bercanda." kata Rendi mencairkan suasana.
Aku tak mengerti perkataan Rendi, membingungkan. Aku menjadi pusing karenanya.
"Sudah, kita nikmati piknik saja! Refreshing dari rutinitas belajar di sekolah." ajak Rendi sambil berlari ke lereng perkebunan teh.
Suara daun pinus yang bergesek menambah alunan musik alam semakin merdu. Sayup-sayup terdengar suara burung berkicau di kejauhan. Burung-burung pipit berkejaran seolah sedang bercengkrama dengan pasangannya. Mereka melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Pemandangan alam yang sangat menakjubkan, sangat jarang terlihat di kota besar.
Aku mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati persembahan Yang Kuasa. Angin pegunungan yang menerpa wajah mendinginkan hati yang sedang galau.
"Ren .! kataku pelan.
"Apa?"
"Aku tak mau hubungan baik yang sudah terjalin menjadi rusak karena perasaan hati yang sudah berubah." ungkapku pada Rendi.
"Jangan khawatir aku tak akan minta lebih padamu." kata Rendi.
"Aku harap, kamu bersikap seperti biasa saja. Jangan terlalu mengumbar perasaanmu. Aku takut tak bisa mem- balas semua perasaanmu." curahku pada Rendi.
"Aku tak mau kita berpacaran. Bagiku masa SMA bukanlah masa untuk berpacaran. Masa SMA harusnya diisi dengan hal-hal yang akan menjadikan masa depan kita jadi lebih baik atau paling tidak sama seperti yang sudah diperoleh oleh orang tua kita. Aku tak mau di tengah kita bersuka cita berpacaran timbul konflik yang akan membuat kita hancur. Lebih baik sekarang kita mengukir prestasi sebagai bekal kehidupan kita dewasa kelak. Aku tak mau kecekcokan kita saat pacaran mengganggu aktivitas belajar, menurunkan prestasi. Jadi untuk apa kita berpacaran?" curahan hatiku meluncur tanpa bisa dibendung lagi. Rendi menatapku lama sekali.
Entah apa yang ada dalam pikirannya. Entah penyesalan atau kekaguman akan semua kata-kata yang kucurahkan. Setelah menarik nafas panjang Rendi mulai mengungkapkan isi hatinya.
"Erna, aku kagum padamu. Seorang anak SMA yang baru masuk tapi pemikirannya sudah jauh ke depan. Aku sendiri tak punya pikiran seperti itu. Sungguh, aku salut padamu. Aku jadi makin suka sama Kamu tapi sayang sepertinya perasaan ku tak mendapat balasan yang kuharapkan. Aku cukup merasa senang dengan penerimaanmu seperti ini. Tak pernah aku punya teman perempuan yang dewasa seperti kamu. Terima kasih sudah mau menjadi temanku." balas Rendi dengan panjang lebar.
*kuat kali kamu Erna, padahal Rendi itu baik loh
Rendi mengeluarkan bekal yang dibawanya. Beragam camilan keluar mulai dari yang asin sampai yang manis semua tersedia.
"Sudah ah, curhatnya. Sekarang kita nikamati piknik ini. Sayang pemandangan yang indah ini bila kita lewatkan begitu saja." kata Rendi berusaha membuatku nyaman kembali.
"Terima kasih Ren, atas pengertiannya. Maaf sekali lagi aku tak bisa menjadi pacarmu. Tapi tenang saja kita masih bisa berdiskusi tentang berbagai hal, mau pelajaran, keluarga atau cari-cari pengganti aku." kataku berseloroh mencandai Rendi.
"Aku suka sama tawaranmu. Oke. Pokoknya kalau aku ada perlu pasti orang pertama yang kumintai pendapat adalah Kamu." kata Rendi sambil menunjuk ke arahku.
"Siap, Bos." kataku sambil tertawa yang dibalas tawa juga oleh Rendi.
Hari semakin panas, kulirik jam tangan milik Rendi menunjukkan pukul 11. Pantas saja panasnya sudah mulai terasa. Rendi bersiap untuk mengantarku pulang. Perjalan panjang yang kami lalui membuat perut kami bersuara minta diisi. Rendi membelokkan motornya menuju sebuah kedai bakso: Bakso beranak pedas Mas Anto.
"Kita makan bakso dulu!" ajak Rendi.
"Kata temanku baksonya enak dan harganya bersahabat." lanjutnya.
Rendi langsung masuk ke kedai bakso dan mencari tempat duduk yang nyaman dengan pemandangan yang sejuk. Seorang pelayan menghampiri dan Rendi langsung memesan bakso biasa tanpa rasa pedas agar kepedasannya bisa diatur sendiri.
Dua mangkok besar berisi bakso beranak, kuah bening yang begitu menggoda ditambah aroma kaldu dan bawang gorengny membuat perut kamu tak kuasa menahannya lebih lama lagi. Aku langsung menyambar sendok dan garpu. Kucicipi rasa original kaldu bakso yang tersaji, rasa gurih dipadu rasa asin yang tidak terlalu dominan membuat lidahku terasa dimanja. Aku menambahkan rasa pedas dan asam cuka untuk menambah kekayaan cita rasanya, tapi kalau kecap tak begitu suka.
Setelah mendapatkan rasa yang pas langsung saja mie bakso meluncur ke mulut bergoyanglah lidah dengan berpadu gigi yang melumata semua campuran bakso tidak lupa butiran bakso satu per satu meluncur dengan bebasnya. Peluh yang dihasilkan rasa panas bakso bercampur suasan hari yang panas berpadu sempurna membuat aku kewalahan mengatasinya. Kuambil tissue untuk menyeka keringat yang ber- cucuran disertai kucuran dari hidung yang mulai beraksi. Ramai sekali suasana makan bakso kali ini. Aku tak perlu risi dilihat oleh Rendi di kursi depan. Rendi menanggapinya hanya dengan tersenyum dan merasa bahwa dia puas telah membawaku ke tempat kesukaannya.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak!" kata Rendi memperingatku.