Entah apa yang kau pikirkan, teman
Entah apa yang kau rancangkan, teman
Adakah kau bersiasat, teman
Acara jalan-jalan bersama Rendi menegaskan bahwa hubungan antara kami berdua just a friend, hanya sebatas teman saja. Aku bersyukur Rendi mau mengerti dan meluluskan permintaan sebagai sahabat.
Kami saling mendukung hampir dalam berbagai hal, tak hanya urusan belajar bahkan dalam urusan asmara pun tak luput dari saling dukung. Terasa lebay memang. tapi begitulah kami saat sekarang.
Ketika ada mata pelajaran yang harus dikerja secara berkelompok Rendi pasti memasukkan namaku dalam kelompoknya. Entah posesif atau apa namanya pokoknya dalam berbagai hal bila kami harus bergabung maka tak ada yang bisa memisahkan. Sikap Rendi yang seperti itu tidak membuatku merasa terdominasi, tapi malahan merasa lebih terlindungi. Apalagi bila harus jalan malam atau jarak yang jauh dari rumah, aku tak perlu takut karena Rendi dengan sukarela akan mengantar dan menjaga. Kalau di pikir-pikir seperti yang sedang pacaran.
Sikap Rendi bukan hanya menimbulkan gosip tapi membuat para siswi yang naksir dia langsung menjauh karena disangkanya kami pacaran. Padahal untuk apa takut, aku tidak akan melarang siapapun untuk dekat dengan Rendi. Tapi ada keuntungannya bagi diriku, karena para siswa tidak berani mendekatiku karena takut sama Rendi.
Ternyata tidak semua teman sekelas takut untuk naksir padaku. Buktinya sahabat dia yang bernama Soni rajin sekali tebar pesona. Bukan sekali dua kali dia berusaha cari perhatian tapi hampir setiap ada kesempatan pasti dia caper (cari perhatian).
Saat kelas kosong karena gurunya sedang ada keperluan Soni sengaja memperhatikan ke arah meja kami dan itu disadari sekali oleh Wati sahabatku.
"Erna, Kamu merasa ada yang aneh tidak?" tanya Wati.
"Aneh!? Apanya yang aneh Wat?"tanyaku balik bertanya.
"Itu, si Soni dari tadi melihat ke arah kita terus." kata Wati menjelaskan
"Ha? Mungkin dia naksir sama kamu, Wati." jawabku sambil cekikikan.
"Bukan ish. Dia bukan melihatku tapi. . . dia melihatmu" kata Wati lagi.
"Biarkan saja lah, tak usah di ladeni, dah jangan liat dia lagi udah." jawab ku tak mempedulikan.
Sejurus kemudian Soni melemparkan bulatan kertas ke meja kami. Kami terkejut dibuatnya. Kemudian aku membalikkan tubuh dan mendapati Soni tengah senyum sambil memberikan isyarat bahwa dia yang melempar kertas dan menyuruhnya untuk membaca isi tulisannya.
"Soni mau apa sih? Ada-ada saja." Wati segera mengambil kertas yang dilempar oleh Soni, lalu membuka dan membacanya.
'Salam sama teman sebangkumu yang rambutnya sebahu'
Itulah isi dari tulisan di kertas tadi. Wati langsung cekikikan dan menepuk pundakku.
"Erna, betul kan, apa kataku." kata Wati sambil masih cekikikan, tangannya memegang perut dan mulutnya karena merasa kegelian.
"Apa? Kamu, jangan anggap serius, ah, udah lah." kataku ketus.
"Haha Na dia sudah terang-terangan loh ngakuin kalo dia suka sama Kamu." kata Wati lagi menjelaskan.
"Dia salah lihat orang, salah tunjuk orang. Maksudnya kamu bukan aku." aku masih berusaha mengelak.
"Kamu tak percaya? Aku bisa tanya langsung sama si Soni, mumpung dia ada." kata Wati sambil berdiri hendak menghampiri meja Soni.
"Jangan lah!" cegahku
"Malu, tahu. Apa-apaan, Kamu. Sudah biarkan saja ish!" seruku sambil menahan tangannya.
Tak disangka Soni dan Deni teman sebangkunya menghampiri meja kami. Dia berdiri di hadapan kami.
"Erna, ada yang mau dia katakan." kata Deni sambil menunjuk pada Soni.
"Ayo ngomong, Son. Nanti keburu disambar orang baru tahu rasa." kata Deni lagi.
Tapi rupanya Soni bukan orang yang percaya diri juga, buktinya dia hanya tersenyum tapi tak mengeluarkan sepa- tah kata pun.
Beberapa saat kemudian Rendi menghampiri kami.
"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini? Sedang membicarakan sesuatu?" tanya Rendi.
"Tak, tidak ada apa-apa ko." Jawabku.
"Kalau tak ada apa-apa, untuk apa kalian di sini? tanya Rendi sambil menunjuk pada Deni dan Soni.
"Ini kami mau mendiskusikan tentang pelajaran Sejarah yang akan kita presentasikan minggu depan." kata Deni mengalihkan pembicaraan.
"O000." hanya itu yang keluar dari mulut Rendi.
"Memangnya kenapa, kan sudah jelas pembagian kerjanya? Ada yang mau di rubah lagi? Ada yang keberatan?" tanya Rendi penuh keheranan.
"Tidak, hanya ini untuk referensi dari makalah yang akan kita sajikan nanti dimana mencarinya? Sepertinya di perpustakaan tak ada referensi yang detail." kata Deni, pandainya dia mengalihkan pembicaraan.
"Begini saja. Soni, Kamu 'kan punya referensi yang lengkap. Bagaimana kalau kita mengerjakan makalahnya di rumahmu?" usul Rendi.
Aduh, aku langsung tepok jidat, dalam hati aku berkata, 'Bagaimana ini, masa di rumah Soni. Yang benar saja. Astagfirullah. Aku harus bagaimana?'
Wati yang memahami kesulitanku langsung angkan bicara.
"Bagaimana kalo kita kerjakan di sekolah saja." usul Wati.
"Kalau di sekolah, aku harus bawa bukunya ke sini dong. Repot, Wat, mana banyak lagi, berat nanti." jawab Soni.
"Sudah di rumahku saja." sergah Soni lagi.
"Ya, di rumah Soni saja. Tenang saja kalau pulang malam nanti ada yang mengantar kalian dengan selamat sampai di rumah." sela Deni sambil tersenyum simpul.
"Ya, tenang saja, Na. Aku bisa antar Kamu pulang." timpal Rendi.
'Astagfirullah, hah sudah mati aku. Tak bisa lagi membuat alasan untuk menolak ajakan mereka. Aduh bagaimana ini?'
Sepulang sekolah kami langsung menuju rumah Soni. Aku dibonceng Rendi sedangkan Wati bersama Deni dan Soni, dia sendiri.
Tak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke rumah Soni, karena dia tinggal di kawasan tersebut. Rumah megah yang besar membuat hatiku ciut dan ingin segera meninggalkan tempat itu. Tapi apa daya, aku harus mengerjakan tugas sekolah. Aku yang menjadi sumber ide dari makalah ini mau tak mau harus menjadi orang yang paling bertanggung jawab.
"Kenapa harus aku?" batin Erna dalam hati.
"Ayo masukl" ajak Soni pada kami.
"Mbak, tolong buatkan minuman buat kami, sekalian sama makanannya!" pinta Soni pada Mbak Nina setengah berteriak.
"Ya, Den." jawab Mbak Nina.
Tak lama kemudian sebuah nampan besar berisi minuman dan makanan datang ke meja tamu. Camilan yang datang langsung diserbu bagaikan orang yang kelaparan. Satu per satu makanan dimasukkan ke dalam mulut sam- bil bercengkrama. Entah kapan mau membahas 'Sejarah'. Mereka seperti tak peduli dengan tugas yang harus disele- saikan. Mungkin karena tugasnya juga baru dikumpulkan minggu depan, jadi masih ada waktu.
Aku dari tadi celingukan mencari anggota keluarga yang lain. Tapi sejak kami masuk tak kulihat siapa pun selain Mbak Nina. Hingga timbul pertanyaan di benak ku.
'Apakah penghuni rumah ini hanya dia bersama pembantunya?'
Karena sedari tadi tak ada yang ingat akan tujuan semula datang ke rumah ini, aku memberanikan diri menanyakan.
"Kapan kita akan mengerjakan tugas Sejarah nya?" tanyaku memecah keasyikan mereka pada makanan.
"Sebentar lagi azan Maghrib. Nanti selesai salat kita makan dulu baru mengerjakan tugas Sejarah." kata Soni.
"Wah, aku bisa kemalaman,dong kalo gitu!" seruku mulai khawatir.
"Tenang. kamu kan, mempunyai bodyguard sekaligus boyftriend." kata Soni sebari menaik turunkan sebelah alisnya menggodaku.
"Maksudmu? Memang siapa yang kamu maksud?" tanyaku.
"Aku." jawab Soni penuh percaya diri.
Aku tak berani lagi menjawab ataupun menolak kata-kata Soni, kalau diteruskan bisa tambah panjang.
"Sudah, jangan khawatir. Aku siap mengantar pulang!" seru Rendi tak kalah menggodanya dengan Soni.
"Kalau kamu takut sama Soni, bersamaku lebih aman." kata Rendi lagi tak henti-hentinya menggodaku.
Aku tak meladeni candaan mereka. Aku langsung menghampiri Mbak Nina untuk menanyakan toilet. Mbak Nina langsung membawaku ke toilet bersama Wati. Kami berjamaah salat Maghrib jama Isya lanjut makan malam. Kami langsung larut dalam tugas di perpustakaan milik Soni. Perpustakaannya cukup lengkap apalagi tentang Sejarah, mungkin karena orang tuanya seorang Guru Besar Sejarah di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di kota ini.
Referensi yang lengkap memudahkan kami dalam membuat tugas. Kami tidak harus bolak-balik mencari buku karena buku yang kami butuhkan semua tersedia. Draft makalah sudah selesai tinggal mempercantiknya dalam bentuk tulisan ilmiah. Itu menjadi tugas Soni, artinya kami sudah bisa pulang dan beristirahat.
Tiba-tiba gawai Rendi berdering. Rendi cepat-cepat mengangkat gawainya dan dia terlihat khawatir sekali.
"Ada apa, Ren?" tanyaku ikut khawatir.
"Ini Ibuku masuk rumah sakit, jadi aku harus cepat-cepat pulang. Aku tak bisa mengantarmu pulang, Na." katanya seperti merasa bersalah.
"Tak apa, jam segini masih banyak angkutan, kok." jawabku menenangkan.
"Justru itu aku makin tak tenang bila Kamu pulang naik angkutan umum. Kamu pulang diantar Soni saja, ya!" perintahnya.
'Ah, mengapa musti Soni. Aku harus bagaimana bila Soni yang mengantarku, ah Ya Allah.'
"Sudah, Kamu aman bersama Soni. Dia tak mungkin membuatmu terluka." kata Rendi membuatku tak bisa berkutik
"Ya sudah, aku pulang dulu." kata Rendi sambil beranjak dari ruang perpustakaan.
Tak lama kemudian Deni dan Wati juga berpamitan. Kini tinggal aku dan Soni.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Soni basa-basi.
"Ya." jawabku pendek.
Soni menggangguk dan segera beranjak mengambil kunci dan menuju ke garasi. Dia masuk ke mobil merah dan menghidupkan mesinnya. Deru suara mobil mulai memenuhi parkiran. Kulihat Mbak Nina vang pergi ke depan untuk membuka pintu pagar. Akupun akhirnya masuk ke mobilnya.