Bila idealisme dan realita hadir dalam waktu yang bersamaan
Dilema adalah hasil dari keduanya
Jadi apa yang harus dilakukan?
"Biasanya kalau sudah jam 8 malam sudah tak macet lagi, ya?" tanya Soni memecah keheningan perjalanan.
"Ya." jawabku pendek.
"Ngomong-ngomong kita mau lewat mana? Ke arah timur apa apa langsung ke selatan?" tanya Soni menanyakan jalur yang akan dilalui.
"Langsung saja ke arah selatan. Kalau jam segini karyawan pabrik sudah pada pulang." jawabku memberikan alternatif.
"OK." jawab Soni tersenyum sambil melirik ke arahku.
"Di mana alamat rumahnya?" tanya Soni lagi.
"Jalan Anggrek Nomor 5." jawabku.
"Siap, meluncur." goda Soni padaku.
Kota tua di waktu malam sangat indah. Pancaran sinar cahaya lampu berpendar ke sekeliling menambah pesonanya. Hilir mudik orang-orang yang berkeliaran di sana menjadikan hidup kota semakin ramai. Pedagang kaki lima dengan beragam dagangannya menjadi alternatif wisata di kota tua, apalagi kulinernya.
Sebenarnya ingin sekali aku menyambangi kota tua untuk sekedar berjalan-jalan tapi tak enak bila minta pada Soni untuk berhenti. Rupanya Soni paham akan keinginanku. Dia segera mencari tempat parkir lalu mengajakku berjalan-jalan.
"Ayo kita jalan-jalan!" ajak Soni setelah mematikan mesin mobil.
"Kemana? Mau apa?" tanyaku polos.
(aduh kalo saya di posisi Erna, nemu lakik ke Soni seneng bgt dah. Peka soalnya dia /wink)
"Jalan-jalan. Siapa tahu kamu mau belanja dulu." selidik Soni sambil menatapku.
"Aku tak punya uang." jawabku asal bicara.
"Tenang saja Nona cantik, aku yang bayar kalau kamu mau belanja." sambut Soni.
"Aku tak mau berhutang." elakku.
"Aku tak meminjamkan nya Na. Anggap saja sebagai rasa terima kasih aku karena kamu sudah membantu membereskan tugas Sejarah tadi." jawabnya mendesakku.
Aku langsung meluncur mencari barang yang sudah lama diimpikan. Tapi Soni mengajakku ke tempat bubur kacang langgananku.
"Sini dulu. Aku ingin makan bubur kacang. Sepertinya enak!" ajak Soni sambil menarik tanganku.
(heh Erna, kmu ya. Boncengan sma si Rendi ga mau kena, ko skarang ga nepis tangan si Soni sih? wkwk lanjut)
Walau merasa kaget aku mengikuti langkahnya menuju ke stand tukang bubur kacang. Bubur kacang yang kental dipadu ketan hitam lalu disiram santan kental membuat air liurku meluncur, untung saja tidak sampai ngeces. Aku tertawa geli dengan kelakuan diri sendiri.
Mangkok bubur tandas semua isinya beralih ke perut. Aku mengusap-usap perut tandanya kenyang. Diam-diam Soni memperhatikanku.
"Kenyang?" tanya Soni.
"Ya. Terima kasih, Soni." jawabku dengan kocak. Soni tergelak mendengar jawabanku.
"Nah lalu apa yang akan kamu cari lagi sekarang?" tanya Soni.
"Ah? Aku juga bingung, mau cari apa ya?" jawabanku membuat Soni gemas.
"Kalau kamu bingung, sebaiknya kita pulang saja." usul Soni.
"Ya, kita pulang saja. Lagipula sudah malam. Kasihan Kamu kalau harus pulang terlalu malam." aku menyetujui saran Soni.
Kami pun bergegas menuju parkiran mobil, setelah membayar parkir Soni melajukan kendaraannya menuju ke rumahku.
Jalan Anggrek sudah kami susuri, mulai dari nomor rumah ratusan, puluhan sampai akhirnya di angka satuan. No 5 terbaca oleh Soni. Dia menghentikan mobilnya di de pan rumah sederhana.
"Alhamdulillah, sampai juga. Terima kasih, Soni. Maaf ya, aku tak bisa menyuruhmu masuk karena sudah terlalu malam." kataku pada Soni.
"Ya, tak apa kok Na. Aku langsung balik. Assalamualaikum"kata Soni sambil membalikkan mobil ke arah yang berlawanan.
"Wa'alaikumsalam."
Aku tertegun melihat mobil merah yang terus menjaun sampai lama-kelamaan tak terlihat lagi. Aku segera masuk ke dalam rumah, dan terlihat lah ayah tengah asyik dengan pekerjaannya.
Seketika ayah menoleh dan menegurku.
"Kenapa pulang malam, Na?" tegur ayah.
"Tadi selesaikan dulu tugas Sejarah di rumah teman, Yah." jawabku memberikan alasan.
"Ah yasudah. Kamu sudah makan?" tanyanya lagi.
"Sudah, di rumah teman. Tadi di kota tua jajan bubur kacang lagi, jadi perutku sudah penuh, Yah." kataku menjelaskan.
"Ya sudah, segeralah istirahat agar besok segar kembali" perintah ayah seraya pergi untuk mengunci pintu.
Matahari belum juga naik tapi aktivitas manusia sudah terlihat ramai. Angkutan umum hampir semua penuh dengan penumpang yang akan pergi bekerja baik di pabrik maupun perkantoran begitu pula anak-anak yang berseragam sekolah turut memadati angkutan umum. Tidak heran bila aku pun ikut meramaikan suasana jalanan dan angkutan di pagi hari ini.
Semua orang takut tidak kebagian angkutan bila pergi kesiangan, belum lagi bila jalanan sudah mulai macet pasti datang ke tempat tujuan akan kesiangan.
Lama aku menanti angkutan umum menuju sekolah tapi hampir semua penuh bahkan sampai ada yang duduk di pintu, duduk di kursi tambahan karena kursi yang biasa sudah penuh oleh penumpang yang lain.
Klakson motor nyaring bunyinya memekakkan telingaku. Sepeda motor berhenti di depanku. Ketika membuka helm baru aku mengenali siap pengendaranya.
"Kamu Kenapa bisa ada di daerah sini?" tanyaku pada Rendi.
"Ibuku ada di daerah sini, karena sakit jadi aku tidur di rumahnya. Malas balik ke kostan" jawab Rendi menerangkan keberadaannya.
Walau jalanan mulai macet tapi motor yang kami kendarai bisa terus melaju, menyalip sana sini agar tidak terjebak kemacetan. Usaha Rendi tak sia-sia, buktinya kami dapat sampai di sekolah tepat waktu. Begitu bel tanda masuk berbunyi kami sampai di kelas.
Kami masuk kelas bersamaan. Sekilas kulirik Soni dengan raut wajah yang tak senang melihat kami datang. Sepuluh menit berlalu tapi guru yang harusnya datang mengajar tak datang. Ketua kelas akhirnya berinisiatif untuk menanyakan ke ruang guru. Ketua kelas datang dengan membawa buku paket dan selembar kertas yang berisi tugas dari guru Geografi. Pa Munandar tidak masuk karena ada tugas keluar kota.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Soni. Dia langsung menghampiri mejaku dan mengajak berbicara.
" Erna, bisa kita bicara sebentar!" pinta Soni.
"Ya." jawabku pendek.
"Kamu mau jadi pacarku?" tembak Soni.
"Kamu."
Soni langsung menarik tanganku keluar dari kelas. Dia membawaku ke kantin sekolah. Sesaat aku bingung harus jawab apa. Aku tak mau menyakiti hati Soni tapi aku juga tak mau pacaran. Dilema menyerang pikiranku. Tapi aku memberanikan diri menjawab permintaan Soni.
"Aku tidak bisa, Soni." jawabku tegas.
"Apa alasannya?" tanya Soni.
"Pertama, aku tidak mau juga tak ada niat pacaran. Kedua, pacaran membuat ribet. Apalagi kalau sedang bertengkar, membuat mood belajar kacau. Ketiga, aku tak mau diganggu saat ingin berprestasi." jawabku membeberkan alasanku tak mau pacaran.
"Oooo .."
hanya bunyi o yang keluar dari mulut Soni sambil tersenyum yang membuatku tak mengerti apa maksudnya.
"Aku minta maaf, ya!" kataku memelas memohon pengertiannya.
Soni hanya tersenyum menanggapi penolakanku. Dia mengajakku kembali ke kelas untuk meyelesaikan tugas Geografi.
(biasanya lakik kalo di tolak rasain gimana sih? sumpah yang ku tau mreka pasti sakit hati sih yang paling dominan nya, trus kek buat jahat ke yang nolak nya kek ngolok" gtu. tapi sih kebanyakan juga ga kek gtu. Ah tau lah pusing author bkan cwok)
Entah apa yang ada dipikirannya. Aku tak berani menebak apa isi hatinya. Biar waktu saja yang menjawabnya. Aku tak mau melukai siapa pun, tapi aku juga tak mau terikat apapun untuk saat ini.
Entah suatu saat nanti, tapi aku tak tahu kapan pasti- nya. Sekarang aku hanya ingin mengukir prestasi membahagiakan orang tua dengan prestasi yang ku buat. Masih panjang perjalanan hidupku baru juga kelas 1 SMA. Masih banyak yang bisa diperbuat untuk mempersiapkan masa depan. Entah bila 10 tahun lagi dari sekarang, mungkin aku bukan hanya memikirkan pacaran, tapi pasti pernikahan.