Izin

1852 Kata

Tanti pulang menjelang malam dengan langkah ringan, tas kecilnya masih menggantung di bahu. Rumah besar itu tampak ramai seperti biasa. Di teras depan terparkir dua mobil keluarga, dan dari dalam terdengar suara percakapan yang cukup serius. Ia sudah menduga, kalau jam segini biasanya mereka masih berkumpul di ruang makan. Begitu masuk, ia melihat Mamanya duduk di ujung meja panjang bersama abang dan kakak iparnya. Di hadapan mereka tersusun beberapa map cokelat dan laptop yang menampilkan grafik. Obrolannya jelas bukan obrolan santai. "...kalau blok yang di Rantau Selatan itu panennya maju dua minggu, kita harus siapin truk tambahan," kata abang Tanti sambil menunjuk data di layar. Mama Ida mengangguk pelan. "Pastikan juga soal tenaga panennya. Jangan sampai kurang orang. Minggu depan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN