Bukan karena reuni ini terlalu penting, bukan pula karena ia merasa hidup dan matinya ditentukan oleh acara makan siang itu. Namun karena sejak awal ia sudah menata mental untuk pergi, sudah membayangkan duduk bersama teman - teman SMAnya, dan sudah berjanji pada Tanti kalau ia akan datang, hal itulah yang membuat Dede semakin gelisah. Jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit. Sampai pas sepuluh lewat tiga puluh tidak ada pesan baru dan respon lanjutan dari Arsya. Dede mondar - mandir kecil di dalam kamar. Sesekali ia membuka layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk. Tidak ada. Dede tahu Arsya bilang akan tidur sebentar, mungkin pengaruh obat. Ia tahu obat butuh waktu untuk bekerja. Namun detik demi detik sudah meninggalkan pukul setengah sebelas,

