Tidak terasa sudah satu bulan Arsya berada di Medan. Waktu yang awalnya terasa panjang itu kini seperti menyusut begitu saja. Tiga puluh hari yang dipenuhi pertemuan, obrolan, tawa, juga beberapa perdebatan kecil yang justru membuat hubungan mereka semakin matang. Liburan Arsya segera berakhir. Tiket kepulangannya ke Manchester sudah di tangan. Koper besar di sudut kamar perlahan mulai terisi kembali walau tak sepenuh waktu datang kemarin. Perpisahan kali ini tidak lagi sedramatis dulu. Tidak ada tangis berlebihan atau perpisahan emosional seperti sebelumnya. Selain karena mereka sudah setiap hari bertemu selama satu bulan terakhir, mereka juga sudah merencanakan pertemuan berikutnya. Enam bulan lagi, saat wisuda Arsya di Manchester, Dede akan datang. Rencana itu membuat jarak terasa l

