bc

Penyamaran Prajurit Elite

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
mafia
gangster
tragedy
kicking
loser
secrets
war
surrender
like
intro-logo
Uraian

Di balik seragam seorang penyampai pesan, Langit Anggara menyembunyikan masa lalu yang penuh rahasia. Ketika bergabung dengan unit elit Komandan Elsa Solana, dia berharap menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya. Namun, takdir berkata lain.

Saat ancaman besar menghadang, kemampuan luar biasa Langit mulai terungkap, membuat rekan-rekannya curiga. Terjepit antara keinginan untuk hidup normal dan tanggung jawab melindungi orang-orang di sekitarnya, Langit harus membuat keputusan sulit.

Akankah dia tetap menyembunyikan jati dirinya? Atau mengungkap kebenaran dan menghadapi konsekuensinya?

Sebuah kisah tentang identitas, pengorbanan, dan makna kepahlawanan yang sesungguhnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Komandan Besi
Matahari sudah tenggelam, menyisakan jejak warna jingga di kaki langit. Di tengah bayang-bayang senja, sebuah unit kecil prajurit bergerak tanpa suara melalui hutan lebat. Di depan, memimpin mereka dengan langkah pasti adalah seorang wanita yang tak tergoyahkan. Elsa Solana, seorang komandan yang terkenal karena ketangguhan dan kejelian taktisnya, adalah figur yang menciptakan rasa hormat sekaligus gentar dalam diri siapa pun yang mengikutinya. Pohon-pohon tinggi dengan daun-daun tebal seakan menelan cahaya terakhir hari itu, menjadikan suasana di dalam hutan semakin gelap dan menegangkan. Tidak ada suara selain langkah kaki yang teratur, desah nafas yang tertahan, dan bisikan angin di antara dedaunan. Elsa, dengan tatapan tajamnya yang menyapu sekeliling, tidak pernah melepaskan kewaspadaannya. Setiap pergerakan, sekecil apapun, tertangkap oleh matanya bagaikan burung hantu yang memburu mangsanya pada malam hari. Di sebelahnya, Ajeng mengikuti tanpa suara, hanya selangkah di belakang sang komandan. Ajeng dikenal sebagai sosok yang pendiam namun berbahaya, seseorang yang lebih memilih berbicara dengan tindakan daripada kata-kata. Ketenangan Elsa yang penuh keyakinan, berpadu dengan ketelitian Ajeng, menjadikan mereka tim yang sangat tangguh. Terlebih anggota yang ikut serta adalah orang - orang yang dilatih langsung oleh Elsa dengan menggunakan metode bagaikan neraka. Misi malam itu sederhana dalam konsep namun penuh risiko. Sebuah kelompok pemberontak telah diketahui bersembunyi di salah satu gua di tengah hutan. Mereka telah melakukan serangkaian serangan yang membuat pasukan Elsa semakin terpojok. Informasi yang diperoleh dari intelijen menunjukkan bahwa malam ini adalah saat terbaik untuk menyerang, saat para pemberontak beristirahat dan keamanan mereka sedikit longgar. Elsa sudah memperhitungkan dengan matang hingga beberapa skenario yang mungkin terjadi demi keberhasilan misi, ya begitulah Elsa Solana, kata gagal tidak ada dalam kamusnya. Elsa memberi tanda dengan tangan, menghentikan langkah pasukannya. Dia merasakan sesuatu yang tidak beres, sebuah firasat yang berasal dari intuisi yang sudah terasah oleh pengalaman bertahun-tahun di medan pertempuran. Udara terasa lebih tebal, seperti ada sesuatu yang menunggu di dalam gelap. "Semua berhenti. Ajeng, awasi sekeliling," bisiknya. Suara Elsa nyaris tak terdengar, namun tetap membawa perintah yang tak bisa dibantah. Ajeng hanya mengangguk, dan dalam sekejap, tubuhnya menghilang ke dalam kegelapan. Tidak ada suara, tidak ada gerakan yang dapat dideteksi oleh mata biasa. Elsa mengangkat tangannya, memberi isyarat pada pasukannya untuk bersiap. Dalam hening yang menggantung di antara mereka, ada ketegangan yang tebal, seperti tali yang siap putus kapan saja. Hanya beberapa detik kemudian, Ajeng muncul kembali di sisi Elsa, hampir seperti bayangan yang terbang di antara pohon-pohon. "Ada tiga penjaga di pintu masuk gua," lapor Ajeng singkat, tatapannya penuh makna. Elsa hanya mengangguk, matanya menyipit menilai situasi. Tiga penjaga adalah angka yang kecil, namun cukup untuk membuat misi mereka berantakan jika tidak ditangani dengan benar. Dengan gerakan tangan yang hampir tak terlihat, Elsa membagi perintah. Dua prajurit akan mengambil posisi untuk melumpuhkan para penjaga, sementara yang lain bersiap untuk bergerak masuk. Elsa merasakan denyut adrenalinnya semakin cepat. Momen seperti ini, di mana hidup dan mati ditentukan dalam detik-detik kritis, selalu memacu semangatnya. Ini adalah saat di mana dia bersinar, di mana dia menjadi komandan besi yang ditakuti dan dihormati oleh bawahannya. Dengan hitungan mundur dalam pikirannya, Elsa memberi tanda. Dua prajurit melesat maju, bergerak dengan kelincahan yang luar biasa di tengah kegelapan. Hanya dalam hitungan detik, suara lembut patahan leher terdengar pendek, tajam, mematikan. Tidak ada teriakan, tidak ada perlawanan. Para penjaga jatuh tanpa sempat menyadari apa yang menimpa mereka. Elsa menghela napas dalam-dalam, tanda pertama dari sebuah keberhasilan. Tapi dia tahu, ini baru permulaan. Pemberontak di dalam gua mungkin sudah menduga kedatangan mereka, dan Elsa tidak bisa membiarkan diri lengah. "Ayo maju!" perintahnya, suaranya tenang tapi penuh kewaspadaan. Pasukan bergerak, kali ini dengan lebih hati-hati, mengikuti Elsa yang memimpin mereka menuju mulut gua. Saat mereka mendekati gua, suara dari dalam menjadi semakin jelas. Pembicaraan rendah dan tawa sesekali terdengar, tanda bahwa sebagian dari pemberontak belum sadar akan bahaya yang mengintai. Elsa berhenti sejenak, memikirkan langkah berikutnya. Serangan langsung mungkin bukan pilihan terbaik; mereka perlu memastikan bahwa pemberontak utama tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Elsa memberikan isyarat kepada Ajeng, yang segera menghilang ke dalam kegelapan lagi, menyusup masuk untuk mengintai. Elsa menunggu dengan sabar, seluruh tubuhnya siaga, siap untuk bergerak kapan saja. Beberapa menit kemudian, Ajeng kembali, wajahnya tanpa ekspresi. "Target berada di bagian terdalam gua. Ada enam orang yang berjaga di pintu masuk ke dalam ruangan utama," lapor Ajeng sambil memegang teropong dengan teliti dan suara tertahan. Elsa mengangguk sekali lagi, merencanakan strategi dalam pikirannya. Mereka harus bergerak cepat dan efektif, tanpa memberikan waktu bagi pemberontak untuk bereaksi. "Kita akan menyerang dari dua sisi. Ajeng, pimpin serangan dari kanan, aku akan maju dari kiri. Jangan buat bertindak dengan gegabah, maju saja dan ciptakan sebuah peluang. Anggap ini ada misi biasa. Mengerti!" Ajeng mengangguk, dan dalam sekejap mereka membagi pasukan menjadi dua tim. Elsa bisa merasakan jantungnya berdetak cepat, bukan karena ketakutan, tetapi karena kegembiraan yang ia rasakan setiap kali berada di ambang pertempuran. Saat mereka mendekati target, Elsa bisa melihat wajah-wajah para pemberontak, bayangan mereka bergerak dalam keremangan cahaya api kecil di dalam gua. Ada kegugupan yang tampak di mata mereka, tanda bahwa mereka mungkin sudah mulai curiga. Tapi Elsa tidak akan memberikan mereka kesempatan. Terlalu banyak dosa besar yang mereka lakukan pada negeri ini. Perintah yang diberikan kepada Elsa adalah serangan penghabisan karena mereka tidak memiliki hak untuk melakukan negosiasi lagi. Dengan isyarat cepat, tim Ajeng menyerbu dari sisi kanan. Dua dari penjaga jatuh sebelum sempat mengeluarkan suara, namun yang lainnya langsung bereaksi, menarik senjata mereka dengan teriakan peringatan. Dalam sekejap, tempat itu menjadi medan perang kecil, penuh dengan suara benturan logam dan teriakan kematian. Elsa memimpin timnya maju dari sisi kiri, mengayunkan pisaunya dengan presisi mematikan untuk menumbangkan satu persatu musuh yang berada dalam jangkauannya. Dia adalah badai yang menghancurkan segala sesuatu di jalurnya. Setiap gerakannya penuh dengan kekuatan dan kecepatan, membuat musuhnya tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Begitu mereka menoleh ditarikan nafas berikutnya sudah meregang nyawa. Namun, saat pertarungan tampak hampir berakhir, sebuah suara ledakan terdengar dari dalam gua, diikuti oleh suara runtuhan batu. Elsa segera berbalik, menyadari bahwa sesuatu telah terjadi di dalam. Sebelum dia sempat bergerak, salah satu prajurit berteriak, "Komandan, ada yang memicu jebakan! Gua ini bisa runtuh kapan saja!" Elsa hanya memiliki waktu beberapa detik untuk memutuskan. Di satu sisi, keselamatan timnya adalah prioritas utama, namun di sisi lain, jika mereka tidak menangkap pemimpin pemberontak sekarang, mereka mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan lagi. "Ajeng, bawa timmu keluar sekarang!" perintah Elsa tanpa ragu, meskipun hatinya berteriak ingin maju ke dalam. Ajeng terlihat ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk dan mulai memimpin pasukannya keluar dari gua yang goyah. Elsa berdiri di ambang pintu masuk, tubuhnya tegap meskipun batu-batu mulai jatuh di sekelilingnya. Sebuah bayangan bergerak cepat dari sudut pandangnya sesuatu atau seseorang yang mencoba melarikan diri ke dalam kegelapan gua. Tanpa pikir panjang, Elsa mengejarnya, langkahnya mantap dan penuh tekad. Namun, saat dia mencapai bagian terdalam gua, dia hanya menemukan kehampaan. Ruangan besar itu kosong, kecuali untuk tumpukan barang-barang yang berserakan dan debu yang beterbangan akibat runtuhan. Elsa merasakan ada yang salah, sangat salah. Dalam keheningan yang mencekam, tiba-tiba terdengar suara dari balik kegelapan. "Kau datang tepat waktu, Komandan Solana," suara itu terdengar tenang namun penuh dengan ejekan. Sebuah siluet muncul dari kegelapan, dan Elsa segera menyadari bahwa dia tidak sendirian. Di depan matanya, seorang pria berdiri dengan senyum tipis, memegang detonator di tangannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
54.8K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.8K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.7K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.2K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.6K
bc

After We Met

read
187.5K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook