Penyusup Dan Kecurigaan

1056 Kata
Elsa mengangguk tajam, matanya menyipit penuh determinasi. "Kumpulkan semua personil yang ada. Kita menuju ruang penyimpanan data sekarang juga! Jangan - jangan!” Elsa langsung teringat kepada Langit anggota baru itu. Dalam hitungan detik, koridor markas dipenuhi derap langkah tergesa-gesa. Elsa memimpin di depan, diikuti oleh Ajeng Ningtias yang selalu siaga di sampingnya. Namun, saat mereka berbelok di tikungan terakhir, Elsa menyadari ada yang kurang. "Di mana Langit?" tanya Elsa, suaranya rendah dan tegang. Ajeng menggeleng, matanya menyapu sekeliling dengan waspada. "Saya belum melihatnya sejak alarm berbunyi, Komandan." Elsa menggertakkan giginya, gumaman pelan keluar dari bibirnya. "divisi informasi baru itu... di saat genting seperti ini..." Mereka tiba di depan pintu ruang penyimpanan data. Elsa memberi isyarat pada pasukannya untuk bersiap. Dengan satu anggukan tegas, dia memberi tanda untuk menyerbu masuk. Pintu terbuka dengan dentuman keras, dan pasukan Elsa menyerbu ke dalam. Namun, pemandangan yang menyambut mereka jauh dari ekspektasi. Lampu ruangan itu sudah dapat keadaan padam keadaan menjadi gelap. “Klang!” Elsa menekan saklar yang terdapat dekat pintu masuk sehingga tempat itu sudah menjadi terang kembali. Elsa melangkah masuk dengan hati-hati, matanya menyapu ruangan, mencari petunjuk akan apa yang sebenarnya terjadi. Ajeng mengikuti di belakangnya, senjata tetap siaga meski ancaman sudah tidak terlihat. Beberapa barang terlihat bergeser dari tempatnya seolah ada yang mendorongnya dengan paksa. “Komandan!” Salah seorang prajurit jaga berseru dari sudut ruangan. Elsa pun tanpa banyak kata langsung bergerak menuju tempat itu dan terkejut melihat beberapa orang asing bersenjata lengkap dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tangan dan kaki mereka terikat oleh kabel jaringan komputer. Mulut mereka tertahan oleh sampah yang sebagian bertebaran. "Periksa mereka," perintah Elsa pada beberapa prajuritnya. "Pastikan mereka tidak bisa bergerak, lalu interogasi segera." Saat para prajurit mulai bergerak, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari koridor. Langit Anggara muncul di ambang pintu, nafasnya terengah-engah dan wajahnya memerah. "Maaf... saya terlambat, Komandan," ucap Langit di antara tarikan nafasnya. "Saya baru saja dari... kamar mandi ketika alarm berbunyi." Elsa menatap Langit dengan tatapan tajam, alisnya terangkat penuh tanya. Dia bisa merasakan kekesalan merayap dalam dirinya, tapi berusaha menahannya. "divisi informasi seharusnya selalu siap setiap saat, Langit!" ujarnya dengan nada dingin. Langit mengangguk, kepalanya tertunduk. "Saya... saya minta maaf, Komandan. Ini tidak akan terulang lagi." Elsa hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi perhatiannya teralihkan saat Langit melihat sekeliling ruangan. Ekspresi Langit berubah dari rasa bersalah menjadi keterkejutan yang nyata. "Astaga..." gumam Langit, matanya melebar melihat para penyusup yang tergeletak. "Ini... ini adalah area tanggung jawab saya. Saya seharusnya ada di sini untuk melindunginya. Maafkan saya, Komandan. Ini semua salah saya." Elsa menatap Langit dengan seksama, mencoba membaca ekspresinya. Ada sesuatu yang tidak beres, tapi dia tidak bisa memastikan apa itu. Sebelum Elsa bisa mengatakan apapun, Ajeng melangkah maju. "Komandan," ujarnya dengan nada tenang namun tegas. "Langit baru saja bergabung dengan kita. Dia masih dalam proses adaptasi. Mungkin kita bisa memberinya kesempatan kedua?" Elsa menimbang-nimbang perkataan Ajeng. Matanya beralih dari Ajeng ke Langit, yang masih tertunduk dengan ekspresi penyesalan yang mendalam. "Baiklah," akhirnya Elsa berkata. "Tapi ini adalah kesempatan terakhirmu, Langit. Aku tidak mentolerir kelalaian dalam unitku. Kamu seharusnya tahu kalau divisi informasi sangat penting bagi keberhasilan misi - misi kita." Langit mengangguk cepat. "Terima kasih, Komandan. Saya berjanji tidak akan mengecewakan Anda lagi." Sementara para prajurit mulai mengamankan para penyusup yang masih tak sadarkan diri, Elsa tidak bisa mengenyahkan perasaan janggal yang menghantuinya. Matanya terus mengawasi Langit yang kini bergerak membantu rekan-rekannya. Ada sesuatu yang tidak beres. Penyusup-penyusup ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah profesional yang terlatih, mampu menembus sistem keamanan markas yang sangat ketat. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa dilumpuhkan dengan begitu mudah, tanpa ada tanda-tanda pertarungan? Elsa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sekali lagi. Tidak ada jejak peluru, tidak ada furnitur yang rusak, bahkan tidak ada setetes darah pun. Seolah-olah para penyusup ini jatuh tertidur begitu saja. Ajeng tahu persis kemampuan orang - orang didalam satuannya. Dilihat dari senjata yang dibawa oleh para penyusup itu bukanlah sesuatu yang bisa digunakan oleh semua orang ditempat itu. Hal itu menandakan kalau kemampuan mereka berada diatas rata - rata. "Ajeng," panggil Elsa pelan. Ajeng segera mendekat, siap menerima perintah. "Aku ingin kau mengawasi Langit. Laporkan padaku setiap gerak-geriknya yang mencurigakan." Ajeng mengangguk singkat, matanya melirik sekilas ke arah Langit yang sedang membantu mengangkat salah satu penyusup. "Anda mencurigai sesuatu, Komandan?" Elsa menghela nafas panjang. "Entahlah. Tapi firasatku mengatakan ada yang tidak beres di sini. Kita harus waspada." Wajar saja Elsa begitu waspada karena ruang informasi terletak pada bagian terdalam markasnya. Bahkan hanya orang tertentu saja yang dibiarkan melewati setiap penjagaan. Sementara itu, di sudut ruangan, Langit tampak sibuk membantu rekan-rekannya. Namun, jika seseorang memperhatikan dengan seksama, mereka mungkin akan melihat kilatan aneh di matanya. Sebuah kilatan yang menyiratkan bahwa di balik ekspresi bersalah dan sikapnya yang kikuk, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Malam itu berlalu dengan cepat. Para penyusup dibawa ke ruang interogasi, sementara tim forensik mulai memeriksa ruangan, mencari petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Elsa menghabiskan waktu berjam-jam menginterogasi para penyusup, tapi hasilnya nihil. Mereka semua mengaku tidak ingat apa-apa sejak memasuki markas. Keesokan paginya, Elsa duduk di kantornya, matanya menatap kosong pada laporan di hadapannya. Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Siapa sebenarnya Langit Anggara? Bagaimana para penyusup itu bisa dilumpuhkan? Dan yang paling penting, apakah ada ancaman lain yang mengintai di balik bayangan? Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Masuk," ujar Elsa. Pintu terbuka, dan Langit melangkah masuk dengan sebuah amplop di tangannya. "Maaf mengganggu, Komandan. Ada pesan rahasia untuk Anda." Elsa menerima amplop itu dengan hati-hati. Saat jari-jarinya menyentuh kertas, dia merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah firasat yang tidak bisa dijelaskan. Dengan perlahan, Elsa membuka amplop itu. Matanya melebar saat membaca isinya. Tangannya sedikit bergetar, campuran antara keterkejutan dan kemarahan mulai merayapi dirinya. "Langit," ujar Elsa, suaranya tenang namun penuh ancaman. "Kau punya banyak hal untuk dijelaskan." Langit berdiri diam, ekspresinya tak terbaca. Untuk sesaat, topeng divisi informasi yang kikuk itu seolah menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih gelap dan misterius. "Ya, Komandan," jawab Langit, suaranya berubah menjadi lebih dalam dan serius. "Saya rasa sudah waktunya kita bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi di sini." Langit mengangkat kepalanya dan menatap pemimpinnya dengan serius. Seakan tidak seperti langit yang biasa terlihat seperti pria di belakang meja. “Akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu,” pikir Elsa yang sedari tadi menunggu ekspresi tersebut dari orang yang sudah dicurigainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN