sapaan pagi.

1292 Kata
Matahari pagi sudah berusaha menerobos tirai tipis kamar Juya, tapi gadis itu masih meringkuk di balik selimut. Rambut hitamnya berantakan, wajahnya yang biasanya segar kini tampak kusut. Alarm di ponselnya sudah berbunyi tiga kali, tapi Juya dengan santai menekan tombol snooze tanpa niat bangun. “Kenapa sih pagi cepet banget datengnya…” gerutunya dengan suara serak. Hari itu seharusnya ia bangkit dengan semangat, bersiap ke kantor, dan berhadapan dengan tumpukan draft naskah yang menunggu untuk diedit. Tapi tubuhnya terasa berat. Bukan hanya karena kantuk, melainkan juga karena rutinitas yang kadang membuatnya jenuh. Tatapannya kemudian jatuh pada dinding kamarnya—lebih tepatnya pada poster besar BTS yang menempel di sana. Sosok Jeon Jungkook dengan tatapan tajam khasnya seakan menatap balik ke arahnya. Juya langsung meringis manja. “Ayo dong, Jeon… lamar gue, buruan. Gue udah capek kerja, tau. Mau jadi pengangguran kaya raya, hidup manis tiap hari,” ujarnya sambil menangkupkan tangan seolah sedang berdoa. Ia lalu bangkit duduk, masih dengan selimut yang menutupi bahunya, dan menatap poster itu penuh dramatis. “Serius, Jungkook. Lo tinggal bilang ‘saranghae’ terus ajak gue ke Seoul, selesai hidup gue. Gue janji bakal masakin lo tiap hari, nyapu, ngepel, apapun deh. Asal gue nggak perlu ngadepin revisi naskah editor lagi.” Juya kemudian merebahkan diri kembali, lalu menggerutu. “Tapi ya emang nasib gue, bukan di nikahin oppa ganteng, tapi disuruh bangun pagi biar nggak kena potong gaji.” Ponselnya berdering, menandakan pesan baru. Refleks, ia meraih dan membaca sekilas. Bukan dari Jungkook, jelas saja. Itu dari sahabatnya, Leon. > Leon: “Rabbit, jangan molor mulu. Lo kira bos lo bisa lohipnotis pake poster Jungkook?” Juya mendengus. “Dasar Loen, mulutnya emang nggak pernah manis. Padahal kalau dia tau, gue udah drama sama Jungkook di kamar, pasti diketawain abis-abisan.” Akhirnya, dengan berat hati, Juya menyingkirkan selimutnya. Ia berjalan malas-malasan menuju kamar mandi sambil terus ngomel. “Gue sih yakin, kalau ada lomba siapa paling malas bangun pagi, gue bisa menang. Tapi ya… kalau gue nggak kerja, siapa juga yang bakal bayarin listrik, bayar air, sama beli cokelat panas favorit gue…” Sebelum masuk ke kamar mandi, ia sempat melirik sekali lagi ke poster Jungkook. Senyumnya tipis, penuh campuran rasa. “Lo tau kan, Jungkook… fangirling ke lo tuh yang bikin gue masih bisa ketawa. Kalau nggak, hidup gue udah kelewat hambar.” Dan dengan itu, Juya menghilang ke kamar mandi, bersiap menjalani hari barunya—meski di dalam hati, ia masih berharap keajaiban kecil datang, entah dari sahabatnya, pekerjaannya, atau mungkin dari mimpi gilanya tentang seorang idol. 💜 Setelah mandi kilat dan berdandan seadanya, Juya akhirnya berangkat ke kantor. Rambutnya masih sedikit lembap, langkahnya malas, dan headset di telinganya memutar lagu BTS yang bikin mood-nya agak naik. Begitu masuk ruang kerja, ia sudah disambut suara renyah Aldi, partner kerjanya yang duduk di meja sebelah. “Yee, akhirnya datang juga. Gue kira lo nyangkut di dunia mimpi bareng Jungkook.” Juya mendengus sambil meletakkan tas. “Jangan nyolot, Di. Lo nggak tau perjuangan gue ninggalin oppa pagi-pagi.” Aldi terkekeh. “Oppa lo cuma poster, Juya. Realitanya lo harus edit naskah 250 halaman hari ini.” “Ah, lo sadis banget!” Juya mendengus, lalu menjatuhkan diri di kursi. “Kenapa sih hidup gue isinya revisi, revisi, revisi. Mana nggak ada Jungkook yang bilang ‘good job’.” Aldi menatapnya sambil geleng-geleng. “Kadang gue bingung sama lo, Juya. Cantik, pinter, tapi kok obsesinya idola Korea.” Juya menyeringai. “Lo nggak bakal ngerti, Di. Jungkook itu vitamin gue. Kalau bukan karena dia, gue udah resign dari kantor ini.” Mereka tertawa bersama, sebelum akhirnya tenggelam dalam pekerjaan. Meskipun malas, Juya tetap profesional. Jemarinya lincah menari di atas keyboard, menandai typo, memperbaiki kalimat, dan memberi catatan pada draft klien. 💜 Di sisi lain kota, suasana kantor Leon jauh berbeda. Ruangan teknologi penuh dengan suara keyboard yang mengetik cepat, beberapa monitor menampilkan kode program, dan obrolan kecil antar karyawan. Leon duduk santai di kursinya, mengunyah permen karet sambil mengetik. Di sebelahnya, Dimas melirik sambil menghela napas. “Lo, serius dikit napa. Deadline makin mepet.” Leon nyengir. “Santai aja, Dim. Otak gue baru jalan kalau mepet. Lo lupa, gue jenius.” Haikal yang duduk tak jauh langsung nyeletuk, “Jenius apaan, Loen. Jenius main cewek kali.” Bastian ngakak keras. “Woy, jangan bahas pacarnya Leon. Ntar daftar namanya kepanjangan!” Leon mendengus, pura-pura malas menanggapi. “Iri tanda tak mampu, Bro. Jangan sirik.” Tapi tawa itu mendadak mereda ketika sosok Vely masuk ke ruangan. Gadis itu berjalan anggun dengan blouse rapi, menenteng laptop. Sekilas tatapan matanya mencari seseorang—dan jelas, berhenti di Leon. Wajah Leon langsung dingin. Senyum santainya hilang seketika. Tangannya mengetik lebih cepat, seolah menutup diri. Dimas, Haikal, dan Bastian saling pandang. Mereka tahu persis, Leon paling males ketemu Vely. “Pagi semuanya,” sapa Vely datar, tapi suaranya terdengar jelas. “Pagi…” jawab rekan-rekan yang lain. Leon? Ia tak menoleh sama sekali. Bahkan gumamnya keluar dengan ketus, “Sial, pagi gue udah rusak.” Dimas menepuk bahu Leon pelan, mencoba menenangkan. Tapi tatapan Leon sudah jelas: ia tidak akan pernah melupakan kalau Vely adalah bagian dari alasan Juya dulu hancur. 💜 Coklat panas di tangan Juya masih mengepulkan uap tipis. Ia duduk di balkon kamarnya, menatap langit malam yang bertabur bintang samar. Hening. Hanya suara jangkrik dari kejauhan dan sesekali desiran angin yang masuk lewat sela-sela pagar balkon. Belum lama ia menyeruput coklatnya, terdengar suara pintu rumahnya berderit. Juya menghela napas panjang, tidak kaget sama sekali. “Pasti Loen…” gumamnya datar. Dan benar saja, beberapa detik kemudian Leon muncul dari arah ruang tengah, berjalan santai seperti pemilik rumah. Ia bahkan sempat mengambil sisa biskuit di meja ruang tamu sebelum naik ke lantai dua. “Lo parah banget, tau nggak. Main masuk rumah orang nggak pake salam,” omel Juya saat Leon nongol di pintu kamarnya. Leon hanya nyengir, meneguk air mineral yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya. “Apaan sih, rumah lo tuh udah kayak rumah gue sendiri. Lagi pula, lo juga udah sering banget masuk rumah gue tanpa aba-aba, kan?” Juya mendecak. “Itu beda. Gue tuh tamu sopan, at least ketok pintu dulu.” Leon terkekeh sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Juya. “Tamu sopan? Tamu sopan darimana kalau nyelonong ke dapur, ngehabisin mie instan, terus ninggalin panci kotor?” Juya langsung memutar bola mata. “Lo dendam banget sama mie instan sebiji itu ya, Loen. Udah berabad-abad masih aja dibahas.” Mereka sama-sama tertawa kecil. Tapi kemudian hening kembali menyelimuti, hanya ditemani suara gelas Juya yang diletakkan di meja kecil balkon. Leon menatap Juya lekat-lekat. Bukan tatapan penuh cinta seperti pacar, tapi tatapan tulus seorang sahabat yang ingin memastikan orang terdekatnya baik-baik saja. Ada sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan—bahwa ia lebih tenang setelah memastikan Juya ada di hadapannya setiap malam. “Lo kenapa natap gue kayak gitu?” tanya Juya sambil mengernyit. Leon tersenyum tipis. “Biar gue inget. Jadi besok kalau bangun, gue tau sahabat gue masih ada.” Juya terdiam sejenak. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi juga berat. Ada sesuatu yang menusuk pelan di dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Namun, alih-alih terbawa suasana, ia memilih menutupi dengan candaan. “Cieee, manis banget. Gue harus siapin tisu nih, takut lo tiba-tiba nangis.” Leon mendengus sambil menjitak kepala Juya ringan. “Bacot.” Juya terkekeh, lalu kembali meneguk coklat panasnya. Dalam hati, ia tahu, rutinitas seperti ini—Leon yang seenaknya masuk rumah, duduk di balkon, lalu menatapnya sebelum tidur—adalah salah satu hal kecil yang membuat hidupnya terasa lebih bisa dijalani. Dan tanpa perlu kata-kata manis, keduanya sama-sama paham: mereka saling jadi rumah, meskipun dunia luar kadang terasa asing dan berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN