Di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit, lampu-lampu kota berkilau seperti lautan bintang. Dari balik kaca bening ruang kerjanya, seorang pria berdiri dengan kedua tangan terlipat di d**a. Wajahnya tegas, rahang kokoh, tubuh tegap dalam setelan jas hitam. Dialah Venzo Ardyanata, CEO muda yang namanya sudah jadi legenda di dunia bisnis kota itu.
Meski tampak berkuasa, dingin, dan tak tersentuh, ada satu hal yang selalu membuat hatinya rapuh: Seo Juya.
Setiap malam, saat semua orang mengaguminya karena kesuksesan dan kekayaannya, Venzo hanya bisa menatap jauh ke arah jendela, berharap bayangan Juya muncul di antara cahaya lampu kota.
Sudah empat tahun sejak malam kelam itu. Malam ketika sebuah jebakan membuatnya kehilangan wanita yang paling ia cintai. Malam ketika Juya, dengan mata penuh luka, memutuskan hubungan mereka. Bukan dengan perdebatan panjang, bukan dengan kesempatan menjelaskan—hanya kalimat dingin yang menusuk, lalu pergi meninggalkannya.
Dan yang lebih menyakitkan, Venzo tahu:
Ia tidak pernah mengucapkan “iya” untuk perpisahan itu.
Di hatinya, Juya masih kekasihnya. Wanita yang ia cintai mati-matian. Wanita yang membuatnya rela melawan dunia.
“Rabbit…” lirih Venzo, menyebut panggilan yang dulu hanya milik Leon. Lidahnya kelu, hatinya perih, tapi bibirnya tetap menyebut nama itu—seolah hanya dengan begitu ia bisa merasa Juya masih dekat.
Ia tahu Juya tidak ingin lagi melihat wajahnya. Ia tahu Juya bahkan tidak mau mendengar satu pun penjelasan yang ingin ia berikan. Tapi Venzo tidak menyerah. Ia selalu memperhatikan Juya dari jauh—saat gadis itu berangkat kerja, saat pulang larut dengan tatapan lelah, bahkan ketika Juya tertawa kecil bersama Leon di balkon rumahnya.
Rasa cemburu? Tentu.
Tapi di balik itu semua, ada tekad yang tidak pernah padam: Venzo tidak akan pernah berhenti menjaga Juya, meskipun hanya dari kejauhan.
Baginya, Juya bukan sekadar cinta masa lalu. Juya adalah alasan kenapa ia berambisi, kenapa ia berdiri di puncak sekarang. Semua kerja keras, semua dinginnya sikap, semua kuasa yang ia miliki—pada akhirnya hanya untuk satu hal: membuktikan bahwa ia masih layak untuk Juya.
Namun, waktu tidak pernah berpihak pada mereka.
Juya menutup pintu rapat-rapat, sementara Venzo masih berdiri di depan, menunggu, dengan kunci yang sudah tidak lagi cocok di gemboknya.
💜
Felix Arsenio tidak pernah percaya pada cinta pandangan pertama. Apalagi cinta lewat mimpi.
Baginya, cinta hanyalah konsep yang terlalu sering dipuja, padahal di dunia nyata lebih banyak melukai.
Sejak kecil ia hidup di bawah disiplin keluarga keturunan China-Belanda yang keras, tumbuh menjadi pria berkuasa dan dingin. Di ruang rapat, suaranya cukup sekali untuk membuat puluhan eksekutif terdiam. Di rumah, ia lebih sering tenggelam dalam keheningan. Tidak ada satu pun wanita yang pernah membuatnya ingin menetap—bahkan Vivian, gadis pilihan keluarganya, hanya sebatas nama di undangan yang tidak pernah ia sentuh.
Namun, beberapa malam terakhir, semua keyakinannya mulai runtuh.
Karena setiap kali matanya terpejam, Felix selalu dipertemukan dengan dia.
💜
🌙 Hujan turun tipis di sebuah taman yang asing, tapi anehnya terasa begitu akrab. Pepohonan menjulang, dan di tengah jalan setapak berlapis batu, ada seorang gadis berdiri membelakanginya. Rambutnya tergerai lembut, gaun putih sederhana berkibar diterpa angin.
Felix menatapnya lama. Tidak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu dalam sosok itu—tenang, lembut, sekaligus memikat.
“Siapa kamu?” suara Felix terdengar parau, jarang sekali ia berbicara sepanjang itu bahkan di dunia nyata.
Gadis itu menoleh perlahan. Senyum tipis menghias wajah manisnya, mata jernihnya seolah menembus lapisan hatinya yang beku.
“Aku?” jawabnya lirih. “Aku hanya mimpi.”
Felix melangkah mendekat, langkah berat tapi pasti. “Nama kamu siapa?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang bahkan ia sendiri tak kenal—lembut, penuh keinginan tahu.
Gadis itu terkekeh kecil. “Kenapa harus tau? Bukankah mimpi selalu berakhir sebelum sempat diingat?”
Felix terdiam. Kata-kata itu menusuk.
Tiba-tiba hujan semakin deras, kabut turun, dan sosok gadis itu mulai memudar.
“Jangan pergi!” pekik Felix, tangannya terulur, mencoba menggenggam udara yang kosong.
Namun suara lembut itu masih terdengar, samar, sebelum hilang bersama kabut.
“Kalau memang jodoh, kau akan menemukanku… bukan hanya di mimpi.”
💜
Felix terbangun dengan napas terengah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah ia miliki.
Tangannya masih terangkat, seperti ingin meraih gadis dalam mimpi itu. Jantungnya berdetak tak terkendali.
Evan, sahabat sekaligus asistennya, masuk sambil membawa laporan pagi. “Bos, lo kenapa? Mukanya pucet banget.”
Felix menatap Evan lama, lalu berkata singkat dengan suara rendah namun penuh tekanan:
“Gue harus nemuin dia.”
“Dia siapa?” Evan kebingungan.
Felix menutup mata sejenak. Wajah cantik itu kembali terbayang jelas. Senyum, tatapan, suara lirihnya.
“Mimpi itu, Van. Gue harus nemuin… gadis di mimpi itu.”
💜
Pagi bagi Juya bukanlah hal yang menyenangkan. Alarm ponsel sudah berteriak sejak setengah jam lalu, tapi tubuhnya masih betah meringkuk di balik selimut.
Dengan mata setengah terbuka, ia menoleh pada poster besar di dinding kamarnya—Jeon Jungkook dengan senyum manis khasnya.
“Ayo dong, Jungkook… lamar gue. Gue udah capek kerja tiap hari,” rengeknya sambil meraih bantal dan memeluknya erat, seolah benar-benar kekasih. “Lo sih ganteng banget, bikin gue makin males ketemu dunia nyata.”
Setelah berdebat singkat dengan diri sendiri, Juya akhirnya menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian kasual rapi, rambut masih sedikit lembap, dan wajah segar tanpa make-up berlebihan.
Di garasi, dua kendaraan menunggu: Purple, mobil ungu kesayangannya, dan motor metik hitam sederhana yang selalu setia. Juya menatap keduanya sebentar.
“Hari ini motor aja deh,” gumamnya. “Biar gampang nyelip.”
Dengan helm setengah wajah dan earphone terpasang, ia meluncur menuju kantor. Angin pagi menyapa, dan seperti biasa, perasaan bebas selalu muncul tiap kali ia menyalakan motor itu.
💜
Jam makan siang, Juya memutuskan mampir ke sebuah mall dekat kantor untuk sekadar melepas penat. Ia berniat membeli minuman favoritnya dan sedikit window shopping. Rambutnya ia ikat santai, jaket jeans menempel di tubuhnya, membuatnya tampak seperti mahasiswa yang baru selesai kuliah.
Tapi langkahnya terhenti mendadak.
Di depan sebuah butik mewah, berdiri sosok yang tidak asing baginya. Venzo.
Dengan setelan jas rapi, postur tegap, dan tatapan dingin yang tak pernah berubah, pria itu terlihat seperti pusat perhatian. Orang-orang di sekitarnya melirik, entah karena wibawa atau ketampanannya.
Jantung Juya berdetak lebih cepat. Dalam sepersekian detik, masa lalu kembali menyerbu kepalanya: luka, pengkhianatan, dan perpisahan yang menyakitkan.
Venzo menoleh, dan mata mereka bertemu. Hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat waktu terasa berhenti.
“Juya…” bibir Venzo bergerak pelan, seolah tak percaya bisa melihatnya di sana.
Tanpa menunggu lebih lama, Juya segera memalingkan wajah. Ia berpura-pura sibuk melihat ponsel, lalu melangkah cepat ke arah berlawanan.
Venzo sempat melangkah hendak mengejarnya. “Juya, tunggu—”
Namun Juya tidak menoleh. Ia mempercepat langkah, menyusuri lorong mall hingga sosok pria itu tertinggal jauh di belakang. Nafasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena rasa cemas yang mendesak d**a.
Baginya, bertemu Venzo hanya membuka kembali luka lama yang sudah berusaha ia tutup rapat. Ia tidak mau lagi mendengar alasan, penjelasan, atau apa pun dari pria itu.
Yang ia tahu, satu-satunya cara untuk bertahan adalah menjauh.
💜
Langkah Juya cepat meninggalkan mall. Nafasnya masih berat, hati masih berdegup kencang. Pertemuan singkat dengan Venzo barusan cukup membuatnya kacau.
“Astaga… kenapa sih semesta kayak hobi bercanda sama gue?” gerutunya, menyeberang jalan dengan langkah terburu-buru.
Ia memutuskan masuk ke sebuah café modern yang ada tepat di seberang mall. Harapannya cuma satu: menenangkan diri dengan secangkir cokelat panas.
Namun begitu pintu kaca café terbuka, matanya langsung membelalak.
Di pojok ruangan, duduk seorang pria yang sangat ia kenal. Leon.
Tapi bukan Leon seorang diri.
Di hadapannya, seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang tengah tersenyum manis sambil menyuapkan makanan ke mulut Leon. Gadis itu adalah Indah—pacar pertama Leon.
Juya spontan menepuk kening. “Ya Tuhan… ini hari apaan? Dari mantan, nyebrang dikit ketemu playboy satu ini.”
Ia buru-buru melipir ke meja paling dekat jendela, agak jauh dari sudut Leon. Sambil membuka menu, Juya melirik curi-curi pandang. Leon tampak lihai memainkan perannya: tertawa kecil, menatap penuh perhatian, seolah Indah adalah satu-satunya wanita di dunia.
Juya menahan tawa getir.
Kalau aja Indah tau… Leon itu punya cabang di mana-mana.
Ya, hanya Juya yang tahu rahasia itu. Bagaimana sahabatnya begitu mulus memainkan peran, tak pernah ketahuan, dan selalu punya alibi sempurna. Meski sering gemas sendiri, Juya tidak pernah membongkar rahasia Leon di depan siapapun.
“Dasar lo, Leon… cewek mana sih yang nggak klepek-klepek liat jurus gombal lo itu,” bisiknya sambil mengaduk cokelat panas yang baru saja diantar.
Juya menghela napas panjang. Dunia ini benar-benar terasa sempit. Di satu hari, ia harus berhadapan dengan bayangan masa lalu yang ingin ia hindari, lalu disambut pemandangan masa kini yang bikin ia geleng-geleng kepala.
Satu hal yang ia yakini: hari ini belum selesai memberi kejutan.