Langkah Juya cepat memasuki gedung kantornya. Ia sudah bersiap dengan map presentasi di tangan, berusaha mengusir segala rasa canggung setelah insiden di café tadi.
Hari ini ada meeting penting bersama klien besar—dan Juya tidak boleh ceroboh.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Namun semua persiapan mental itu runtuh begitu pintu ruang meeting terbuka.
Di ujung meja panjang, seorang pria duduk dengan postur tegak, jas mahal membalut tubuhnya, tatapannya dingin namun berwibawa. Senyum tipis tersungging di wajahnya saat mata mereka bertemu.
Venzo.
Juya membeku di ambang pintu. Detak jantungnya langsung melonjak, tubuhnya kaku seperti baru ditusuk es.
Ya Tuhan… kenapa harus dia lagi?
Tangannya menggenggam erat map presentasi sampai kertas di dalamnya hampir terlipat.
Venzo, sang mantan yang beberapa jam lalu sudah ia hindari mati-matian di mall, kini duduk hanya beberapa meter darinya—dan lebih buruknya lagi, sebagai klien utama.
Juya berusaha menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri.
“Kenapa ceroboh banget sih, Juya…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Namun telinganya sendiri cukup jelas menangkap suara batin itu.
Ia duduk di kursi dengan gerakan kaku, matanya menatap ke layar proyektor, berusaha keras menghindari sorot mata Venzo yang terus menempel padanya.
Suasana ruang meeting terasa penuh tekanan. Bukan karena materi presentasi yang rumit, melainkan karena satu hal: Juya harus berhadapan lagi dengan masa lalu yang ingin ia hapus dari hidupnya.
Dan kali ini, ia tidak bisa lari.
💜
flashback✨
Langit senja mewarnai garis pantai dengan gradasi jingga keemasan. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang menenangkan. Juya duduk di atas pasir putih, jari-jarinya sibuk menggambar garis-garis tak beraturan, sementara Venzo duduk di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya.
“Aku suka pantai,” ujar Juya lirih, matanya menatap jauh ke arah ombak yang saling berkejaran. “Rasanya tenang… kayak semua masalah hilang begitu aja.”
Venzo tersenyum, tubuhnya sedikit condong ke arah Juya. “Aku juga suka. Tapi ada satu hal yang lebih aku suka daripada pantai.”
Juya menoleh, alisnya terangkat. “Apa?”
“Kamu.”
Wajah Juya memerah seketika. Ia buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke laut, pura-pura tidak mendengar. “Kamu ini… gombalnya nggak pernah abis, ya.”
Venzo terkekeh kecil, tapi nadanya tulus. “Aku nggak gombal. Aku serius, Ju. Rasanya dunia ini nggak ada artinya kalau aku nggak bisa lihat kamu ketawa.”
Juya terdiam. Ombak berdebur pelan, seakan mengisi keheningan di antara mereka. Ia menggenggam pasir, merasakannya jatuh perlahan dari sela jarinya.
“Aku kadang takut,” bisiknya, suaranya hampir kalah oleh angin laut. “Takut kalau semua ini cuma sementara. Takut kalau suatu hari kamu bosan.”
Venzo segera menoleh, menatap wajah Juya dengan sungguh-sungguh. Ia meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat.
“Dengar, Juya. Aku nggak peduli seberapa keras dunia berubah, aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Kamu rumahku. Kamu satu-satunya alasan aku bisa terus berdiri tegak.”
Mata Juya sedikit berkaca, tapi ia buru-buru menunduk, tersenyum malu-malu. “Kamu… bikin aku malu.”
Venzo tertawa kecil, lalu menatap ke arah laut. “Kalau aku bisa, aku mau biar waktu berhenti di sini. Cuma ada aku, kamu, dan ombak ini. Nggak ada yang lain.”
Dan sore itu, di tepi pantai, Juya percaya sepenuh hati bahwa Venzo benar-benar miliknya. Bahwa cinta itu akan bertahan selamanya.
💜
Suara riuh rendah kantin siang itu bercampur dengan aroma makanan khas karyawan. Piring-piring beradu, tawa, dan obrolan ringan memenuhi udara. Juya dan Aldi duduk di sudut ruangan, tray makan mereka sudah penuh dengan lauk seadanya.
“Cepet banget abisnya, ya?” komentar Aldi sambil melirik ayam goreng di piring Juya.
Juya mengedikkan bahu santai, lalu menyendok nasi. “Kalau makan siang gini emang nggak ada yang sisa. Rebutan.”
Aldi hanya terkekeh, mengaduk supnya pelan. Tapi sebelum ia bisa melanjutkan obrolan, suasana di mejanya mendadak terasa berubah.
Seseorang baru saja masuk ke kantin. Dengan langkah tegap, jas rapi, dan aura yang langsung mencuri perhatian banyak pasang mata. Semua orang tahu siapa dia.
Venzo.
Juya yang baru saja meneguk air mineral langsung tersedak kecil. Matanya membelalak, tubuhnya kaku. Ia buru-buru meletakkan gelas dan menunduk, seolah berharap keberadaannya tidak terlihat.
Namun tatapan itu—tatapan dingin namun penuh intensitas—sudah terkunci pada dirinya.
“Gawat,” gumam Juya dalam hati, buru-buru mengambil tray makanannya.
“Ayo pindah,” katanya pelan pada Aldi, hampir tanpa ekspresi.
“Hah? Kenapa? Tempatnya kan enak di sini—” Aldi belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Juya sudah berdiri, melangkah cepat ke arah pojok lain kantin.
Aldi tidak punya pilihan selain ikut, meski wajahnya penuh tanda tanya. Ia hanya bisa menenteng tray makanannya, setengah berlari mengejar Juya.
Dari kejauhan, Venzo masih berdiri, memperhatikan setiap gerakan Juya. Matanya tidak lepas sedikit pun, seakan sedang memastikan bahwa gadis itu benar-benar nyata di hadapannya.
Kini mereka duduk di pojok paling sepi kantin. Juya menunduk, pura-pura sibuk dengan makanan, padahal hatinya berdegup kencang. Aldi, yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.
“Ju…” panggilnya pelan. “Lo kenapa tadi? Kok kayak… ngindar gitu?”
Juya menghela napas, mencoba tetap tenang. “Nggak usah dipikirin.”
“Tapi—” Aldi menatap serius, alisnya berkerut. “Itu kan… CEO Venzo, kan? Dia keliatan kayak… ya ampun, Juya, dia jalan ke arah kita loh tadi. Kayak mau gabung.”
Juya mendesah panjang. Ia tahu pada akhirnya Aldi tidak akan berhenti bertanya. Dengan nada datar, ia akhirnya membuka mulut.
“Dia mantan gue.”
Tiga kata itu keluar begitu saja.
Aldi refleks membeku, sendok di tangannya hampir jatuh. “Apa?” suaranya setengah berbisik, setengah berteriak.
“Dia mantan gue,” ulang Juya, kali ini sambil menunduk, menusuk nasi dengan garpu.
Aldi ternganga. Kepalanya menoleh sebentar ke arah Venzo yang masih tampak dari kejauhan, lalu kembali menatap Juya. Tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Dan jelas, tatapan Venzo pada Juya barusan bukan tatapan biasa.
''Rival bukan sembarang rival.'' batin Aldi, bulu kuduknya meremang.
Ia menatap Juya lagi, mencoba membaca wajah sahabat sekaligus partner kerjanya itu. Tapi Juya sama sekali tidak menoleh. Senyumnya hilang, wajahnya kaku, seperti seseorang yang sedang berusaha keras menyembunyikan sesuatu.
Aldi menghela napas, lalu menunduk kembali ke piringnya.
Hari itu, makan siang yang biasanya terasa ringan berubah jadi penuh beban—setidaknya bagi dua orang yang duduk berseberangan di meja pojok kantin itu.
💜
Ruang kerja Venzo hanya diterangi cahaya lampu meja ketika pintu diketuk singkat, lalu terbuka begitu saja.
“Masih sibuk?” suara itu terdengar lembut, tapi Venzo tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
“Vely,” desisnya, tanpa basa-basi. “Bukankah gue udah bilang, jangan datang ke sini lagi?”
Wanita itu melangkah masuk, wajahnya tersenyum, seolah tak peduli dinginnya tatapan Venzo.
“gue nggak bisa tenang kalau nggak ngobrol sama lo. Lagi pula, lo satu-satunya orang yang ngerti gimana sakitnya dikhianati.”
Venzo menghentikan tangannya yang tengah membolak-balik berkas, menatap Vely dengan sorot tajam.
“Ngerti? Jangan samakan gue sama lo. Gue kehilangan Juya karena kesalahan yang lo buat. Lo yang hancurin semuanya.”
Vely menghela napas panjang, melangkah lebih dekat.
'' aku korban, dan lo tau itu''
'' lo pelaku! dan lo harus ingat itu.'' sudah cukup lama vezio sabar dengan kelakuan wanita itu, wanita yang menghancurkan semua impian nya.
'' tapi lo menikmati nya''
'' karena lo yang ngasih obat itu, dan asal lo tau lo enggak ada bandingan nya dari Juya, bahkan lo enggak pantas untuk di jajarkan dengan dia''
Vely keluar dengan rasa marah, perlahan ia kehilangan tempat bersembunyi dan itu mengancam keselamatan nya.
'' lo bakal menyesal karena sudah mempermainkan gue.''
💜
secangkir coklat panas dan biskuit menjadi teman santai Juya, setelah melewati hari yang begitu panjang dan melelahkan.
'' apes emang enggak ada di kalender'' Juya menyeruput coklat panas nya. perhatian Juya teralihkan ketika ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah nya, dan benar saja belum sempat Juya membuka pintu, pintu itu sudah lebih dahulu terbuka. bukan sang sahabat yang asal masuk rumah nya seperti rumah nya sendiri. Melaikan orang yang sudah melantar kan nya 4 tahun terakhir.
'' belum tidur?'' suara berat itu menyapa.
'' seperti yang di lihat'' singkat Juya.
'' papa kesini mau ngasih tau kamu kalau rumah ini bakal papa jual'' terang Indra. Juya terkejut bukan main, orang itu tidak pernah muncul sekalinya muncul membuat perkara.
'' ini rumah mama, pa. kenapa di jual? terus aku tinggal di mana?'' tanya Juya dengan nada yang menahan amarah.
'' kamu bisa kembali ke korea '' terang Indra.
'' apa ini permintaan isti baru papa? apa uang papa kurang sampai harus jual rumah ini, rumah ini enggak kosong pa. Ada Juya!'' sudah cukup lama Juya kesal dengan sikap papa nya yang semakin hari semakin semena-mena.
'' dia butuh modal buat membangun bisnis, dan rumah ini sudah terjual'' terang Indra.
'' gokil sekali anda'' Juya meremas rambut nya. '' aku ini masih anak papa dan akan selalu menjadi anak papa. kenapa papa bisa bersikap seakan-akan aku ini bukan anak papa'' emosi Juya pecah. '' oke kalau itu kemauan papa, Juya ikuti, tapi jangan pernah cari Juya jika istri dan anak baru papa itu ninggalin papa'' Juya naik ke kamar nya yang berada di lantai 2. Juya menatap satu bingkai yang ia letakkan di ujung meja kerja nya. foto itu ada tapi tidak pernah ia lirik.
'' mama kemana? Juya kengen'' Juya memeluk bingkai foto itu, foto yang di ambil 8 tahun lalu. '' rumah ini udah di jual papa,ma. dan mungkin Juya bakal jdi gelandangan'' kepala Juya terasa berat, banyak hal yang harus ia rubah.
'' Jeon ayo bawa gue ke korea, kita nikah dan hidup bahagia'' Juya merebahkan tubuh nya. perlahan mata nya tertutup karena rasa kantuk yang begitu besar.