bukan badai

1061 Kata
'' Rabbit '' suara itu memecahkan kesunyian rumah mewah milik Juya. '' oi Rabbit jalan jalan yok'' ajak Leon. '' malas gue, enak rebahan'' ujar Juya merenggangkan tubuh nya. '' ayo lah gue gabut nih'' rengek Leon seperti anak kecil yang minta beli es krim. '' ajak Kana aja, atau lo ajak pacar lo. mager banget ini, udah pw '' '' gue traktir bt21 deh'' '' oke gas'' itu jurus handalan untuk membujuk Juya '' nah gitu dong, buruan siap-siap gue tunggu'' tidak butuh waktu lama Juya sudah siap mengenakan kaos overzaise hingga menutupi lutut nya. '' ayo gas menjemput anak anak gue'' semangat Juya. selama perjalanan Juya hanya fokus dengan ponsel nya, karena ia sedang mencari sesuatu yang akan membantu masa depan nya kelak. '' lo ngapain sih?'' tanya Leon. '' lagi nonton konten suami gue'' bohong Juya, karena ia tidak mau membuat sahabat nya ini ikut terseret dalam masalah nya. '' yaelah enggak ada bosan nya apa tiap hari yang lo lihat dia mulu'' oceh Leon. '' tidak akan pernah bosan '' 35 menit berlalu mobil sudah terpalkir rapih. '' btw abis ini gue mau beliin gaun buat Indah'' ujar Leon. '' oke'' Juya begitu antusias menjemput bt21 nya, karena cara bahagia nya begitu sederhana. '' ih kamu begitu menggemaskan sekali cooky'' '' mau yang itu?'' tanya Leon, dan mendapatkan anggukan dari Juya. '' bukan nya lo udah punya yang warna pink ini ya?'' '' iya udah punya memang, tapi ini beda model nya, ayo lah langsung ke kasir aja'' '' terimakasih kak'' ujar Juya pada petugas kasir. '' yey akhir nya kamu di pelukan nya mama juga ya cooky'' cengir Juya. '' suka suka lo aja deh, sekarang temani gue buat beli gaun buat Indah'' '' gas'' Juya yang berangkat terlebih dahulu meninggalkan Leon yang masih berdiri di tempat nya. sesampai nya di toko yang Leon maksud, Leon langsung masuk menuju deretan gaun yang begitu indah dan cantik. '' nanti kalau lo nikah pakai ini pasti cantik'' ujar Leomn pada Juya. '' iya lah apa lagi suami nya Jeon Jungkook'' '' eh ini bagus enggak'' tanya Leon, tidak menanggapi celotehan Juya barusan. '' buat acara apa dulu nih?'' '' minggu depan dia menghadiri pesta di luar kota, dan gue mau kasih ini'' '' kurang cocok, dia itu model yang modis. gimana kalau yang ini'' Juya memperlihat kan gaun puih tulang.'' ini cocok dengan dia yang bercahaya'' '' oke, kita ambil yang ini'' 💜 “Capek banget ya kalau nemenin lo belanja,” gumam Juya sambil meregangkan punggungnya begitu mereka tiba di parkiran. Leon hanya nyengir. “Lo yang capek apa gue yang dompetnya terkuras?” candanya sambil menenteng paper bag berisi gaun Indah. Juya cengengesan. “Ya kan demi pacar lo. Tenang aja, kalau gue nanti nikah, lo gue kasih undangan VIP.” Leon hanya menggeleng. “Ngaco lo, Rabbit.” Mereka berdua hampir sampai ke mobil ketika suara tinggi seorang wanita terdengar. “Leon!” Langkah Juya terhenti. Matanya refleks menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan, Raisa melambaikan tangan, berjalan anggun dengan high heels berkilau. “Raisa…,” desis Leon pelan, seolah tak menduga gadis itu muncul. Juya hanya menelan ludah, mencoba menjaga ekspresi datarnya. Ia sudah terbiasa melihat Leon dengan pacar-pacarnya, tapi tetap saja ada bagian kecil di hatinya yang nyeri. “kamu habis dari mana?” Raisa mendekat, senyumnya manis tapi matanya langsung melirik sekilas ke Juya. Ada sinar tidak suka yang tidak bisa ia sembunyikan. “Belanja aja,” jawab Leon singkat. “Oh yaudah, pas banget. Antar aku pulang, ya? Mobil aku lagi dibawa adikku,” pinta Raisa sambil menggandeng lengan Leon tanpa menunggu persetujuan. Leon menoleh ke Juya, seperti baru ingat ia datang bersama sahabatnya. “Rabbit, gimana?” Juya menegakkan bahu, tersenyum tipis. “Santai aja, gue bisa pulang sendiri.” “Naik apa?” “Taxsi online, gampang kok.” Suaranya terdengar enteng, meski ada sedikit getar yang berusaha ia tutupi. Raisa mengangkat dagunya sedikit, puas mendengar keputusan Juya. “Makasih ya, Juya,” ucapnya singkat tapi dingin. Juya hanya tersenyum kaku, lalu melambaikan tangan kecil. “Gue cabut duluan. Hati-hati di jalan, Leon.” Ia melangkah pergi, punggungnya menjauh dengan langkah mantap. Tapi di dalam hati, Juya berusaha keras menahan perasaan yang bercampur aduk—antara pasrah, sakit, dan kebiasaan lama untuk selalu mengalah. Leon sempat menoleh, menatap punggung Rabbit yang kian jauh. Ada sesuatu di dadanya yang terasa tidak beres, tapi genggaman Raisa di lengannya membuat ia terpaksa melanjutkan langkah. 💜 Juya duduk bersila di atas ranjang, lampu kamar temaram menyinari dinding yang penuh dengan poster idolanya, rak buku berdebu, boneka-boneka kecil hadiah ulang tahun, hingga pigura foto-foto lama. Semua benda itu seperti berbicara, mengingatkan satu per satu kenangan yang pernah ia lalui di rumah itu. Matanya mengembara ke langit-langit. “Gimana rasanya ninggalin tempat yang udah kayak separuh hidup lo sendiri?” batinnya lirih. Ia menghela napas panjang. Tangannya menyusuri sprei ungu favoritnya, lalu berhenti di sudut meja belajar yang penuh coretan kecil—bekas tangannya sendiri saat masih duduk di bangku SMP. “Rumah ini bukan cuma bangunan, ini hidup gue,” bisiknya, suara parau menahan gejolak yang berkecamuk. Namun rasa sesak itu segera berganti dengan amarah. Ia memejamkan mata erat. Kenapa harus ada ketidakadilan yang ngerenggut semuanya? Hanya karena keputusan-keputusan orang lain, ia harus menanggung akibatnya. Juya bangkit, berjalan pelan menyusuri setiap sudut kamar. Dari lemari yang masih menyimpan baju SMA-nya, ke cermin besar tempat ia dulu bercanda dengan Leon setiap kali datang main. Hingga akhirnya ia berhenti di jendela yang menghadap balkon. Dari sana, ia bisa melihat samar rumah Leon di seberang. Seperti biasa, lampu balkon Leon masih menyala. Entah kenapa, pemandangan itu selalu memberi rasa aman. Tapi malam ini, justru menambah rasa kehilangan yang kian menyesakkan. “Kayak gini rasanya dipaksa ninggalin rumah sendiri…” Juya bersandar pada kusen jendela, matanya berkaca-kaca. Tangannya menggenggam sebuah foto lama—dirinya bersama kedua orangtuanya. Senyum mereka lebar, seakan dunia begitu ringan kala itu. “Andai mama tau, papa enggak menepati janji nya” lirihnya, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Namun di balik kesedihan itu, ada api kecil yang menyala. Gue nggak akan kalah sama keadaan. Rumah boleh direbut, tapi hidup gue nggak ada yang bisa ngatur selain gue sendiri. Juya menutup matanya, menenangkan diri. Malam itu, di kamar penuh kenangan, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berdiri meski segalanya terasa hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN