Deburan ombak terus berulang, seolah ikut mempermainkan waktu. Angin sore menampar wajah Felix, tapi pria itu tetap berdiri kaku di tepi pantai. Lima jam sudah ia di sana, tanpa bergerak sedikit pun, hanya menatap kosong ke horizon.
“Sayang, ayo pulang…” suara Vivian terdengar lembut, berusaha meraih perhatiannya.
“Lo duluan aja.” Jawab Felix singkat, tanpa menoleh.
Vivian mengembungkan pipi, menahan kesal. “Ih kok gitu sih? Tadi kan aku yang ngajak ke sini, masa sekarang aku yang ditinggal?” Nada manjanya terdengar memohon, tapi hanya terbentur pada dinding dingin.
“Gue mau sendiri.”
Datar. Penuh jarak.
Vivian menarik napas panjang. Sudah terlalu sering ia mendengar kalimat dingin itu, tapi setiap kali tetap saja hatinya tergores. Ia menunduk, menahan kecewa. “Yaudah… aku ke villa dulu.”
Kakinya perlahan melangkah menjauh. Baru beberapa meter, teriakan keras memecah senja.
“ARGHHHHHH!”
Felix meraung frustasi, hingga burung-burung beterbangan. Vivian menoleh sekilas. Dadanya sesak, matanya panas. Seharusnya ia tidak berada di posisi ini—dijodohkan dengan pria yang bahkan tak pernah menatapnya sebagai seorang wanita. Tapi apa daya, garis itu sudah ditetapkan. Namanya sudah lama terikat menjadi Nyonya Arsenio. Dan ia tak punya kekuatan untuk melawan.
Yang ia inginkan sederhana—mencintai dan dicintai. Tapi yang ia dapat hanya dinginnya dinding hati.
💜
Berbeda jauh, di sisi lain kota…
Ruangan sejuk itu membuat Juya dan Kena betah berlama-lama. Dua jam lebih mereka menelusuri rak, sementara stroller belanjaan hanya penuh dengan barang Kena.
“Kak Juya nggak mau ambil apa-apa?” tanya Kena, heran.
“Ada, tapi bukan di toko ini,” jawab Juya santai. “Udah selesai belanja?”
“Udah, ayo ke kasir.”
Setelah pembayaran beres, mereka bergeser ke toko yang Juya maksud. Kena baru sadar arah langkah mereka.
“Oh, jadi ke sini toh.” Senyumnya mengembang.
Juya menoleh sekilas. “Gue ambil album yang kemarin PO.”
Ia melangkah ke kasir, menerima paper bag cokelat dengan ekspresi puas.
Kena hanya bisa geleng-geleng. Ah, hobi satu ini memang dunia Juya.
“Sudah, ayo,” ujar Juya.
“Berapa tuh kak, albumnya?” kepo Kena.
Juya terkekeh kecil. “Cukup buat beli HP dua biji.”
“APA?” Kena melongo, nyaris terhenti langkahnya.
Belum sempat Kena mengomel, suara keras memanggil.
“Juya!”
Juya dan Kena spontan menoleh. Seorang pria mendekat dengan napas terengah-engah.
“Lo ngapain lari gitu?” Juya menaikkan alis.
“Tunggu… atur napas dulu…” Aldi menepuk d**a, lalu menyodorkan sebuah kartu. “Gue mau ngasih undangan. Lo dateng ya.”
Juya tersenyum tipis. “Thanks. Gue usahain.”
Setelah basa-basi singkat, Aldi pamit. Kena langsung mencolek Juya.
“Yaampun, kak… ganteng banget sih tadi orangnya!”
Juya hanya menggeleng. Senyum samar yang ia sembunyikan menandakan lebih banyak yang tak ingin ia ucapkan.
Namun langkah mereka kembali terhenti.
“Kena?” suara lembut menyapa. Seorang wanita cantik dengan aura elegan mendekat.
“Kak Raisa…” Kena menunduk hormat. “Aku sama Kak Juya.”
Raisa melirik singkat Juya. Tatapannya dingin, cepat berpaling seakan keberadaan Juya tak penting. Juya sudah terbiasa.
“Mau ke mana habis ini?” tanya Raisa pada Kena.
“Mau pulang, Kak.”
“Pulang sama aku aja.” Raisa menawarkan, suaranya terdengar manis tapi berlapis sesuatu.
Kena melirik Juya, bingung. “Aku bareng Kak Juya, Kak. Nggak enak kalau misah…”
“Dia bisa pulang sendiri, Kena. Kamu sama aku aja.” Raisa menekan kata-katanya.
Ketegangan tipis terasa. Juya cepat-cepat menengahi. “Pulang duluan aja, Ken. Gue masih ada yang mau dicari.” Kebohongan kecil demi menjaga kenyamanan.
Kena memberi tatapan minta maaf, seakan berkata ‘Maaf ya kak, aku nggak bisa nolak’.
Juya hanya tersenyum tipis, mengangguk.
Seperti biasa—ia memilih mengalah.
💜
Kena melangkah ragu mengikuti Raisa. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Juya baik-baik saja. Juya hanya tersenyum sambil mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa semuanya tak masalah.
Padahal, di dalam hati, ada rasa yang sulit ia sembunyikan. Bukan sakit hati, bukan pula cemburu—lebih ke lelah. Lelah menjadi orang yang selalu mengalah.
Begitu Raisa dan Kena menghilang di keramaian mall, Juya menarik napas panjang. Paper bag cokelat yang ia genggam terasa semakin berat, padahal isinya hanya satu album. Ia melirik jam tangan, lalu membuka aplikasi pemesanan transportasi di ponselnya.
“Taxi online, deh,” gumamnya pelan.
Beberapa menit menunggu di depan lobi, mobil putih berhenti di hadapannya. Juya masuk, menyandarkan kepala di jendela. Lampu-lampu kota berlari mundur, menyisakan siluet samar wajahnya yang terpantul di kaca.
Mobil melaju, tapi pikirannya tak ikut. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan setiap gedung, toko, dan jalanan yang terasa begitu akrab. Rasanya semua akan segera menjadi kenangan, sama seperti rumah yang kini sebentar lagi bukan lagi miliknya.
“Kenapa hidup gue harus sesulit ini, ya?” bisiknya lirih, hanya bisa didengar dirinya sendiri.
Air matanya nyaris jatuh, tapi buru-buru ia usap. Senyum samar ia paksa muncul, seakan mencoba menenangkan hatinya sendiri.
“Tenang, Juya. Kamu masih punya hal-hal kecil yang bikin bahagia. Kayak album ini…” ujarnya, menepuk lembut paper bag di pangkuannya.
Di kursi belakang taksi online itu, Juya kembali menyalakan ponselnya. Layar menampilkan wajah seseorang yang hanya bisa ia kagumi dari jauh.
Satu-satunya hal yang bisa membuatnya tersenyum tulus, meski kenyataannya… ia pulang sendirian.
💜
Sudah 2 jam lebih Juya di buat bingung dengan dua pilihan. Antara berangkat ke acara keluarga Aldi atau menikmati rebahan di atas tempat tidurnya yang begitu nyaman.
Drettt drettt drettt
Ponselnya berbunyi dan Juya melirik tidak bersemangat. Terlihat profil wajah tampan Aldi, ah haruskah ia berpura-pura lupa ingatan. Sepertinya itu ide buruk
" Astaga gue mager sekali " Juya mengacak-acak rambut nya.
" Kenapa orang kaya ribet banget sih. Perkara makan aja harus di buat acara segala. " Gerutu Juya.
Drettt drettt drettt
Namun kali ini bukan profil Aldi, melaikan Leon. Juya meraih benda pipih itu.
" Buka pintu" Ujar seseorang dari sebrang sana.
" Sabar, enggak usah ngegas" Juya bergegas menuju pintu depan.
" Apa? " Sewot Leon.
" Yang bilang itu harusnya gue bukan lo" Jawab Juya.
" Minggir gue mau lurusin pinggang " Leon menerobos Juya yang masih berdiri di ambang pintu.
" Rumah siapa yang di usir siapa" Heran Juya mengikuti langkah Leon menuju ruang tengah.
"Wisss cantiknya tetangga gue ini," puji Leon jujur.
"Tuh pot bunga gue udah perawatan," tangkis Juya. Gadis ini benar-benar susah diluluhkan.
"Lo yang cantik goblok."
"Lo yang goblok."
"Kok gue?" tanya Leon.
"Kalau gue cantik, gue enggak bakal diselingkuhi," ah, Juya selalu kesal jika mengingat kejadian sialan itu.
"Lo mau ke mana rapih banget?" tanya Leon memperhatikan pakaian yang Juya kenakan.
"Pas banget lo nanya gitu, ikut gue yuk," Juya antusias.
"Kemana?"
"Gue dapet undangan makan malam keluarga rekan kerja gue, tapi gue mager banget nih," jelas Juya.
"Yaudah kalau mager enggak usah dateng, simpel kan."
"Ati lo tuker juga sama punya ayam, lebih berfaedah punya ayam deh," cibit Juya. "Kalau gue ngajak lo, kan gue bisa pulang cepet gitu loh," lanjut Juya menjelaskan.
"Ada upahnya gak nih?" Leon menaik-turunkan alisnya.
"Kebiasaan, temen kere juga dipalak," oceh Juya membuat Leon tersenyum senang.
"Oke gue mau."
"Yes!" Juya bergegas ke atas untuk bersiap-siap. Setidaknya rambutnya tertata rapih lagi, tidak seperti orang baru bangun tidur.
15 menit Leon menunggu di teras rumah Juya, Juya keluar dengan stelan rapih. Tidak mengenakan dress namun tampak anggun dan menawan.
Sudah sekian kali mereka meributkan hal yang serupa, namun mereka selalu balik lagi. Seolah-olah tidak pernah ada keributan sebelumnya.
30 menit berlalu, mobil terparkir rapih di salah satu perumahan elit.
"Lo yakin ini alamatnya?" Tanya Leon memastikan.
"Yakin kok," Juya mengecek undangan yang Aldi berikan kemarin.
"Gila rumahnya mewah, tapi jadi karyawan," komen Leon tertawa garing.
"Lah kenapa? Lo jadi ngurusin hidup orang," Juya lebih dahulu melangkah masuk.