Dilamar?

1267 Kata
Leon menyusul langkah Juya yang tidak bisa santai. "Permisi," penjaga rumah menghentikan langkah mereka. "Undangannya, nona," ucap penjaga itu. Juya memberikan undangan miliknya. "Dia ikut dengan saya," jelas Juya, mengerti tatapan penjaga pada Leon. "Oh, silakan masuk." Leon berjalan memperhatikan sekitar sudut ruangan. "Ini rumah?" tanya Leon. Bukan Leon katrok atau norak. Lebih ke tidak percaya rumah, namun seperti hotel bintang lima. Hanya untuk acara makan malam rumah disulap menjadi sedemikian rupa. Ini super niat yang Leon pernah lihat. Juya menahan ketawa melihat reaksi wajah konyol sahabatnya. Juya sudah bisa menduga kalau sahabatnya ini terkagum-kagum melihat rumah milik Aldi. "Juya!" panggil seseorang. Juya menoleh melihat sumber suara yang sangat ia kenal. Aldi berjalan gagah menuju tempat Juya dan Leon berdiri. "Ayo masuk," ajak Aldi ketika jarak mereka sudah dekat. "Eh ken—" "Dia sama gue, soalnya gue enggak bisa keluar malam sendirian," Juya mencari alasan. Dia sudah tahu kalau kehadiran Leon pasti tidak diinginkan oleh Aldi. Namun, Leon akan menjadi penyelamatnya; pulang nanti Juya tidak akan sendirian. Leon akan menjadi penyelamatnya, pulang malam sendirian tidak pernah ada dalam bayangan Juya, mending dia di rumah rebahan dan drakoran. "Ayo," Aldi mengabaikan kehadiran Leon di samping Juya. Leon melangkah mengimbangi langkah kaki Juya. Juya hampir tidak pernah mengenakan gaun atau dress semenjak kejadian sial menimpanya beberapa tahun lalu. Membuat Juya tidak begitu tertarik lagi. Sepertinya kehadiran Leon salah, ini bukan makan malam bersama perayaan pernikahan atau semacamnya, seperti makan malam keluarga inti. Leon melirik sahabatnya yang berdiri canggung melihat sekitar. Sepertinya dia salah kostum, Leon tertawa dalam hati. Lucu sekali melihat wajah merah sahabatnya itu. "Duduk," pinta ramah seseorang paruh baya. Juya duduk di sampingnya Leon dan samping kirinya Aldi. Kenapa Juya di tengah-tengah orang ganteng sih. Membuat konsentrasinya bubar. "Ah, kenapa gue jadi bengong," kebiasaan buruk Juya adalah di saat ia di tengah keramaian, Juya merasa kosong. Di situlah Juya melamun. Leon yang mengetahui perubahan reaksi wajah sahabatnya mulai antisipasi, Leon cukup mengenal sahabatnya itu. "Jangan bengong," bisik Leon yang dapat disadari oleh Aldi. Aldi menoleh ke arah sekitar memastikan kondisi aman. "Lo sakit?" tanya Aldi berbisik, nampak khawatir. "Enggak kok," Juya berkata jujur. Dia tidak sakit, hanya saja situasi yang membuatnya melamun seperti orang yang sedang sakit. "Mari kita makan," ajak wanita berusia sekitar 47 tahun. Wanita itu nampak masih begitu cantik, tidak terlihat keriput di wajahnya. "Ini piringnya," salah satu gadis berusia tanggung memberikan 2 piring pada Juya. "Jungkook tolong gue!" jerit hati Juya. Dia gadis yang begitu peka terhadap situasi. 15 menit berlalu tanpa ada obrolan, tanpa ada candaan, makan malam berjalan secara khidmat. Aldi yang lebih dulu pergi entah ke mana, dan Leon tidak peduli. Pria itu membuat matanya kesal saja. Dasar Leon tidak ingin mengakui ketampanan pria lain saja. "Nak Juya, ini rekan kerjanya Aldi?" tanya pria paruh baya tadi. Nada bicaranya begitu lembut, penuh tutur kata, sangat sopan. Ah, Juya mana bisa berbicara seperti itu. "Iya om," jawab Juya ramah. Ada 8 orang di sana termasuk Leon dan Juya. Enam orang lainnya adalah keluarga inti Aldi. "Tinggal di mana?" tanya salah satu gadis, sepertinya seusia mereka. "Di—" belum selesai Juya melanjutkan kalimatnya, lampu ruangan mati. Namun tidak ada yang terlihat histeris. Lampu kembali menyala dan memperlihatkan Aldi dengan senyum manisnya, berlutut di samping kursi tempat Juya duduk. "Marry me," ucap Aldi sambil memperlihatkan cincin permata di kotak biru itu. Bukan cuma Juya yang terkejut melihat apa yang baru saja Aldi katakan. Leon pun melongo, tidak percaya kalau sahabatnya dilamar di depan keluarga besar. "Al, lo enggak lagi bercanda kan?" Juya memastikan. "Gue serius. Gue suka sama lo dari pertama kali lo ngelamar kerja beberapa tahun lalu," ungkap Aldi. "Dan gue minta maaf sebelumnya, ini mungkin sangat mendadak dan buat lo terkejut." Aldi berdiri di hadapan semua anggota keluarganya. "Dia, Juya, gadis yang super ceria yang pernah kakak kenal. Dia yang ingin kakak jadikan istri," ungkap Aldi di depan semua orang. Juya hanya melongo, tidak percaya. Ah, bahkan dia belum sempat konser ke Korea. Ini tidak mungkin! "Nak Juya, saya Hadikusumo, pemilik perusahaan tempat nak Juya bekerja," ucap pria paruh baya itu. "Dan Aldi adalahadalah putra saya " Hal mengejutkan apa lagi ini yang Juya ketahui. Pantas saja Aldi sering terlambat dan sesuka hatinya mengambil cuti, ternyata itu perusahaan Ayah nya. " Lo di lamar? " Bisik Leon tidak percaya. Melihat sahabat di lamar di depan keluarga besar. Bahkan Juya tidak pernah membayangkan di lamar orang kaya dalam dunia nyata nya. ⏰Tringgg... Tringgg... Tringgg Bug Tubuh Juya tersungkur di lantai. " Aduh" Erang Juya ke sakitan, mengusap tumbuh nya yang terasa sakit. " Mimpi apa itu, serem banget " Gumam Juya, bangun dari lantai. " Astaga" Juya terkejutnya melihat sudah pukul 8 pagi dan dia kesiangan untuk berangkat kerja. " Mimpi sialan! "Umpat Juya kesal. " Tapi untung haanya mimpi "Karena mimpi itu membuat dirinya bangun kesiangan. " Yaudah lah udah terjadi juga. Gue nonton suami suami gue aja " Juya meraih ponselnya membuka aplikasi favorit nya. Di sana ia bisa menemukan kebahagiaan sesuatunya. Tidak terasa sudah dua jam Juya hanya rebahan dan menonton grup band korea itu. Ia merasa malas malasan hari ini. 📞Drettt drettt drettt Ponsel Meenampaak profil seseorang yang baru saja mengusik mimpinya. Aldi. " Astaga mati gue" Bingung Juya harus bagai mana. Juya mengatur nafas agar tidak terlihat gerogi. Ah sial kenapa ia harus mengingat mimpi sialan itu. " Halo" Sapa Juya santai. " Lo sakit? " To the point Aldi. Refleksi Juya memegang kening nya yang tidak panas atau hangat. " Enggak kok, kenapa? " Bingung Juya. " Syukur lah kirain lo sakit, soalnya semalam enggak datang " Juya langsung melihat gaun yang berjejer di atas sofa. " Ah sorry ya, semalam gue udah siap tapi ketiduran, sorry banget ya" Setidaknya ia tidak sepenuhnya berbohong. " Enggak apa apa. Yang penting lo enggak sakit " " Gue sehat jasmani rohani kok, tenang aja" " Oke lah. Nanti gue ke rumah lo, mau nganterin suvernir punya lo" " Oke " Panggilan terhenti dan Juya dapat bernafas dengan lega sekarang. 💜 Pagi ini Leon tidak sempat sarapan di rumah, sehingga ia harus sarapan di kantin. Suasana kantin sepi hanya ada beberapa orang yang sedang minum kopi. Dan Leon memilih untuk sarapan dengan nasi uduk, ia memilih duduk di pojok kantin, karena ia lebih suka sepi. " Gara-gara mimpi sialan" Kesal Leon, karena mimpi itu ia bangun terlambat dan membuat nya serba cepat dan ia harus skip sarapan masakan Bunda nya yang super lezat. " Lupa sarapan ya? " Tanya seseorang. Leon tidak menjawab dan tidak menoleh, ia masih melanjutkan makan nya. " Semalam gue lihat lo jalan sama cewek, Cantik loh. " Lagi lagi gadis itu tidak putus asa walau lawan bicara nya hanya membuang muka. Dan sepertinya Leon salah sarapan, tidak biasanya ia mengabaikan seseorang apa lagi wanita, itu bukan jiwa Leon. " Hampir tiap hari kita ketemu, tapi kita enggak saling ngobrol bahkan saling sapa pun enggak pernah " Ujar gadis itu pasrah. " Gue sadar gur salah. Tapi apa harus kayak gini sikap lo ke gue. Seakan-akan lo enggak pernah lihat gue ada" Leon tidak menanggapi, ia masih fokus dengan sarapannya nya yang kini sudah hampir habis karena ia menggunakan kecepatan kilat. Leon menyelesaikan kunyahan terakhir nya dan berdiri dari tempat duduk nya. " Mau kemana? " Tanya Vely. Leon hanya diam seribu bahasa. Vely meraih lengan Leon ia mengenggam nya begitu erat. Leon melirik sinis, " Lepas " Sinis Leon. " Enggak mau" Tolak Vely. " Gue mau berak jadi lepas " Asal Leon, dan tangan itu terlepas dari lengan Leon. " Lo udah merenggut kebahagiaan Juya" Batin Leon setelah pergi dari kantin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN