mimpi sial!

1517 Kata
“Wah, datang-datang wajah ditekuk gini. Ada apa nih?” goda Dimas begitu melihat Leon masuk dengan muka kusut. “Enggak biasanya lo masang wajah sejelek ini pagi-pagi,” timpal Haikal, pura-pura heran. “Apa jangan-jangan dicuekin Juya?” tebaknya. “Berisik kalian!” semprot Leon, tapi Bastian langsung menimpali. “Kayak baru kenal Leon kemarin aja. Wajah dia itu cuma ada dua kemungkinan. Kalau enggak gara-gara Juya, ya gara-gara Mak Lampir galak,” jelas Bastian sok bijak. “Ngerusak mood pagi gue banget, sumpah,” keluh Leon sambil menjatuhkan diri ke kursi. “Yaelah, kirain masalah gede,” Dimas cekikikan. “Gue males banget sama dia,” suara Leon terdengar sinis. “Padahal dulu kalian akur banget loh,” Dimas mencoba mengingatkan. “Dulu, Dim. Bukan sekarang.” “Emang sih, jahat banget dia,” sambung Haikal serius. Mereka bertiga tahu benar siapa Vely itu—perempuan yang merebut kebahagiaan Juya. Dan kalau kebahagiaan Juya rusak, otomatis kebahagiaan Leon pun ikut hilang. Fakta itu mereka dengar langsung dari Leon, beberapa tahun lalu. “Mood Leon ini bisa balik adem kalau ketemu Juya,” goda Haikal lagi. 📱 Drett… drettt… Mereka kompak melirik sumber suara, dan benar nama Rabbit terpajang jelas di layar ponsel Leon. Melihat nama itu saja Leon sudah bisa tersenyum, mood nya membaik. “Hallo?” sahut Leon sambil mengangkat ponsel. “Kenapa?” tanyanya datar. “Nanti kalau lo pulang gue nitip coklat ya,” suara Juya terdengar di seberang. “Lo enggak kerja?” Leon mengernyit. “Bangun kesiangan,” jawab Juya santai. “Oke, nanti gue beliin. Lima jam lagi gue pulang.” Leon menutup telepon. “Naah kan, bener kata gue,” seru Haikal. “Mood dia langsung balik kalau denger suara Juya.” Mereka bertiga pun ngakak bareng melihat perubahan ekspresi Leon. 💜 “Ya ampun, gue bakal ninggalin rumah masa kecil gue cuma gara-gara selingkuhan bokap mau bikin usaha,” keluh Juya sambil menatap pekarangan rumahnya. Banyak kenangan yang ia punya di sini, dan rasanya berat sekali harus melepasnya. “Ah, mending rebahan aja daripada gabut enggak ketolong,” gumamnya. Baru saja hendak masuk, sebuah mobil berhenti di depan pagar. Juya langsung menegakkan tubuhnya. Mobil itu tidak familiar, tapi ia sudah bisa menebak. Dugaan benar—Aldi turun dengan wajah ramah. “Mau ke mana?” tanyanya. “Gue mau masuk, habis nyantai di teras. Ayo masuk,” jawab Juya singkat. Aldi mengikuti langkahnya. Juya ke dapur, lalu kembali dengan dua gelas es jeruk segar dan beberapa biskuit. " Gue enggak boleh gerogi. Itu cuma mimpi, ingat mimpi " Juya meyakinkan dirinya. “Gue seneng liat lo enggak sakit,” kata Aldi saat Juya meletakkan minuman. Juya tersenyum tipis. Kepalanya masih terbayang mimpi aneh semalam. “Sorry banget ya, gue malah ketiduran.” “No problem. Yang penting lo sehat, itu udah bikin gue bersyukur.” Aldi tersenyum manis—senyum yang bisa bikin siapa pun salah fokus. “Oh iya, ini souvenir punya lo. Semalam gue sisihin,” ucap Aldi sambil menyerahkan sebuah peper bag oren. Juya menerimanya. Tampan sih, iya. Tapi hatinya masih trauma untuk membuka lembaran baru. Butuh waktu. Obrolan mereka cukup lama. Seperti biasa, Juya lebih sering mendengar sementara Aldi antusias bercerita. Tin… tin… tin! Suara klakson mobil keras terdengar. Juya refleks berdiri. Ia tahu betul siapa yang bikin onar ini. “Berisik banget lo, Macan tutul!” serunya begitu membuka pintu. “Kebablasan,” cengir Leon sambil turun dari mobil, lalu masuk rumah tanpa permisi. “Remedial banget nih otak orang,” dengus Juya sambil mengikutinya ke ruang tamu. Aldi tampak kaget melihat Leon. “Eh, ada tamu toh,” Leon nyengir cuek. “Lah, kok lo bisa di sini?” Aldi heran. Leon hanya melirik sinis, pikirannya masih teringat mimpi semalam. “Tuh rumah gue,” jawabnya santai sambil nunjuk ke arah rumah sebelah. “Oh… Gue pulang dulu ya, Juya. Sampai ketemu besok,” pamit Aldi buru-buru. “Thanks ya,” balas Juya. 💜 Setelah Aldi pergi, tinggal Juya dan Leon. Suasana hening. “Minimal kalau mau apel, ya malam lah. Jangan siang bolong kayak gini,” sindir Leon. “Eh, mulut difilter dulu. Dia kesini bukan buat apel. Dia nganter souvenir,” bantah Juya. “Souvenir apa?” Leon mendekat penasaran. “Semalam gue diundang makan malam, tapi gue ketiduran. Jadi dia bawain souvenir karena gue enggak dateng.” “Wow… gue buka ya?” “Buka aja. Gue juga penasaran.” Leon membuka tas itu. “Kayaknya cuma box doang, isinya rempeyek,” godanya. Tiba-tiba Leon melotot. “Gila, mimpi gue enggak meleset!” “Emang lo mimpi apa?” Juya langsung kepo. “Gue mimpi Aldi itu anak orang kaya. Bokapnya pemilik perusahaan tempat lo kerja,” jelas Leon. Juya terdiam. Ia juga mimpi hal yang sama semalam. “Lo mimpi gue dilamar?” Juya menatap serius. “Lah, kok tau? Lo dukun ya?” Leon melongo. “Lo mimpi gue dilamar di depan keluarganya?” Juya memastikan lagi. Leon langsung merinding. “Astaga… tebakan lo bener semua. Ini asli bikin bulu kuduk gue berdiri.” “Gue juga mimpi itu semalam,” bisik Juya pelan. “Hah? Serius?” Leon hampir teriak. “Enggak usah teriak, budeg tau,” semprot Juya. “Kok bisa samaan gini? Tapi ini cuma mimpi, kan?” “Iya, untung cuma mimpi. Gue belum sempat ketemu Jungkook lagi soalnya,” cemberut Juya. “Tas ini mending gue jual aja, buat beli tiket konser. Lumayan kan.” Leon spontan menoyor kepala sahabatnya. “Sadar, oi!” lalu mengacak rambut Juya. “Oh iya, ini coklat pesenan lo,” Leon menyerahkan coklat. Juya melirik jam dinding. “Eh, tadi lo bilang lima jam lagi pulang. Ini belum ada lima jam, lo udah balik.” “Gue alergi cicak,” jawab Leon asal. “Lo makan cicak goreng?” Juya melongo. “Kalau g****k jangan kebangetan,” Leon manyun. “Lo yang g****k! Sejak kapan liat cicak bikin alergi. Kecuali lo ketempelan mahluk baru.” “Ah, itu tempe kali.” “Iya lah, gue kan pinter. Beda sama lo,” Juya nyengir bangga. Leon cuma bisa geleng-geleng sambil nyengir. Mau seberat apa pun mood-nya, cuma Juya yang bisa bikin hatinya adem lagi. 💜 Leon sudah siap dengan pakaian rapi dan wangi malam itu. Ia berencana menonton bioskop bersama Raisa karena hari ini gadis itu berulang tahun. Hitung-hitung, Leon ingin belajar menjadi pacar yang baik. Padahal ia Raisa bukan satu satunya pacar yang Leon miliki. “Bun, mobil Abang mana?” tanya Leon pada bundanya. “Mobil Abang dibawa Ayah, Sayang. Mobil Ayah masih di bengkel,” jawab Bunda yang sedang menonton TV bersama Kena. “Terus Abang keluar naik apa dong?” Leon mengernyit. “Pinjem mobil atau motor Kak Juya aja,” sahut Kena santai. “Lah, kok Abang yang jadi minjem?” gerutu Leon. “Kalau nggak mau yaudah, jalan kaki aja. Itung-itung olahraga,” ledek Kena sambil terkekeh. Bunda ikut menimpali, “Benar kata adik kamu. Pinjam mobil Juya aja, toh mobil dia juga jarang keluar, kan?” “Yeyeyee…” Leon beranjak dengan wajah kesal, lebay sekali seolah dunia runtuh. Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan rumah sahabatnya. Lampu rumah itu gelap gulita, tidak biasanya rumah sahabatnya itu segelap ini. Karena yang Leon tau sahabat nya paling takut gelap. Tok tok tok. Tidak ada jawaban. Pintu rumah tidak terkunci, tidak seperti biasanya. “Rabbit?” teriak Leon. “Lo di rumah?” Ia naik ke lantai dua, menuju kamar Juya. Leon mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia mencoba menelepon. Nada dering khas Juya terdengar dari dalam kamar. Leon memberanikan diri membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. “Rabbit?” panggilnya pelan. Juya terlihat tertidur pulas, berselimut tebal. Leon mendekat, lalu menyentuh pipi sahabatnya. “Lo sakit? Panas banget…” gumamnya cemas. Leon buru-buru turun untuk mengambil wadah air hangat. Ia kembali membawa mangkuk dan mencari kain di lemari Juya. “Pakek daleman lo bisa kayaknya,” celetuk Leon sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana meski wajahnya tetap khawatir. Ia lalu mengompres kening sahabatnya dengan serius. “Gue minjem handuk lo ya,” lanjut Leon sambil mengambil handuk kecil dari lemari. “Masa dikasih tas branded langsung sakit? Lawak lo…” Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Leon cepat-cepat mengecilkan volume agar tidak mengganggu tidur Juya. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam. Call — Sayang 💙 Leon menjauh sedikit agar suaranya tidak mengganggu. “Halo,” sapanya. “Sayang, sampai mana?” tanya Raisa dari seberang. Leon berpikir sejenak, mencari alasan yang tidak akan menyakiti perasaan kekasihnya. “Kita nontonnya besok aja gimana, Sayang?” ujarnya pelan. “Kenapa?” suara Raisa terdengar kecewa. " Bunda mendadak minta anterin ke rumah Oma, dan aku enggak enak nolak nya" Bohong Leon. Karena dia tidak mungkin meninggalkan sahabatnya dalam keadaan seperti ini. " Gagal dong" Sendu Raisa. " Ganti nya besok saja gimana? " Bujuk Leon. " Tapi benar ya besok ". Telpon terputus, Leon melihat wajah pucat sahabatnya yang tidak biasanya seperti ini. " Bisa sakit juga lo ternyata " Gamau Leon duduk di sofa yang ada di kamar Juya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN