apa itu cinta?

1254 Kata
“Leon…” suara itu terdengar begitu lemah. Leon yang sedang asyik main game sontak menoleh ke sumber suara. Juya sudah bangun. “Sini, gue bantu.” Leon buru-buru meletakkan HP-nya dan membantu Juya untuk duduk. “Lo di sini?” Juya melirik heran. “Ya kayak yang lo lihat,” jawab Leon santai. Tapi tatapan Juya seakan menelanjangi penampilan sahabatnya itu. Ada sesuatu yang berbeda. “Mau ke mana lo?” tanya Juya dengan suara pelan. “Gue?” Leon menurunkan pandangan ke bajunya sendiri. Pakaian rapih, wangi, jelas-jelas bukan outfit mager. “Enggak ke mana-mana,” bohong Leon. Juya mengerutkan dahi. “Bohong ya? Baju lo rapi banget, wangi pula. Mau ke mana sebenarnya?” Juya jelas bukan tipe yang gampang dibohongi. Leon cepat-cepat mencari alasan. “Oh, ini… gue abis keluar sama Bunda. Terus pulang langsung ke sini, liat rumah lo gelap, pintu nggak dikunci pula. Yaudah gue masuk aja.” Bukan Leon namanya kalau nggak jago ngeles. Dan bukan Juya namanya kalau gampang percaya. Juya hanya mengangguk kecil, tenaganya habis untuk berdebat. “Lo udah makan?” tanya Leon sambil memperhatikan wajah pucat sahabatnya. “Belum.” “Gue pesenin makanan, lo mau apa?” tawar Leon. “Yang bisa langsung masuk perut, ada?” suara Juya lemah tapi masih sempat bercanda. Leon mendengus. “Untung lagi sakit. Kalau enggak, udah gue tonjok lo.” Ia membuka aplikasi pesan makanan. “Udah, gue pesenin bakso sama soto biar badan lo seger lagi.” 💜 “Morning, sayang,” sapa Vivian pada Felix yang sedang berjemur di bawah sinar matahari pagi. “Pagi.” Jawaban Felix singkat, datar, tanpa ekspresi. Vivian sudah terbiasa dengan sikap dingin kekasihnya itu, jadi ia hanya tersenyum tipis. “Sarapan dulu, sayang,” ajak Vivian lembut. “Duluan. Nanti gue nyusul.” Suaranya tenang tapi jelas menolak. “Yaudah, aku tunggu di restoran, ya.” Vivian melangkah pergi, meninggalkan Felix yang masih duduk dengan santai. “Sabar, Viv. Sabar. Kamu kan anak baik,” gumam Vivian pada dirinya sendiri sambil menuju restoran. Felix tetap di tempatnya, menikmati hembusan angin pagi yang menerpa wajah dinginnya. Namun pikirannya melayang ke mimpi semalam. Sosok itu… siapa dia? Kenapa menatapnya dengan senyum yang manis dan penuh arti? “Hanya mimpi,” desis Felix akhirnya, berusaha menepis bayangan itu. Ia bangkit, lalu berjalan menuju restoran tempat Vivian sudah menunggu. “Sini, sayang.” Vivian melambaikan tangan, tersenyum manis melihat kekasihnya datang. “Sudah pesan?” tanya Felix singkat, duduk di kursi seberang Vivian. “Sudah. Tinggal nunggu pesanan datang.” Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul membawa beberapa hidangan. “Permisi.” Felix menoleh sejenak. Di meja kini terhidang sate panas dengan aroma khas yang langsung menusuk inderanya. Sate… batin Felix. Seketika pikirannya kembali pada mimpi semalam yang masih meninggalkan tanda tanya. 🌙 Felix sedang duduk di pojok perpustakaan umum kota, menunduk dalam keasyikan membaca sebuah buku tebal. Suasana di sana cukup ramai, tapi tetap hening khas perpustakaan—suara orang berbisik dan langkah kaki yang pelan justru menenangkan pikirannya. Tempat sempurna untuk melarikan diri dari kebisingan dunia luar. “Boleh duduk di sini?” suara lembut seorang gadis terdengar. Tangannya memeluk beberapa buku bacaan. “Hmm,” jawab Felix singkat, dingin, tanpa menoleh. Gadis itu tidak menggubris sikap acuh Felix. Hanya ada kursi kosong di sebelahnya, jadi meski agak sebal, ia terpaksa duduk di samping pemuda cuek itu. Ia mulai membuka bukunya, membaca dengan khusyuk. Felix sempat melirik sekilas. Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tak mengerti, pandangannya tertahan. Wajah gadis itu… polos, tenang, dengan sorot mata yang begitu dalam. Baru kali ini Felix melihatnya di sini. “Lo orang sini?” bisik Felix tiba-tiba, hampir tak terdengar. Gadis itu menoleh, sedikit bingung, lalu memastikan sekitar tetap tenang. “Ngomong sama gue?” tanyanya balik, juga dengan suara pelan. Felix hanya menggumam singkat, “Hmm.” “Bukan. Gue bukan dari sini. Gue cuma berkunjung,” jawab gadis itu pelan, seolah takut mengganggu pengunjung lain. Felix mengangguk kecil. Tidak ada ekspresi berarti di wajahnya, tapi entah kenapa matanya masih tertahan pada gadis itu. Di luar jendela perpustakaan, cahaya matahari jatuh di halaman. Hamparan bayangan pepohonan berayun seolah jadi latar yang menambah suasana. Dan tanpa sadar, pikiran Felix melayang jauh… 🌙 Hamparan pantai menjulang luas, deburan ombak terdengar begitu indah sore itu. Suara tawa riang menghiasi senja di tepi pantai. Felix yang sedang berdiri menikmati indahnya langit jingga, tiba-tiba teralihkan oleh suara tawa seorang gadis. Suara itu begitu jernih, terdengar seolah mampu menembus dinding cueknya. "Sini lo!" teriak seorang teman yang sedang mengejar seorang gadis berlari, berusaha menghindari cipratan air ombak. "Udah, capek ketawa," ujar gadis itu sambil duduk di pasir, rambut panjangnya terurai bebas tertiup angin laut yang sepoi-sepoi. "Gue beli minum dulu," pamit temannya, meninggalkan si gadis seorang diri. Saat sedang membersihkan pasir yang menempel di bajunya, gadis itu tersentak ketika menyadari ada seseorang berdiri tidak jauh darinya. "Eh, lo…" katanya, menatap Felix yang masih menampilkan ekspresi datar seperti biasa. "Lo di sini?" tanya Felix dingin, tatapannya menusuk namun tetap tenang. "Iya, gue lagi liburan. Lo juga di sini?" sahut gadis itu sambil tersenyum kecil. Felix hanya mengangguk singkat. "Iya." "Oh, kenalin, gue Juya," ujar gadis itu sambil mengulurkan tangan, senyum manisnya begitu tulus, kontras dengan sikap dingin Felix. Felix menatap tangannya sejenak sebelum akhirnya menyambut dengan dingin. "Felix." 💜 "Sayang, kok ngelamun?" suara Vivian membuyarkan lamunannya. Vivian merasa canggung melihat Felix yang sedari tadi hanya diam. "Enggak suka sate-nya, ya?" tanya Vivian ragu. Felix menoleh, singkat. "Suka." "Yaudah, lanjutin dulu sarapannya, jangan bengong gitu," ucap Vivian mencoba mencairkan suasana. Felix hanya mengangguk, namun pikirannya masih melayang pada senyuman gadis yang baru saja dikenalnya di pantai. 💜 Pukul 09:21 pagi. Suasana yang tadinya hening mendadak berubah tegang. Keluarga besar Felix dan Vivian sudah berkumpul di ruang makan hotel mewah itu. Gelas-gelas kristal berisi jus jeruk berderet rapi, tapi tak seorang pun yang benar-benar menyentuhnya. “Kalain sudah menentukan tanggalnya?” tanya ayah Vivian, suaranya tenang tapi sarat tekanan. Semua mata langsung tertuju pada Felix dan Vivian. “Kami belum membicarakan tentang itu, Yah,” jawab Vivian sopan, tangannya meremas ujung serbet di pangkuannya. Senyumnya dipaksakan, hanya untuk menyamarkan rasa gugup. “Mau sampai kapan?” sahut mama Felix, nadanya lebih menusuk. Felix masih menunduk, kedua tangannya terkunci di atas meja. Vivian meliriknya, berharap sang kekasih mau bicara. Felix diam cukup lama. Terlalu lama, hingga detak jam dinding terdengar begitu keras menusuk telinga. Semua orang menunggu, tegang, hanya suara detak jam dan napas yang beradu dengan udara dingin AC. “Kalau kalian belum punya tanggal, biar kami saja yang mencarikannya,” ucap ayah Vivian akhirnya, suaranya mantap, seolah tak memberi pilihan lain. Vivian tersentak. “Jangan Yah, nanti kami bicarakan itu berdua. Ayah enggak perlu—” “Secepatnya,” suara berat Felix tiba-tiba memotong. Semua kepala menoleh ke arahnya. Vivian membelalakkan mata, hampir tak percaya pada apa yang baru didengarnya. Dia tidak salah dengar, kan? Telinganya masih normal. Felix yang selama ini dingin, yang selalu menghindar kalau bicara soal pernikahan, kini justru mengatakan itu dengan nada mantap. “Secepatnya, Om, Ma… kami akan menikah,” ulang Felix, kali ini lebih jelas. Tatapannya lurus ke wajah Vivian, dingin tapi dalam, membuat jantung Vivian berdegup tak karuan. Ruangan mendadak senyap. Bahkan sendok yang dijatuhkan salah satu pelayan pun terdengar begitu nyaring. Vivian merasa seperti terjebak di tengah pusaran badai—antara bahagia, bingung, dan takut. Ayah Vivian mengangguk puas, sementara Mama Felix tersenyum tipis. Tapi Vivian tahu, ini baru permulaan. Ada sesuatu di balik ketenangan Felix yang membuat suasana semakin menegangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN