“Morning, sayang,” sapa Juya pelan sambil menatap poster Jungkook yang menempel rapi di dinding kamarnya. Poster itu seolah menjawab sapaan manja gadis itu, membuat Juya tersenyum kecil meski tubuhnya masih terasa lelah.
Ia meraih ponsel di meja rias. Notifikasi pesan berderet-deret memenuhi layar, tapi satu pesan dengan tanda HRD di awalnya membuatnya terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan saat membuka pesan itu.
HRD
Kepada saudari Juya Hyun Aara,
Datangnya surat ini untuk memberitahu bahwasanya saudari sudah melakukan Alfa lebih dari perjanjian kontrak. Dan harus disayangkan saudari harus mengundurkan diri.
Sekian dan terima kasih atas partisipasinya.
Juya melongo membaca kalimat itu. Tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih mendadak terasa semakin lemas. “Pengangguran dong gue…” gumamnya lirih. Pandangannya jatuh ke poster Jungkook. “Terus gue nafkahin kalian gimana, oppa?” rengeknya sambil menatap wajah idolanya yang tersenyum dalam poster.
Suara pintu terbuka memutus lamunannya.
“Makanan siap,” ucap Leon sambil masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
Spontan Juya menyelipkan ponselnya di bawah bantal, menyembunyikan pesan barusan.
“Cepet banget?” tanyanya, berusaha menutupi ekspresi kacau.
Leon nyengir, menaruh nampan di meja kecil samping tempat tidur. “Tadinya gue mau masak, tapi di rumah lo nggak ada bahan. Jadi gue balik dulu ke rumah, ambil makanan.”
Juya menatapnya tanpa berkata-kata. Ada rasa hangat karena perhatian Leon, tapi juga rasa takut kalau rahasia soal pemecatan itu terbongkar.
" Buruan di makan" Pinta Leon.
" Gue masih lemas nih " Ujar Juya, ia lemas bukan karena ia masih sakit. Lebih tepatnya karena ia harus menerima kenyataan kalau dirinya sekarang seorang pengangguran.
" Bilang aja mau di suapin gue" Seru Leon. " Buruan buka mulut, aaaa"
Juya merasa sedikit lega namun itu hanya sementara.
💜
“Felix…” suara Vivian terdengar pelan, hampir tertelan oleh debur ombak yang berkejaran di tepi pantai. Matanya menatap lelaki di sampingnya, berharap ada sedikit kehangatan di sana." Kamu yakin dengan keputusan mu? Bahkan aku belum bisa meluluhkan mu"
" Tidak perlu luluh" Singkat nya, menatap lurus kedepan. Felix menghela napas berat. “Kita menikah, tapi bukan berarti gue bisa suka sama lo,” ucapnya datar, menatap lurus ke depan seakan ombak lebih menarik daripada perasaan seorang istri di sisinya." Dan jangan paksa buat gue bisa suka sama lo" Kalimat itu penuh penekanan.
Kata-kata itu menusuk hati Vivian. Dadanya serasa diremas, sesak sampai sulit bernapas. Langkahnya terhenti, menatap punggung Felix yang terus berjalan tanpa menoleh.
" Aku tau" Seru Vivian.
“Kenapa lo harus sekejam itu, Lex…” bisiknya lirih, suaranya hampir hilang terbawa angin laut. Matanya memanas, tapi ia menahan air mata agar tidak jatuh.
Felix berhenti sejenak, tangannya mengepal kuat. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak, namun egonya terlalu tinggi untuk membiarkan kata-kata lembut keluar. Ia memilih tetap membungkam, membiarkan jarak di antara mereka semakin terasa jauh.
Vivian menggigit bibirnya, mencoba menelan pahitnya kenyataan. Pernikahan yang ia impikan penuh cinta, ternyata hanyalah ikatan kosong tanpa hati.
💜
Sore hati nya Juya merebahkan tubuhnya kembali ke kasur, menarik selimut pelan sambil memandangi punggung Leon yang baru saja keluar dari kamar. Hatinya terasa hangat, tapi juga aneh—ada perasaan berdebar yang sulit ia jelaskan.
"Kenapa sih dia baik banget… jagain gue kayak gini. Padahal biasanya dia cuma nyebelin doang," batin Juya sambil memejamkan mata.
Dari dapur terdengar suara berisik—bunyi panci, sendok, dan Leon yang bersiul pelan. Juya mengerutkan keningnya lalu tertawa kecil.
"Beneran masak tuh anak? Jangan-jangan ntar malah rumah kebakaran."
Beberapa menit kemudian, aroma roti panggang bercampur dengan wangi telur dadar masuk ke kamar. Leon muncul sambil membawa nampan sederhana. Wajahnya sedikit berantakan, ada noda minyak di pipi, tapi senyumnya cuek seperti biasa.
"Princess sakit ini sarapannya sudah jadi," ucap Leon sambil menaruh nampan di meja samping tempat tidur.
Juya menatap Leon dengan tatapan meledek. "Serius lo masak ini sendiri?"
Leon mendengus, lalu duduk di kursi dekat ranjang. "Ya iyalah. Gue nggak segitu payahnya, Juya. Cobain dulu deh. Kalau nggak enak, gue siap dimaki."
Juya tertawa kecil, lalu perlahan menyuap telur buatan Leon. Rasanya… ternyata enak. Lebih dari yang ia kira. Juya terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Leon.
"Enak kan?" Leon mengangkat dagunya, ekspresinya sok percaya diri.
Juya pura-pura datar. "Hmm… ya lumayan lah. Nggak bikin perut gue keracunan."
"Eh dasar nggak tahu diri. Padahal gue udah bela-belain masak, nggak tidur jagain lo semalaman," gumam Leon sambil menyandarkan kepala ke kursi.
Juya menatap Leon beberapa detik. Ada rasa haru yang muncul, meski disembunyikannya dengan tawa kecil. "Makasih ya, Leon…" ucapnya pelan, hampir berbisik.
Leon melirik sekilas, lalu pura-pura menutup mata. "Hmm, jangan baper lo. Gue cuma kasihan aja liat lo lemes." Tapi sebenarnya, dalam hatinya ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Juya tersenyum tipis, lalu kembali menyantap sarapan buatannya. Untuk pertama kali sejak lama, ia merasa benar-benar dijaga.
Juya masih melahap makanan buatannya Leon, sementara Leon pura-pura tidur di kursi dengan tangan disilangkan di d**a.
“Lo beneran nggak mau makan juga?” tanya Juya setelah meneguk air putih.
Leon membuka satu matanya, malas-malasan. “Gue udah kenyang liatin lo makan.”
Juya nyaris tersedak mendengar jawabannya. “Apaan sih! Gombal murahan!” Ia melempar bantal kecil ke arah Leon.
Leon terkekeh kecil, tapi segera menutupi senyumnya dengan pura-pura batuk. “Heh, jangan ge-er. Gue cuma lagi males makan aja.”
Juya melipat tangannya di d**a, pura-pura cemberut. “Ya udah, terserah. Jangan nyalahin gue kalau nanti lo pingsan sendiri.”
Suasana jadi hening sesaat. Hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring. Juya diam-diam melirik Leon yang masih duduk bersandar, matanya setengah terpejam. Ada sesuatu dalam ekspresi tenangnya itu yang membuat d**a Juya ikut berdebar.
Leon tiba-tiba membuka mata, menatap Juya cukup lama sampai gadis itu salah tingkah.
“Apa liat-liat? Ada yang aneh sama gue?” tanya Juya defensif.
Leon menghela napas pelan. “Nggak ada. Gue cuma… seneng aja lo kelihatan lebih baik sekarang.”
Ucapan sederhana itu membuat pipi Juya memanas. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan sisa makanan.
“Dasar cowok aneh…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Leon berdiri, meraih piring kosong di meja. “Udah, lo istirahat lagi. Gue cuci ini dulu. Jangan banyak gerak, badan lo masih lemes.”
Juya hanya mengangguk kecil, tapi matanya mengikuti punggung Leon yang berjalan keluar kamar. Untuk pertama kali, ia merasa nyaman dengan perhatian itu—meski sikap dingin Leon selalu bikin kesal.
Namun di sudut hati kecilnya, Juya mulai bertanya-tanya: Apakah perhatian ini cuma sebatas kasihan… atau ada sesuatu yang lebih dari itu?