Pagi itu, Leon memulai aktivitasnya seperti biasa. Ia mengenakan pakaian kerjanya yang rapi, berdiri di depan cermin dengan dasi yang sedikit miring.
“Gini nih kalau belum nikah,” gumamnya sambil terkekeh kecil. “Dasi miring kayak otak gue, enggak ada yang benerin.” Leon tertawa sendiri, melihat pantulan wajahnya di kaca.
“Bang, sarapan!” teriak Kena dari balik pintu.
“Otw,” jawab Leon. Ia meletakkan sisir di atas meja lalu membuka pintu. Di sana berdiri Kena, adiknya, yang sudah siap mengenakan seragam sekolah.
“Ayo!” ujar Kena ceria, berjalan lebih dulu dengan rambut yang diikat rapi.
“Morning, Bunda,” sapa Leon saat masuk ruang makan.
“Morning, sayang.”
“Morning, Ayah,” tambah Leon dengan senyum khasnya.
“Gimana pekerjaan, Bang?” tanya sang ayah.
“Seperti biasa, lurus-lurus aja. Kalau ada lobang terjang dikit, hehe,” jawab Leon sambil mencengir.
“Bang, nanti berangkat bareng ya. Bang Jhe kan udah rapi juga,” pinta Kena.
“Boleh,” sahut Leon.
Mereka bertiga menikmati sarapan dengan tenang. Keluarga mereka memang jarang terlihat oleh tetangga sekitar. Ayah Leon sibuk mengurus bisnisnya, hingga hampir tak pernah terlihat di rumah.
Namun Leon berbeda. Ia bukan tipe anak yang suka memanfaatkan harta keluarganya. Meski keluarganya terpandang dan bergelimang harta, Leon tidak pernah memamerkan kemewahannya. Ia bahkan tidak pernah menghamburkan uang seenaknya seperti anak-anak orang kaya kebanyakan. Baginya, kesederhanaan justru lebih nyaman.
“Ayo,” ujar Leon, melihat adiknya yang baru selesai memakai sepatu. Mereka pun keluar rumah menuju mobil.
Leon sempat melirik rumah di seberang. Lampu terasnya masih menyala. Belum berangkat juga, apa Juya kesiangan? batin Leon sambil melihat jam tangannya. Pukul 06.33.
“Tidak biasanya rabbit telat. Dasar kebiasaan,” gumamnya, sebelum masuk ke mobil.
“Ayo, Bang!” seru Kena bersemangat.
Leon menyalakan mesin mobil lalu mengantarkan adiknya ke sekolah. Di perjalanan, Kena berceloteh tentang pelajaran yang akan dihadapinya hari itu, sementara Leon hanya tersenyum, sesekali menimpali.
Sesampainya di sekolah, Kena turun. “Makasih, Bang!” katanya sambil melambaikan tangan.
Leon hanya mengangguk, lalu kembali melirik jam tangannya sebelum melaju ke arah kantornya.
💜
" Wah raja kadal kita datang nih" Sambut Haikal.
“Kenapa?” tanya Leon dengan senyum khasnya.
“Bau-bau ada yang lagi kencan nih. Sampai kemarin bolos kerja,” sahut Bastian.
“Yak betul, gue juga mikir gitu. Sama yang mana lagi nih?” Haikal terkekeh kecil, lalu melirik iseng ke arah Leon.
“Enak aja lo bilang. Gue enggak masuk bukan karena cewek. Gue bolos karena Juya sakit,” jawab Leon jujur.
“Lo serius?” tanya Bastian, menatapnya lekat.
“Hem, gue enggak tega lihat dia sakit. Udah hidup sendirian, enggak ada yang ngurusin kalau enggak ada yang peduli. Berhubung gue sahabatnya, ya gue rela bolos demi Juya,” jelas Leon dengan nada mantap.
“Kasihan juga ya dia. Keluarganya udah bubar, ditinggal sendirian, perempuan pula,” komentar Haikal prihatin.
“Dia enggak ada niatan buat nikah? Kalau dia nikah kan setidaknya ada yang nafkahin, ada yang sayangin dia. Dia enggak kesepian lagi,” terus Haikal, lalu melirik Leon yang tiba-tiba diam.
Leon hanya tertegun, sementara Bastian menatapnya penuh penasaran.
“Boro-boro nikah, pacar aja dia enggak punya. Standarnya artis Korea,” gumam Leon sambil membuka laptop.
“Gue enggak jelek-jelek amat,” seloroh Bastian, merapikan rambutnya.
“Bangun, oi!” sindir Leon.
“Lo sewot aja, Leon,” balas Bastian santai.
“Bukan sewot. Sebelum lo ngejar sahabat gue, minimal lo harus tahu spek idaman dia kayak gimana,” ujar Leon serius.
“Emang siapa idola Juya?” tanya Haikal penasaran.
“Grup band Korea, BTS,” jawab Leon sambil mendengus.
“Mundur, mundur,” tawa Haikal meledak. “Lo ketabrak realita, langsung terjungkal.”
“Hahahaha!” Leon ikut tertawa, diikuti Haikal. Bastian cuma menekuk wajah, pura-pura kesal.
Tok tok tok.
Ketukan pintu membuat mereka mendadak senyap. Tatapan langsung tertuju ke pintu.
“Maaf sebelumnya mengganggu waktunya,” ujar seorang gadis yang masuk, membuat wajah Leon langsung lusuh.
“Gue boleh ngobrol sebentar sama Leon, enggak?” tanya Vely sopan. Leon, Bastian, dan Haikal saling berpandangan.
“Gimana kalau nanti saja jam istirahat? Soalnya kita mau ngerjain proposal untuk meeting besok,” ujar Haikal.
“Betul sekali,” tambah Leon cepat.
“Oh, gitu ya. Yaudah deh, sorry ganggu waktunya,” Vely tersenyum tipis lalu berbalik hendak pergi.
“Huu, untung kalian peka,” ucap Leon.
“Wajah lo udah kebaca pas Vely masuk,” celetuk Haikal sambil terkekeh.
“Emang kenapa wajah Leon, Haik?” tanya Bastian polos.
“Wajahnya udah kayak baju lusuh, enggak layak dipakai lagi. Cocok buat pel lantai,” goda Haikal, yang langsung membuat ruangan pecah oleh tawa.
💜
Felix Arsenio, anak dari pengusaha ternama di China. Keluarganya begitu terpandang oleh masyarakat sekitar. Memiliki ketampanan dan rasa nasionalisme yang kuat membuat Felix memutuskan untuk tinggal di Indonesia, alih-alih ikut keluarganya yang masih menetap di China.
Felix lahir di Indonesia beberapa puluh tahun lalu, dari wanita cantik bernama Wulan. Perpaduan darah China–Indonesia dalam keluarganya membuat sosok Felix terlihat begitu menawan.
💜
“Mau sampai kapan lo kayak gini terus?” tanya Evan, sahabatnya, yang terlihat jengah melihat Felix hanya berdiam diri dengan tatapan kosong.
“Gue tau lo anak dari keluarga kaya raya, tapi apa harus lo cosplay jadi anak jalanan kayak gini?” sindir Evan sambil menggelengkan kepala. Ia sudah terbiasa menghadapi sahabatnya ini, apalagi kalau Felix sedang dirundung masalah.
“Gue hanya enggak mau kalau dia yang bakal jadi istri gue nanti,” gumam Felix dengan nada ketus.
“Tapi lo sendiri yang udah buat keputusan bakal segera menikahi Vivian,” sahut Evan.
“Gue tau!” seru Felix, lalu mengacak rambutnya frustasi. “Gue enggak bisa suka, apalagi cinta sama dia.”
Evan mendesah pelan. “Gue ngerti. Tapi lo sadar nggak sih, bukan cuma lo doang yang tersiksa? Vivian juga. Lo nggak lihat gimana kerasnya dia berusaha buat buka hatinya buat lo?”
Felix hanya mendengus. “Dia rela memutus kuliahnya cuma buat nikah sama gue? Cuma?” katanya sinis.
“Iya cuma,” Evan menatapnya tajam. “Lo kira Vivian siapa? Dia gadis pintar, cantik, dan keras kepala. Kalau dia nurut dijodohin sama lo, itu berarti dia bener-bener yakin lo lebih dari sekadar Felix Arsenio, pewaris keluarga kaya. Lo harus tahu itu!”
Felix terdiam. Kata-kata Evan menamparnya, tapi egonya masih menutup hati.
💜
“Sayang!” teriak Vivian dari arah seberang jalan.
“Tuh cewek lo. Buruan samperin, pasang muka paling manis,” cibir Evan sambil mendorong sahabatnya.
“Yeye,” sahut Felix asal.
“Makan yuk!” ajak Vivian.
“Ayo,” jawab Felix dengan nada berbeda, lebih lembut dari biasanya. Mendengar itu, Vivian sempat terdiam, lalu tersenyum cerah. Ia langsung menggandeng tangan Felix menuju restoran, sementara matanya berbinar penuh arti.
Dari kejauhan, Evan hanya bisa tersenyum kecil, meski akhirnya mencibir lagi, “Kaku amat…”