Suara klakson motor terdengar dari depan rumah Juya. Dengan malas, Juya mengintip dari balkon kamarnya.
“Siapa sih ganggu aja…” gumam Juya sambil keluar dari kamar, menuruni anak tangga menuju pintu depan.
Tin tin tin
Juya membuka gerbang rumahnya. Tampak seorang cowok santai berdiri di samping motor barunya dengan senyum lebar — Leon.
“Motor siapa yang lo bawa?” tanya Juya curiga, menatap sahabatnya yang tersenyum lebar." Maling ya lo? "
“Mulut lo minta di sambelin emang. Motor gue, nih!” Leon menepuk kepala motor barunya.
Juya mengangkat satu alis tak percaya.
“Lo lagi nge-rental motor jadul gini, ya?”
“Motor ini asli punya gue. Lo aja yang enggak percaya.” Leon terkekeh. " Jadul mata lo, kece gini di bilang jadul" Sewot Leon.
“Tujuan lo ke sini cuma pamer motor baru?” Juya menyilangkan tangan di d**a.
“Itu bukan tujuan utama. Ada lagi.” Leon menghela napas sok serius.
“Terus?”
“Yok jalan-jalan. Ajak gue bersenang-senang.”
“Ke mana? Gue belum mandi, tau!” sahut Juya. Sejak pagi ia memang tidak keluar kamar, hanya keluar sebentar untuk makan lalu kembali rebahan sekadar nonton drama Korea.
“Jangan bilang lo belum mandi dari pagi?” Leon melotot pura-pura kesal.
Juya tersenyum miring. “Hmm.”
“Astagfirullah anak jalanan. Cepetan mandi, gue tungguin di sini.” Leon menuruni motornya masuk ke ruang tamu tanpa dipersilakan. Sudah biasa baginya.
“Tapi gue mager,” keluh Juya sambil mengikuti langkah Leon menuju ruang tengah.
“Udah enggak usah kebanyakan alasan. Buruan mandi!” Leon mendorong pelan Juya masuk ke kamarnya.
“Ye ye, sabar…”
💜
Lima belas menit kemudian, Juya sudah siap dengan penampilan rapi.
“Yok,” ucap Juya.
“Beh, lo cowok apa cewek sih?” Leon terkejut melihat penampilan sahabatnya.
“Gue enggak ada burung berarti gue cewek. Gue doyan burong, oke. Ayo!” Juya keluar lebih dulu.
“Cute banget,” gumam Leon sambil mengikuti Juya yang sudah naik ke motor.
“Go!” teriak Juya bersemangat, setidaknya malam ini bisa mengalihkan pikirannya dari beban sebelumnya.
“Mau ke mana kita?” Juya mendekatkan dagunya ke bahu Leon. Suara Leon terdengar jelas di telinganya.
“Ikut aja.” Leon menarik gas motor.
Mereka pun melaju di bawah langit malam yang cerah. Jutaan bintang menghiasi angkasa, seperti permata berkilauan.
Juya merentangkan tangan. “Santai aja bawa motornya, nikmatin suasana.”
💜
“Sepertinya mau hujan. Bintang-bintang mulai tertutup awan,” kata Juya sambil memandangi langit.
“Santai aja, gue bawa jas hujan,” sahut Leon.
“Gue suka main di hujan, jadi enggak pakai jas hujan nggak masalah,” jawab Juya, menikmati suasana. Bibirnya tersenyum manis, pipinya merona karena dingin dan riang.
“Hujan!” seru Juya sambil menengadah; bulir pertama hujan mendarat di telapak tangannya.
“Gerimis, Rabbit,” Leon menengok sekilas sambil tetap konsentrasi pada jalan.
“Badai petir!” sela Juya kemudian merapatkan kaca spion motor. “Sebenarnya kita mau ke mana, sih? Kenapa dari tadi belum sampai-sampai?” Juya mulai protes karena capek duduk lama di atas motor.
“Anyer,” jawab Leon santai sambil menepikan motor.
“Gila lo!” Juya kaget. Dia sama sekali tidak menyiapkan apa-apa—pakaian ganti pun ketinggalan; hanya ponsel dan pakaian yang dipakainya sekarang.
“Lo enggak usah panik,” ujar Leon menenangkan. “Tenang, gue udah booking dua kamar. Lo bisa ganti baju di sana, nanti kita belanja kalau kurang apa-apa.”
Bukan itu yang memenuhi pikiran Juya; ia justru khawatir soal biaya. Tapi Leon terlihat yakin dan enggak cemas. Karena Leon belum mengetahui fakta bahwa sahabatnya saat ini adalah seorang pengangguran.
“Lo enggak keberatan, kan?” tanya Leon memastikan, menatap Juya.
“Hm…” Juya hanya menghela napas panjang lalu menikmati tetes hujan yang membasahi wajahnya. Meski basah kuyup, ada rasa lega. Hujan membuatnya merasa sedikit bebas, walau badannya mulai menggigil.
“Kita teduh dulu. Hujannya gede banget. Nanti lo bisa sakit,” Leon mengarahkan motor ke depan sebuah ruko kosong.
“Gila, dingin banget,” Juya melepaskan helm dan menggigil.
Belum dua menit berlalu, mereka sudah menepi menunggu hujan reda.
“Yok lanjut lagi,” ajak Leon setelah gerimis mereda.
“Ayo!” Juya kembali semangat karena tak sabar tiba di tujuan.
“Gas!” seru mereka kompak, lalu melaju lagi.
Sudah pukul dua dini hari. Hujan mereda menjadi gerimis tipis yang masih menempel di jalanan.
“Gue ngantuk, Le” gumam Juya lalu memeluk pinggang Leon erat. “Gue mau tidur, ya.”
“Yakin?” tanya Leon, setengah terganggu tapi lembut. “Gue turunin lo di pinggir jalan sampai lo beneran tidur, oke?”
Juya tak menjawab. Matanya sudah terpejam; tubuhnya lelah namun nyaman menempel di belakang Leon. Jantungnya berdetak cepat, takut tergelincir. Motor melaju perlahan, hati mereka tak lagi seburu saat malam yang dingin membungkus.
💜
10 menit berlalu, motor berhenti di parkiran salah satu hotel bintang lima di sana.
“Udah sampai?” tanya Juya.
“Udah, yok turun,” jawab Leon lebih dahulu.
Juya turun dari motor. Badannya serasa mati rasa; ini bukan kali pertama bepergian jarak jauh dengan motor, tapi kali pertama bersama Leon dalam kondisi hujan deras berjam-jam dan sempat tertidur di atas motor.
“Ayo masuk,” ajak Leon.
“Baju gue basah,” ucap Juya sambil melepaskan jas hujannya. Bajunya sudah kuyup seperti abis nyebur ke kolam renang.
“Udah enggak apa-apa. Ayo,” Leon menggandeng tangan Juya menuju meja kasir.
Dua menit kemudian, Juya sudah berada di kamarnya—yang ternyata persis bersebelahan dengan kamar Leon.
Juya melangkah masuk dengan tubuh sangat kedinginan. Untung saja di hotel ada baju ganti sementara; setidaknya ia bisa mengenakan itu agar badannya tidak jatuh sakit.
“Apes banget gue,” gumam Juya sambil menyisir rambut panjangnya. “Udah dipecat, sekarang jadi beban,” gerutunya kesal dengan dirinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
Juya berjalan ke balkon kamar hotel, memandang pemandangan yang begitu indah dari atas sana. Terlihat dari jarak cukup dekat pantai tujuan mereka—Anyer—yang hanya berjarak beberapa menit lagi. Sudah lama sekali ia tidak merasakan liburan di suasana seperti ini. Namun kesibukan dan masalah kehidupannya membuat semua terasa berbeda. Kini, meski tubuhnya masih menggigil, ada rasa syukur terselip karena setidaknya ia bisa melihat keindahan malam itu.
" Dasar pengangguran, sok sokan liburan segala" Cibir Juya pada diri nya sendiri. " Pokoknya habis pulang dari ini gue harus cari pekerjaan baru. Gue cukup pintar kok untuk mendapatkan pekerjaan baru" Juya menyemangati diri nya sendiri.
"Besok harus bisa menikmati hari," ucap Juya pada dirinya sendiri.
"Itu harus!" ujar seseorang membuat Juya terkejut bukan main.
"Kebiasaan banget lo bikin gue kaget. Kalau masuk, ketuk pintu dulu bisa kan?" Juya menggerutu kesal, masih sedikit kaget.
Leon berdiri di sampingnya dengan wajah santai.
"Dari kapan lo dipecat?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Juya.
Juya terkejut mendengar pertanyaan Leon barusan. Leon rupanya mendengar keluh kesahnya.
"Apa aja yang lo dengar?" suara Juya melemah, tak menyangka pertanyaan yang ia lontarkan malah membuat Leon balik bertanya seperti sedang menginterogasi.
"Semua. Kenapa lo nggak bilang ke gue?" Leon menatapnya, seakan menuntut kejujuran.
"Enggak penting juga. Udah keluar aja, gue udah ngantuk. Udah setengah 4 nih, bentar lagi pagi." Juya menarik tangan Leon, berusaha mengusir sahabatnya itu.
"Besok jangan pelongo-pelongo," ujar Leon sambil menunjuk kening Juya sebagai peringatan.
"Iya, bawel," sahut Juya malas.
💜
Di sisi lain, Felix sedang menikmati udara segar di pagi hari. Ia sudah mencoba berbagai posisi tidur, namun tetap saja tidak terasa nyaman. Bayangan wajah seseorang selalu menghantuinya—siapa gadis itu sebenarnya, dan apa maksud dari mimpi yang selalu datang berulang kali?
Felix bahkan tidak mengetahui apakah gadis itu nyata atau hanya khayalannya saja. Yang ia tahu hanyalah wajah cantik dengan senyum manis yang terus menghiasi pikirannya.
Sepertinya, Felix tidak akan bisa tidur lagi. Adzan subuh sudah berkumandang, sebentar lagi matahari pagi akan menyinari dunia. Hari ini adalah hari terakhirnya berlibur dengan Yolanda, tetapi hati kecil Felix belum ingin meninggalkan tempat itu.
Ada daya tarik tersendiri untuknya. Sejak perjodohannya dengan Vivian, Felix selalu disibukkan dengan pekerjaan, tanpa pernah benar-benar mendapat waktu untuk beristirahat. Perjalanan ini adalah jeda yang ia butuhkan.
Namun, perasaan ganjil itu terus menghantui. Kenapa harus gadis dalam mimpi? Dan kenapa Vivian seolah tidak peduli? Pertanyaan itu menempel kuat di pikirannya sepanjang hari.