bertemu mantan

1402 Kata
Jam menunjukkan pukul 08:09. Juya masih terlelap dalam tidurnya, ponselnya sengaja dimatikan agar tidak terganggu, dan usahanya itu cukup berhasil. Berbanding terbalik dengan Leon, sahabatnya, yang sudah lebih dulu bangun. Ia tampak rapi dengan baju baru yang dibelinya di toko sekitar hotel. Tok tok tok. Tidak ada jawaban. Leon sudah bisa menebak kalau sahabatnya itu belum bangun. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. “Rabbit sialan!” umpat Leon kesal dari luar kamar, sudah cukup lama ia menunggu. “Apa?” ujar Juya yang baru saja terduduk di kasur hotel. Ia melihat Leon berdiri di depan pintu, tangan terlipat di d**a dengan wajah kesal. Bukan hal baru lagi sahabat itu bisa keluar-masuk rumahnya karena Leon memang punya kunci cadangan. Tapi ini bukan rumah, melainkan hotel. Bagaimana pun, tidak mungkin Leon mendobrak pintu. “Buru-buru mandi, terus ganti baju ini. Udah gue beliin,” kata Leon sambil meletakkan kantong plastik berisi pakaian yang baru saja ia beli. “Ya. Lo keluar dulu,” perintah Juya. “Gue tunggu. Enggak usah lama-lama.” “Bawel!” gerutu Juya. Ia menarik selimutnya lagi, namun akhirnya bangkit sambil mengumpulkan setengah nyawanya yang masih berserakan. “Tumben bener,” gumam Juya pelan saat melihat pakaian yang Leon pilih sesuai dengan apa yang memang ingin ia kenakan. 💜 Dua puluh menit kemudian, Juya sudah siap dan menyusul Leon yang menunggunya di lobi hotel. Mereka lalu berjalan menuju lift, turun ke lobi. Sesuai dugaan Juya, Leon tidak mungkin menunggu dengan sabar. Benar saja, ia mendapati Leon sedang mengobrol dengan seorang gadis. Entah siapa gadis itu, tapi jelas Leon selalu saja bisa menemukan “mangsa” di mana pun. “Ayo,” ujar Juya berdiri di samping Leon. “Ayok,” balas Leon sambil menatap gadis itu. “Duluan ya,” pamitnya, lalu berjalan bersama Juya. Juya berjalan di samping Leon, rasa penasaran dalam dirinya tidak bisa ditahan lagi. “Cewek tadi siapa?” tanyanya penasaran. “Enggak tau haha,” Leon tertawa terbahak-bahak. “Lah kok kayak akrab.” “Lo lupa sahabat lo ini pawang-nya,” Leon membanggakan dirinya sendiri. “Oh, sorry lho Rabbit,” Juya merespons sinis, mengingatkan Leon pada panggilan khususnya. “Kita ke pantai langsung?” tanya Juya. “Iya, biar enggak kesiangan. Nanti keburu panas,” jawab Leon. 💜 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di lokasi tujuan. Juya tampak takjub, matanya tak bisa berkedip melihat indahnya ciptaan Tuhan malam itu. “Ayo,” ujar Leon sambil menggandeng tangan Juya menuju bibir pantai. “Kita ke sana,” tunjuk Juya pada hamparan pasir putih yang membentang sampai ke bibir laut. “Banyak bule,” bisik Leon, yang langsung dimengerti Juya. “Mata lo gue colok baru tahu rasa lo!” goda Juya, setengah bercanda karena kesal melihat Leon gampang terpikat pemandangan. “Itu cantik yang duduk di bawah pohon,” jawab Leon sambil menoleh ke arah gadis yang dimaksud. “Lo mau mati? Di depannya ada cowok gede bertato, bisa mati konyol lo,” cibir Juya, tertawa kecil saat melihat nyali Leon mendadak ciut. “Gila, ototnya udah kayak akar pohon beringin,” komentarnya kemudian, sambil tetap ngelus punggung. “Kita foto-foto yuk,” ajak Juya. “Buat kenang-kenangan, siapa tahu lo nggak bisa kayak gini lagi sama gue, ya kan?!” Mereka berlari kecil menuju pinggir pantai. “Sini, ombak nggak terlalu tinggi,” teriak Juya sambil melambaikan tangan. “Buruan, gue fotografer profesional nih!” seru Leon, mengeluarkan ponsel dari saku. “Jangan pake masker, lepas!” pinta Leon. “Enggak ah, gue nggak pede,” jawab Juya sambil mulai berpose andalannya—dua jari tanda V. “Lagi! Lagi!” pinta Leon berkali-kali sambil menekan tombol kamera. “Jelek banget gue,” keluh Juya saat melihat hasil jepretan di ponsel Leon. “Jadi manusia nggak ada rasa bersyukur,” cibir Leon, sambil pura-pura galak. “Bodo amat! Sini, HP lo, gue yang jadi fotografer abal-abal,” ujar Juya, merebut ponsel Leon. Giliran Leon yang tampil. Ia mulai bergaya dengan senyum manisnya—dan Juya ikut meniru, bibirnya mengembang tipis. Untuk sementara, Juya hampir lupa kalau dirinya sedang punya masalah besar; Leon memang bisa membuat segala beban terasa ringan. “Permisi, Kak,” suara seseorang membuat keduanya menoleh. Seorang pria membawa kamera berdiri mendekat. “Maaf sebelumnya, saya punya beberapa foto candid bagus-bagus,” kata pria itu sambil memperlihatkan hasil jepretannya. “Ih, bagus,” puji Juya tulus. “Lo suka?” tanya Leon. “Suka. Bagus, loh,” jawab Juya. “Foto-nya berapa, Kak?” tanya Leon pada pria tersebut. 💜 Vivian Apriazila, gadis kelahiran asli Indonesia, berasal dari keluarga yang memiliki beberapa usaha di bidang peternakan di beberapa kota besar. Gadis berusia 23 tahun itu cantik, ramah, dan selalu dikagumi karena kebaikan serta kedermawanannya. Kini Vivian tengah menjalani hubungan asmara dengan Felix—seorang pria yang dijodohkan oleh orang tuanya. Tanpa alasan jelas, orang tua Vivian mempertemukan keduanya dengan seorang pria asing, bahkan sebelum Vivian sempat mengenalnya. Padahal sebelumnya, Vivian sudah memiliki pujaan hati, namun terpaksa berpisah karena urusan perjodohan ini. Meski hatinya terasa berat, Vivian berusaha menerima keputusan orang tuanya. “Sayang, ayo,” ujar Vivian sambil menatap wajah Felix yang melamun. “Bengong lagi?” Vivian menepuk pelan pipi Felix hingga ia sedikit kaget. “Kamu sakit?” tanyanya lembut. “Enggak, gue mau ke toilet dulu.” “Aku tunggu di depan, ya.” Felix berlalu tanpa menoleh. Vivian hanya bisa menatap punggungnya, hatinya bertanya-tanya mengapa Felix bersikap begitu dingin dan susah ditaklukkan. Padahal, dengan kecantikannya, Vivian sering menjadi pusat perhatian sejak SMA. Ia bahkan pernah mendapat tawaran menjadi model, namun menolak karena tidak berminat. Cukup lama Vivian menunggu, hingga akhirnya ia berjalan menyusuri ombak pantai yang begitu cantik. Pasir lembut membelai kakinya, membuatnya sesaat lupa akan kegelisahan yang membebani pikirannya. “Vivian, kamu mikir apa sih?” gumamnya pada diri sendiri. “Kamu enggak boleh egois, oke?” Vivian mencoba menenangkan diri. Tanpa sadar, ia sudah berdiri di tepi pantai. Ombak kecil menyapu kakinya, meninggalkan jejak pasir basah di punggung telapak kakinya. 💜 Di sisi lain, Juya berlari mengejar Leon di tepi pantai. “Sini! Jangan lari lo!” teriak Juya sambil melempar segenggam pasir putih ke arah Leon. “Kena lo!” Juya mencubit perut Leon dengan semangat. “Aduh, sakit, rabbit!” Leon mengaduh kesakitan. “Syukurin! Salah siapa ngeselin!” Juya malah semakin semangat menggodanya. Tanpa sengaja, Juya menabrak seseorang hingga sama-sama hampir terjatuh. “Eh, aduh, sorry!” Juya buru-buru menolong gadis itu. Leon tertawa dari kejauhan, melihat sahabatnya yang ceroboh. “You hurt?” tanya Juya, panik. “Enggak, santai aja,” jawab gadis itu sambil tersenyum " Aku tidak kenapa kenapa. " Gadis itu mengangkat kepalanya, membersihkan pakaian yang kotor terkena pasir. Juya tampak bingung, seperti merasa mengenal wajahnya, meski tak ingat di mana pernah bertemu. “Apa sebelumnya kita pernah ketemu?” tanya Juya memastikan. Gadis itu berpikir sebentar, lalu tersenyum tipis. “Sepertinya ini kali pertama kita bertemu,” jawabnya. Juya menatap lekat wajah gadis itu. Ada rasa familiar, meski ia tak tahu kenapa. “Rabbit, ayo makan!” suara Leon terdengar sambil menghampiri mereka. “Eh, Leon!” ujar gadis itu kaget, spontan berdiri menoleh ke arahnya. Juya langsung teringat—wajah ini bukan asing. Ia pernah melihatnya lewat foto-foto yang Leon tunjukkan dulu. “Kamu kenal Leon?” tanya Juya sambil melirik ke arah sahabatnya yang baru saja tiba. Gadis itu tersenyum, matanya berbinar. “Dia… mantan aku.” Leon berhenti seketika, terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menoleh, wajahnya campuran antara kaget dan bahagia. “Vivian?” suaranya bergetar, penuh rindu. “Senang bisa ketemu kamu,” jawab Vivian lembut sambil tersenyum manis. Rasa rindunya yang lama terpendam seakan pecah begitu saja. Leon hanya bisa menatapnya, seolah tak percaya mantan kekasih yang sempat mengisi hari-harinya kini berdiri di depannya lagi. Juya ikut teringat. Leon memang pernah bercerita tentang mantan kekasihnya yang dulu sangat ia sayangi. Leon sering memperlihatkan foto Vivian kepadanya. Wajar kalau tadi Juya merasa tak asing saat bertabrakan dengan gadis itu. “Pacar kamu?” tanya Vivian, melirik Juya yang berdiri di samping Leon. “Bukan!” jawab Juya cepat, hampir terbata, tak ingin menimbulkan salah paham. “Kenalin, aku Juya, sahabatnya Leon.” Vivian tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangannya. Juya menyambut dengan sopan. “Aku Vivian.” “Kamu sendirian?” tanya Leon sambil melihat sekitar, memastikan tak ada siapa pun kecuali mereka bertiga. Vivian tersenyum tipis. “Aku sama calon suamiku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN