cerita pahit

1605 Kata
“Aku sama calon suamiku.” Sudah hampir 1 jam lebih Leon hanya diam melamun, tidak selera. “Gue mau pulang,” ujar Juya secara tiba-tiba. Juya beranjak berdiri dari duduknya membuat Leon gelagapan. “Lo mau ke mana?” tanya Leon panik. “Gue mau pulang,” ulang Juya. “Eh kok pulang, kita belum berkeliling loh,” ujar Leon. “Mau berkeliling gimana, hah? Lo-nya aja udah kayak zombie hidup gini,” cibit Juya kesal. “Gue cuma belum percaya aja. Kita putus belum ada sebulan dia udah punya calon suami aja,” terang Leon. “Ya udah kali. Lagian bukan cuma dia pacar lo, kan masih banyak pacar lo yang lain,” ujar Juya. Leon membuang napas berat, dadanya sangat sesak menerima kenyataan pahit. “Lo mau kayak gini terus? Mending gue pulang!” Juya berjalan meninggalkan Leon. “Rabbit, tunggu!” Leon mengejar Juya yang berjalan cukup cepat. “Tunggu!” Leon berhasil meraih tangan sahabatnya. “Kita keliling, gue udah waras.” Leon menarik tangan Juya menuju arah parkiran. “Lo posting ini?” Juya memperlihatkan postingan di ponselnya. “Enggak,” jawab Leon singkat. “Jari gue yang asal pencet,” lanjutnya karena mendapatkan tatapan maut dari Juya. “Kita bisa kayak gini lagi enggak ya tahun depan,” gumam Leon menatap langit yang sudah mulai gelap. Juya menoleh memperhatikan sahabatnya, nampaknya mood Leon ini sedang tidak baik-baik saja. “Kenapa tidak,” jawab Juya tersenyum tulus, membuat Leon semakin yakin kalau persahabatan mereka tidak akan berhenti sampai di sana. “Lagian gue enggak ke mana-mana. Rumah gue masih di depan rumah lo,” lanjut Juya. “Sebelum gue diusir,” batin Juya. “Lo bener,” Leon merasa lega, menghirup udara sore hari di pinggir pantai. “Besok pagi kita pulang, kita cek in hotel dulu aja malam ini.” 💜 Dari jarak kejauhan, mata elang sedang memandang sesuatu yang sayang jika dibiarkan berlalu begitu saja. “Siapa sebenarnya gadis itu?” Felix masih bertanya-tanya kenapa gadis itu selalu masuk dalam mimpinya. “Lo yakin gadis itu yang masuk mimpi lo?” tanya Evan penasaran. “Gue yakin banget!” Felix mantap, kalau dia tidak salah orang. “Terus cowok yang sama dia itu siapa?” tanya Evan. “Gue kurang paham, tapi Vivian kenal sama itu cowok,” jawab Felix. “Kenal?!” Dia memastikan telinganya tidak salah mendengar. “Hmm.” “Kok bisa kebetulan ya,” gumam Evan. "Tadi pagi, cewek itu enggak sengaja nabrak Vivian dan cowok itu nyamperin mereka. Alhasil, Vivian sama cowok itu ngobrol, padahal Vivian enggak kenal." Evan menatap sahabatnya. “Lo enggak salah kenal?” “Sama sekali enggak,” jawab Felix. Evan geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini. Hati Felix sangat beku dan kaku. “Eh, bukannya hari ini kalian udah pulang?” tanya Evan. “Hmm.” “Tapi kenapa sampai sekarang belum pulang?” selidik Evan penasaran, tidak biasanya sahabatnya ini menunda akan sesuatu. “Gue masih penasaran sama itu cewek.” 💜 “Gila, mewah banget,” kagum Juya pada kamar yang di-booking oleh sahabatnya. “Orang berduit emang beda,” Juya mendudukkan badan di atas spring bed super nyaman itu. Drettt drettt drett Juya meraih ponselnya yang ada di atas meja rias. “Apa?” Tanya Juya masih menikmati kenyamanan tempat tidur itu. “Keluarlah yuk, cari makan gue lapar nih!” ujar Leon dari seberang, padahal kamar mereka hanya dibatasi dinding tipis. Suara Leon jelas didengar sahabatnya yang sedang tiduran. “Gas,” Juya refleks menjawab. Belum sempat Juya berdiri, Leon sudah membuka pintu kamar, berdiri sahabatnya di sana. “stand by!” Leon memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. “Mantap.” Juya memberikan dua jempolnya. “Yok gas!” semangat Leon menarik tangan Rabbit menuju lift. “Lo mau makan apa?” tanya Leon. “Tar dulu, gue liat menu termahal, gue mau abisin uang lo,” cengir Juya. “Terserah lo.” Leon mengusap pucuk rambut Juya gemas. “Gue mau ini, ini, ini, sama ini.” Tunjuk Juya pada beberapa menu. “Lo yakin kuat?” “Lo ngeremehin perut gue?” Juya mengusap-usap perutnya. “Tenang, gue bakal abisin, kalau enggak abis kan ada perut lo, ya gak?” Juya mengedipkan satu matanya. “Ya deh iya, suka suka lo aja,” jawab Leon pasrah. “kak kami pesan ini, ini, ini, sama ini. Oh iya, minum jus jeruk aja,” ujar Juya. “Lo pesan apa?” Tanya Juya pada Leon. “Tambah es jeruknya satu.” “Gue lihat lo makan udah ikut kenyang.” “Lo yakin? Awas pingsan nanti.” “Emangnya lo!” “Mbak, jus jeruknya satu lagi ya.” “ kakak nya pasangan ya? " Tanya pelayan restoran. " Bukan" Jawab mereka kompak. " Kami cuma teman kok mbak" Juya meluruskan, karena bukan hanya sekali orang ngira mereka sepasang kekasih. " Maaf ya kak, soalnya kalian serasi " Juya dan Leon saling tatap dab bergidik geli. 💜 “Mereka liburan bareng lagi?” Selidik Venzo ketika melihat gambar yang ia dapatkan dari salah satu mata-matanya. “Seperti yang lo lihat,” jawab Vely kesal. “Dia udah enggak punya pekerjaan kan?” “Dia udah dipecat beberapa hari lalu, sesuai apa yang lo minta.” “Bagus,” gumam Venzo tersenyum licik. “Satu hal yang jangan sampai lo lupa. Juya cerdas, tidak mudah buat lo luluhin dia begitu saja setelah kejadian 3 tahun lalu, Itu cukup membuat Juya berpikir berkali-kali.” Vely begitu paham gimana sikap Juya. Mereka bersahabat dari SMP sampai terjerat masalah yang sebenarnya cukup membuat persahabatan mereka hancur. Terkadang Vely merindukan sahabatnya, namun di sisi lain egonya begitu tinggi. . 💜 Flashback on Sore ini Vely hanya berbaring tidak bersemangat, sepertinya hari ini pekerjaannya hanya rebahan tanpa tenaga. “Halo, lo di mana?” Tanya Vely pada seseorang yang ada di seberang sana. “Gue lagi di salon. Gimana?” “Tumbenn?” Vely mengangkat satu alisnya. “Lo lupa ya, nanti malam kan hari anniversary gue sama Venzo,” ucap seseorang begitu semangat. Vely berhenti sejenak memikirkan rencananya beberapa hari terakhir. “Oh yaudah, tadinya gue mau ngajak lo keluar. Yaudah gue lanjut tidur aja.” “Sorry ya. Lain kali kita keluar, oke?” “Oke deh.” Panggilan terputus. “Gue jahat gak ya?” Tanya Vely pada dirinya sendiri. “Kenapa selalu Juya yang beruntung, gue kapan?” Kesal Vely membuang bantalnya ke lantai. 💜 Venzo “Halo, ada apa Vel?” Tanya Venzo dari seberang sana. “Lo nanti malam ada acara gak?” Tanya Vely berpura-pura tidak tahu. “Nanti malam gue ada acara sama Juya. Kenapa?” “Kalau gue minta waktu lo sebentar, boleh gak?” Vely memberanikan diri. “Ada urusan apa kayak penting banget?” ujar Venzo. “Sedikit penting. Acara lo jam berapa?” “Jam 9 malam.” “Gimana kalau kita ketemu di café nanti. Aku kirim alamatnya jam 8, jadi lo nanti langsung nyamperin Juya setelah nemuin gue,” ucap Vely. “Oke.” “Yaudah sampai ketemu nanti,” Vely mematikan teleponnya. “Sekalian lo harus siap-siap,” ujar Vely menatap tubuhnya dari pantulan kaca yang ada di dalam kamarnya. 💜 Pukul 19:40 Vely sudah menunggu kedatangan Venzo di salah satu café yang sudah mereka janjikan. Tidak perlu menunggu lama, Venzo baru saja memarkirkan mobil mewahnya di parkiran. “Gue enggak boleh grogi,” Vely menenangkan dirinya. “Sorry buat lo nunggu,” ujar Venzo yang baru saja masuk. Venzo memperhatikan sekitarnya, tampak agak ganjil. “No problem. Duduk dulu,” pinta Vely. Mereka duduk di kursi paling belakang, dari jendela dan balkon lantai 2. “Permisi,” pelayan mengantarkan 2 minuman. “Minum dulu, pasti lo haus,” ucap Vely. “Makasih.” Venzo meraih satu gelas minuman yang baru saja dibawakan oleh pelayan. 💜 “Bunga itu buat Juya ya? Cantik banget,” ungkap Vely meraih buket bunga yang dibawa Venzo. “Hmm.” Venzo menyelesaikan tegukan terakhirnya. Vely tersenyum miring melihat isi gelas Venzo yang habis tak bersisa. “Sepertinya lo haus banget,” ujar Vely sambil meraih gelas miliknya. Meneguk isi minumannya hingga tidak tersisa satu tetes pun. Vely menyimpan satu teguk minumannya di dalam mulut. Tangan mungil Vely mulai meraba-raba d**a bidang milik Venzo. Venzo yang sudah mulai terangsang hanya menerima dalam keadaan sedikit tidak sadar. Rencana Vely berjalan sempurna, sedikit lebih unggul. “vely—” “Husss.” Vely menutup mulut Venzo dengan bibir tipisnya. Menyalurkan sisa minuman di mulutnya. Glek Tertelan sudah. Vely meraba-raba d**a bidang dan menelusuri perlahan ke perut Venzo semakin ke bawah. " Vely… lanjutin,” bisik Venzo di sela nafasnya. Vely mengumpulkan tenaga untuk menyalurkan gairah yang semakin memuncak. Crkek “Menikmati saja, Venz,” Vely sama-sama merasakan panasnya tubuh, gairah semakin meningkat. Sebelum kedatangan Venzo, Vely sudah memesan 2 gelas wine khusus untuk mereka nikmati malam ini. Dengan tambahan racikan yang Vely sudah rencanakan jauh-jauh hari. “Nikmati saaa… sija,” bisik Vely pas di telinga Venzo, membuat gairah Venzo semakin memuncak. “Emmmhhh,” kecup Venzo pada leher jenjang Vely. “Ahhh, lanjutkan emmm,” desah Vely. “Emmmhhh lo seksiii,” gumam Venzo sambil membuka baju Vely hingga tidak ada sehelai pun menutupi tubuhnya. Vely pun menarik celana dalam Venzo hingga tidak mengenakan apa pun untuk menutupi juniornya. Tangan Vely meraih ponsel milik Venzo, mencari kontak sasarannya. “Bucin banget,” batin Vely kesal, karena melihat kontak nama Juya di dalam ponsel Venzo. “Sayang sayang! Makan tuh sayang!” Rencana Vely semakin menjadi-jadi. Nafsu yang menutupi segalanya kini hanya ingin menghancurkan ikatan persahabatan antara dirinya dan Juya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN