Nala meringis. Mengintip dari celah jendela dapurnya dan menemukan hujan begitu lebat malam ini. Dengan tarikan napas berat, dia kembali merapikat peralatan makannya ke tempat semula dan membersihkan meja. Nyaris sepuluh menit dia habiskan untuk membersihkan ruang makan. Dia melirik ke arah pintu utama yang belum terkunci. Nala terpaku, membuka pintu kayu itu dan terkejut karena mendapati Aydin ada di sana. Berdiri di depan pagar kayunya dengan tubuh sepenuhnya basah karena terguyur air hujan. "Astaga." Nala berbalik, mencari payung yang sekiranya bisa dia gunakan saat angin berhembus begitu kencang. Sampai-sampai membuat pintunya yang terbuka, terbanting berulang kali. "Kenapa kau berdiri di sini? Apa aku melarangmu masuk ke dalam?" Aydin menunduk. Saat dia tahu Nala berteriak guna m
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


