"Kenapa kau di sini?" Nala menarik napas. Menatap Nato Azda yang bertahan dalam posisi duduknya selama sepuluh menit lebih. Setelah dibantu dokter yang menanganinya, meminta Azda untuk duduk karena benturan itu meninggalkan lebam dan bengkak di area pinggul dan paha belakang. "Menunggumu." Azda mendengus. Menatap penampilannya sendiri yang menyedihkan, saat dia menarik napas dan membuangnya kasar. "Kau tidak perlu mencari perhatian di saat kondisiku sedang tak berdaya." "Sama sekali tidak berarti apa pun, kan?" Nala berdiri, memeluk dirinya sendiri bersama mantel yang Argi bawakan kemarin malam. "Masih terekam jelas saat kau sadar tadi, kau menyebut nama Nahira dalam tidurmu. Kau ternyata mengharapkannya." Azda melirik tajam ke arahnya. Saat bagian wajah pria itu dipenuhi perban, dan

