17

1577 Kata

"Kalau kau tidak mau hancur, jangan lakukan ini." Intonasi suara Asha Taya benar-benar berubah. Yang semula hangat dan penuh kelembutan, kini tidak lagi ada. Nala hanya menatapnya hampa. Saat mata ibunya menyapu ekspresi wajahnya yang lelah, dan Nala merasa percuma kalau dia bicara. Topeng yang Nato Azda pakai terlalu tebal untuk mampu meruntuhkan reputasi serta pelakuan yang selama ini dia lakukan di belakang ibunya. "Aku sudah hancur," lirih Nala. Taya lantas menengadah. Menatap mata putrinya yang berusaha untuk melarikan diri ke benda lain. "Apa?" "Aku sudah hancur. Aydin hanya spontan. Bisa kupastikan, aku dan Aydin tidak ada apa-apa." Taya mendesah pelan. Meremas tangannya di atas pegangan kursi roda dan mendesis. "Matanya tidak bisa berbohong, Nala." Nala menunduk. "Dia meny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN