"Tik tok. Kau melamun." Nala memejamkan mata, menarik napas panjang saat dia kembali membuka mata dan menemukan bungkusan plastik melayang di depan mata. "Uh, ini apa?" "Takoyaki," balas Aydin. "Satu takoyaki untukmu, satu takoyaki untukku, dan satu okonomiyaki untuk Nata. Memang, asisten satu itu tidak tahu diri. Dia mengirimkan pesan padaku untuk membelikan okonomiyaki." "Nata?" Kepala Aydin terangguk. Dia menaruh bungkusan plastik itu di atas pangkuan Nala dan menatap pohon apel yang menyala terang. Karena lampu taman yang mengitari sekeliling taman kelas satu rumah sakit cukup terang. "Aku baru saja pergi. Mencari udara segar. Dan menebak-nebak kalau kau pulang ke rumahmu." Nala mengangkat alis. "Kau ke rumahku?" Kepala Aydin terangguk. "Saat aku mampir, ibumu bilang kau baru s

