23

1525 Kata

Nato Azda membuka mata. Di tengah sepinya kamar, deru suara pendingin ruangan dan tetesan air yang menetes dari kran wastafel yang tidak terputar rapat. Semua menjadi musik penenang di telinganya. Samar-samar dia mendengar suara dengkuran halus dari samping sofa—yang layaknya bisa dijadikan tempat tidur untuk penunggu pasien. Memang, fasilitas kelas VIP benar-benar memanjakan. Kamar tidak sepenuhnya temaram. Lampu-lampu masih dinyalakan. Biasanya, Azda tidur dengan lampu tidak menyala. Tapi, sekarang? Badannya yang semula terasa remuk redam, semua perlahan mulai menunjukkan perubahan. Meski beberapa kali sendi-sendi tulangnya meninggalkan nyeri, dia masih bisa menahannya. Pandangan mata Azda menyapu. Pada nakas yang berisi buah, berisi makanan yang masih tersisa, dan beberapa biskuit r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN