Kebelet Kawin?!

1021 Kata
"Malam ini langitnya indah banget ya, bintang-bintang kelihatan jelas. Makasih sudah ngajakin aku jalan-jalan keliling kota Yogya, Mas!" ucap Camelia sembari memeluk lutut duduk di atas rerumputan lapangan Alun-alun Kidul bersebelahan dengan Danny. Pemuda itu tersenyum berbagi tatapan syahdu bersama pujaan hatinya. "Aku ikut senang kalau kamu bahagia, Lia. Mungkin pernikahan ini terjadi begitu cepat dan tak terduga, tapi apa kamu pernah berpikir kalau aku jodohmu yang dikirim oleh Tuhan untuk melengkapi hidupmu?" gombal Danny tak melewatkan kesempatan sekecil apa pun. "Ckckck ... Mas ini pinter bener ngerayu. Pasti dulu mantan pacarnya berderet ya?" sahut Camelia tertawa lepas seolah-olah tanpa beban. "Yaa ... gitu deh. Suami kamu 'kan cakep, Lia. Baik pula!" balas Danny membanggakan dirinya. "Huuu ... pedenya selangit!" tukas Camelia seraya mencubit hidung mancung suaminya. Tiba-tiba di tengah canda tawa mereka segerombolan pemuda pemudi melintas di depan mereka lalu salah satu remaja laki-laki berseru sambil menunjuk ke arah Danny. "Woii ... lama nggak ketemu. Ke mana aja kau, Dan!" ujarnya. "Ehh ... iya nih, Danny. Gimana kabar lo, Bro!" sahut rekan lainnya yang berambut cepak seperti ala Korea kekinian. Danny pun berjabat tangan dan toss dengan teman-teman lamanya. "Baik ... baik kok. Ya masih di Yogya aja, pada sibuk semua jadi jarang ketemu!" jawabnya santai. "Ehh ... siapa nih, Dan?" tanya Hengky sembari mengendikkan dagunya ke arah Camelia yang berdiri kikuk di samping Danny. Tanpa merasa jengah, Danny segera merangkul bahu Camelia agar mendekat ke sisinya. "Kenalin dulu, Guys. Ini Lia, istriku!" jawabnya yakin. Sekumpulan remaja itu sontak terperangah seakan tak percaya. Mella yang sempat berpacaran dengan Danny dulu menyeletuk, "Ahh ... lo pasti becanda doang 'kan, Dan? Udah gila lo, kita 'kan baru sembilan belas tahun!" Sementara teman-teman mereka yang lain memilih diam menunggu jawaban Danny. Setelah lulus SMA mereka tak saling kontak dengan intens satu sama lain, pernyataan Danny keterlaluan kalau sekadar bergurau belaka. "Lo ngeprank ya? Palingan Mbak Lia ini kakak sepupu jauhnya Danny!" timpal Donny menebak asal-asalan. Dia juga tidak percaya sama seperti Mella. "Kagak. Suerr ... ini istri gue. Kalo elo pada masih mikir gue ngeprank, tanya nyokap bokap di rumah deh. Lia ini menantu mereka yang sah!" jawab Danny tegas. Sontak teman-teman secircle Danny tak mampu berkata-kata lagi. Cintya yang sempat naksir pemuda itu, tetapi tak pernah dijadikan pacar oleh Danny akhirnya angkat bicara. "Apa lo ngehamilin nih cewek, Dan? Ngapain pula masih belum kelar kuliah mesti buru-buru nikah, kebelet kawin?!" sindir gadis itu nyelekit. Rekan-rekannya segera ber-huu dan menegur Cintya yang perkataannya cenderung toksik. Akhirnya, Danny yang menegur langsung, "Itu bukan urusan lo, Cintya, kok repot amat?! Udah ya, jangan dibikin ribut. Lia emang istri gue. Berhubung kami mau pulang, pamit sekalian ya, Guys!" Dia bertukar pelukan dengan teman-teman prianya lalu melambaikan tangan ke para gadis remaja sepantarannya itu. Camelia hanya terdiam saat diajak pulang oleh Danny. Dia tahu diri dan membenarkan pendapat dua teman perempuan Danny tadi. Mereka tidak cocok menjadi pasangan suami istri. Di atas sepeda motor yang melaju menembus malam yang dingin, Danny berkata kepada Camelia, "Apa kamu masih mikirin omongan Mella dan Cintya tadi, Sayang? Jangan dimasukin ke dalam hati ya!" "Tapi, mereka benar kok—" "Nggak masalah mereka benar atau salah, kita sudah jadi suami istri, Lia. Aku menunggu cinta tumbuh dan bersemi di hatimu. Meskipun entah kapan penantianku usai!" sahut Danny sambil terus melajukan sepeda motornya menuju ke daerah Terban. Camelia tak bisa menjawab perkataan suaminya. Dia justru serba salah dengan situasi canggung pasca bertemu teman-teman Danny tadi. Mereka masih remaja yang cenderung ceplas-ceplos mengeluarkan pendapat sesuai isi hati tanpa filter. Namun, tak dapat dipungkiri memang benar, hubungan mereka berbeda usia jauh dan bagi Danny pernikahan ini terlalu cepat dijalani. "Kok diem sih, Lia." Danny membuyarkan lamunan Camelia. "Aku bingung mau bilang apa, Mas. Jujur kalau menurutku, omongan teman-teman kamu tadi benar. Ada baiknya kita akhiri saja pernikahan yang terlalu dipaksakan ini. Kamu masih muda, masa depan kamu tuh terbentang jauh. Untuk apa mengikatkan diri dengan wanita seperti aku ini, Mas Danny!" jawab Camelia lembut. Dia masih memeluk perut Danny yang rata di balik jaket. Sepeda motor Kawasaki Ninja itu membelok ke halaman rumah keluarga Sasmita yang sudah dimatikan lampu utamanya. Danny membuka pintu garasi lalu memarkir kendaraan kesayangannya itu. Camelia menunggu suaminya menutup lagi pintu garasi samping. Kemudian tangannya digandeng oleh Danny masuk ke dalam rumah. Pemuda itu tidak menanggapi perkataan Camelia tadi dan mengajak membersihkan badan di kamar mandi serta berganti pakaian. Ketika istrinya sedang menggosok gigi, Danny memeluk Camelia dari belakang. "Lia, aku sedih kalau kamu menyerah cepat sebelum berjuang. Apa pendapat orang lain lebih penting dibanding aku?" ucapnya. Mereka saling bertukar pandang di dalam bayangan cermin. Kemudian Camelia berkumur hingga busa pasta gigi hilang dari mulutnya. "Mas, aku nggak bisa jawab sekarang karena tekanan dari lingkungan pergaulan kita terutama dari sisimu itu sungguh berat. Gimana kalau sementara kita saling mengenal sifat dan kebiasaan satu sama lain terlebih dahulu?" jawab Camelia dengan bijak. Memang di usianya yang masuk kepala tiga dia lebih hati-hati dalam melangkah, tak ingin terburu nafsu sesaat. Danny mengangguk lalu meraup tubuh istrinya ke gendongan sehingga kedua tangan Camelia spontan mengalungi leher pemuda itu. Perlahan dia merebahkan tubuh Camelia ke tengah ranjang lalu bertanya, "Apa boleh minta cium?" Camelia tersenyum sambil mengangguk malu-malu. Dia membiarkan bibirnya sedikit terbuka menerima pagutan Danny yang awalnya lembut sampai mulai berani mengeksplorasi bagian dalam mulut dengan lidahnya. "Ummh ... Mas—" "Ya, Sayang?" balas Danny dari wajah yang berjarak beberapa sentimeter saja. "Kamu nggak marah karena aku nolak terus untuk berhubungan intim?" tanya Camelia tak enak hati. Danny tersenyum seraya menghela napas. "Jujur sih, aku pengin banget tadi malam. Kamu yang menghindar 'kan? Aku nggak mau maksa kalau memang belum siap!" jawabnya. "Makasih, Mas. Kamu pria yang baik. Kita tidur yuk!" sahut Camelia lalu berbaring di tempat tidur berukuran queen size itu. Dia dipeluk erat di bawah selimut oleh Danny. "Apa kamu suka kalau aku peluk begini, Lia?" Danny memandangi wajah Camelia dalam pencahayaan remang-remang kamar tidurnya. "Hmm ... iya. Rasanya hangat dan aman, aku percaya kamu bakal jagain aku sepanjang malam sampai pagi, Mas!" ujar Camelia jujur. "Ya sudah, tidur yuk. Selamat malam, Lia!" ucap Danny lalu mengecup kening wanita kesayangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN