"Ma, aku ajak Lia jalan-jalan sore ya!" seru Danny dari depan pintu kamarnya seusai mandi.
"Kalian makan di luar juga 'kan?" sahut Nyonya Rina yang sedang duduk di depan mesin jahit.
Danny pun menghampiri ibunya seraya menjawab, "Iya, Ma. Nggak usah nunggu kami pulang nanti. Pokoknya Danny mau ajak Lia keliling kota Yogyakarta biar kami lebih akrab!"
"Ide bagus tuh, Dan. Tadi pagi Lia bilang ke Mama kalau dia masih belum mantep menjalani pernikahan ini sama kamu!" dukung Nyonya Rina yang memang merestui pernikahan putra bungsunya dengan Camelia.
"Danny tahu itu kok, Ma. Biarlah cinta itu tumbuh dan bersemi sepanjang usia kami. Tentang cucu, Mama sabar aja, pasti kalau aku sudah berhasil mendapatkan hatinya Lia, gampanglah ... bisa diatur!" ujar Danny dengan penuh tekad.
"Ya sudah, sana berangkat, keburu gelap!" tukas Nyonya Rina, melepas kepergian putranya dengan senyuman.
Pemuda itu pun mengendarai sepeda motor Kawasaki Ninja warna hijau metalik menuju ke rumah kontrakan Camelia. Ternyata istrinya telah berdandan cantik dan sedang duduk menunggunya sambil membaca majalah di teras.
Danny bersiul dari atas jok sepeda motornya lalu berteriak, "Istriku yang cantik, kita kemon let's go yuk!"
Wanita itu terkikik geli melihat suaminya yang tengil. Camelia menggeleng-gelengkan kepala seraya bangkit berdiri. Dia sudah mengunci semua pintu rumah jadi bisa langsung berangkat jalan-jalan bersama Danny.
"Kamu sudah mandi, Mas?" tanya Camelia sembari menerima helm dari tangan Danny.
"Udah dong, wangi dan ganteng begini lho. Kan mau kencan spesial sama istri kesayanganku!" jawab Danny pede abis.
Camelia melompat naik ke boncengan sepeda motor berbodi tinggi itu. Untungnya dia mengenakan kaos dan celana skinny jins. "Aku sudah siap, Mas. Yuk berangkat!" ucapnya lalu menaruh kedua telapak tangannya di perut suaminya yang terasa kotak-kotak otot abdomennya.
Diam-diam Danny tersenyum di balik helm full face yang dikenakannya. Kehangatan tangan istrinya terasa merasuk sampai ke dalam jiwa pemuda itu. Beberapa kali berpacaran semasa SMA dengan gadis-gadis remaja idola satu sekolah pun tak bisa dibandingkan dengan seorang Camelia Wulandari.
"Jadi kita mau ke mana ini, Mas?" tanya Camelia dari sisi kiri kepala Danny.
"Gimana kalau kita keliling kota dari Tugu menuju ke area keraton lalu cari makan malam di Alun-alun Kidul saja?" tawar Danny yang sudah terbiasa keliling Yogyakarta bersama teman-temannya sejak SMP.
Camelia pun setuju, dia ikut saja dengan suaminya yang nampak lebih paham di mana tempat-tempat asyik untuk jalan-jalan. Tanpa dia sadari, perasaan nyaman itu muncul ketika menghabiskan waktu bersama Danny. Pemuda yang belum genap berusia 20 tahun itu memiliki pembawaan ceria dan juga protektif.
Setiap kali mereka melewati tempat yang bagus pemandangannya atau berkesan, Danny selalu mengajak Camelia mengobrol dengan kecepatan sepeda motor diturunkan. Area Keraton Yogyakarta yang sarat akan budaya menjadi destinasi wisata sejarah penuh kharisma. Mereka berpapasan juga dengan abdi dalem (karyawan keluarga Sultan) yang naik sepeda tua atau disebut 'pit jengki'.
"Lia, apa sudah lapar?" celetuk Danny sembari menepuk pelan telapak tangan yang sedari tadi melingkari perut ratanya.
"Ohh ... lumayan sih. Apa Alun-alun Kidul masih jauh, Mas?" jawab Camelia yang sedikit terkejut karena lamunannya mendadak buyar oleh pertanyaan Danny.
Danny mengambil arah membelok ke sebuah terowongan batu putih lalu menjawab, "Kita hampir sampai kok, Lia. Tuh di depan Alun-alun Kidul. Rame kalau malam hari, apalagi pas musim liburan atau akhir pekan. Ini tempat bersantai yang murah meriah di kota Yogya. Makanan khas kaki lima banyak pilihannya kalau di sini. Kamu apa suka tempura, cilok, atau dimsum? Banyak banget yang jualan!"
Camelia melihat-lihat sepanjang tepi Alun-alun Kidul yang dipenuhi berbagai warung kaki lima. "Suka sih. Nanti traktir aku cilok ya, Mas!" candanya diiringi tawa ringan.
"Beres, segerobak sama abang ciloknya juga bakal kuborong buat istriku yang cantik ini!" gombal Danny yang sontak mendapat cubitan kecil di pinggangnya.
Danny mencari tempat parkir sepeda motor yang aman. Dia kenal beberapa tukang parkir di sana dan menitipkan kendaraannya untuk dijaga. Setelah turun dari boncengan, Camelia mencopot helm lalu ditaruh di jok.
Mereka bergandengan tangan seperti sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran. Danny pun bertanya, "Jadi beli cilok seabang penjual dan gerobaknya?"
Camelia terkikik lalu berdecak, "Mas ini, sukanya bercanda terus. Beliin aku lima ribu sudah cukup!"
Segera Danny memesan sesuai permintaan Camelia. Dia membayar dengan uang pas dan menyerahkan sebungkus cilok saus pedas ke tangan istrinya. "Awas masih panas, ditiup dulu, Lia!" ucapnya.
"Perhatian banget!" tukas Camelia seraya melirik mesra pemuda bertubuh jangkung yang merangkul bahunya itu. Dia lalu bertanya, "Memangnya kamu nggak punya pacar yang protes kalau kita nikah kilat kemarin, Mas?"
"Sudah lama jomblo sih. Tenang aja, cewekku cuma kamu kok, Lia. Aku orangnya setia, bukan tukang selingkuh. Apa kamu percaya?" balas Danny berusaha memepet istrinya dengan pantang menyerah.
Camelia mengunyah cilok yang masih hangat itu sambil menjawab, "Kesetiaan itu bukan sekadar kata-kata, tapi harus tahan godaan dan lulus ujian ketika pasangan nggak ada di dekat kamu, Mas!"
"Asreekk! Bisa aja nih, Istriku. Belahlah dadaku, kamu akan melihat ... jantung dan paru-paru!" sahut Danny gombal dengan gayanya yang selengekan.
Namun, justru semua itu membuat Camelia merasa nyaman. Dia suka cara Danny menghibur dan menghujaninya dengan perhatian. Sejenak dia lupa ingin bercerai. Hari semakin malam, mereka pun memilih salah satu warung tenda kaki lima lalu memesan makanan.
"Mie nyemek di sini terkenal sejak aku SMP, Lia. Nanti kamu cobain deh, ueenaknya nampol!" ujar Danny. Dia duduk bersila bersebelahan dengan Camelia menikmati hangatnya wedang jahe sembari menunggu beberapa menu yang disiapkan oleh pemilik warung.
Tak lama kemudian pesanan diantar ke meja mereka. Seporsi roti bakar isi corned, keju parut, dan selada segar menemani dua batang jagung bakar pedas manis, serta terakhir menu berat mie nyemek dan nasi goreng Magelangan.
"Yuk dicicipi dan disapu bersih semua, jangan malu-malu, Lia!" Danny menyuapi sepotong roti bakar unik itu ke mulut istrinya. Tak lama disusul mie nyemek (mie kuah bertekstur lembut yang dimasak lama).
Camelia yang biasa membuat kue-kue dan mahir memasak pun memuji hidangan itu lezat. Suaminya bisa diandalkan mencari menu-menu kuliner yang istimewa meskipun murah meriah khas kaki lima.
"Aku pasti akan sering ngajakin kamu jalan lain kali, Lia. Yogya mah surganya kuliner dan spot-spot menarik. Malam Minggu nanti kuajak ke Bukit Bintang atau Heha Skyview apa kamu mau?" tanya Danny.
"Wow, mau banget, Mas. Aku sudah tiga tahun di Yogya, tapi nggak pernah dolan jauh, cuma di seputaran dalam kota saja!" jawab Camelia. Perlahan-lahan dia mulai memberikan kepercayaan kepada suaminya.