Pagi itu Jakarta seperti sengaja berubah menjadi panggung besar. Hujan tipis semalam menyisakan genangan kecil di trotoar, memantulkan bayangan gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh. Tapi di dalam gedung tempat Alvaro bekerja, suasananya jauh lebih muram dari cuaca. Bisik-bisik karyawan yang biasanya hanya seputar gosip ringan kini penuh dengan nada sensasional. Nama Alvaro menjadi headline di media gosip, lengkap dengan foto-foto yang seakan tak terbantahkan: dirinya bersama Aurora di restoran hotel, dalam posisi yang tampak begitu intim. Aurora masuk ruang kerja dengan langkah tergesa, wajahnya pucat. Ia menutup pintu, lalu berdiri kaku di hadapan Alvaro. “Ini gila,” bisiknya, suaranya gemetar. “Kamu sadar nggak, foto itu bisa merusak semua yang kita bangun? Reputasi aku, kamu, per

