Bab2

1052 Kata
Berbeda dengan Aurora yang kini sedang menanti ibunya sadar dari komanya, dan melewati masa kritisnya. Alvaro dan Erika terlihat baru saja menyelesaikan aktivitas ranjangnya. Keduanya masih sama-sama dalam keadaan polos, tubuh mereka hanya ditutupi dengan selimut. Erika terlihat meletakkan kepalanya di tangan kekar suaminya, dan tangannya melingkar memeluk suaminya. "Jangan nakal ya selama aku tinggal!" Pesannya. "Kamu tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Mana mungkin aku melakukannya. Aku sangat mencintai kamu," jawab Alvaro. Senyuman mengembang di wajah cantik Erika. Ya, Erika memang cantik dan berkelas. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga berada. Sejak lama Alvaro begitu menggilai istrinya. Tapi sayangnya, semua akan berubah. Dia akan memasukkan Aurora dalam hidupnya meskipun statusnya nanti hanya menjadi wanita simpanan. Dia akan membuat skandal bos dengan sekretarisnya. Baginya, itu hal yang wajar. Hal ini sering terjadi. Tak masalah. Istrinya tetap satu, yaitu Erika. Tapi sayangnya, Erika selalu menolak memiliki seorang anak. Dia masih ingin fokus pada kariernya. Tak ingin tubuhnya rusak, karena harus hamil, dan melahirkan buah cinta mereka. "Setelah ini selesai. Aku ingin kamu berhenti dari dunia modelling." Mendengar ucapan itu, Erika langsung bangkit duduk. Seperti biasanya, dia menunjukkan wajah tak suka. "Apa rasa cintamu sudah berkurang padaku? Kamu tahu 'kan, karierku sedang berada di puncak. Selama hampir empat tahun aku berjuang mendapatkan ini. Inilah yang aku takutkan menerima tawaran menikah denganmu. Kamu pasti menghambat karierku," ucap Erika berapi-api, di akhiri raut wajah kesedihan. Jika seperti ini tentu saja Alvaro merasa bersalah. Dia ikut bangkit duduk, dan berusaha menenangkan Erika. Dia peluk tubuh Erika dengan penuh cinta. Cintanya pada Erika memang sangat besar. Entah akan berubah apa tidak, jika Aurora hadir di tengah-tengah pernikahan mereka. "Maafkan aku, Sayang. Aku sudah membuat kamu bersedih, dengan mengatakan hal ini lagi. Aku bingung, mami terus mendesak aku untuk segera memiliki keturunan. Dia sudah ingin menimang cucu dari kita," jelas Alvaro. Di depan Aurora terlihat dingin dan arogan. Namun, di depan Erika. Alvaro sosok laki-laki yang lembut. Tak ingin kehilangan Erika. 'Alasan saja! Aku tahu, mami kamu itu tak pernah menyukai aku. Dia tahu, kalau aku malas memiliki seorang anak. Masih ingin hidup bebas, mengejar karierku. Makanya, dia selalu mendesak kamu,' batin Erika. Dia merasa kesal dengan ibu mertuanya. Sebenarnya, Flo memang tak menyukai Erika. Namun, putranya sangat menggila Erika. Dia tak mungkin melarangnya. "Arianna 'kan sudah memiliki seorang anak. Aku rasa mami kamu bisa bermain dengan anak Arianna. Aku belum siap. Jika kamu tak sabar, kamu bisa memintanya pada wanita lain. Untuk mengandung anak kamu. Tapi, setelah anak itu lahir. Anak itu akan menjadi anak kita. Orang tua kamu tak perlu tahu hal itu." Jantung Alvaro terasa terhenti. Dia tak menyangka kalau Erika akan berpikir sejauh itu. Ternyata, dugaan dia benar. Erika akan menerima, jika Aurora hamil anaknya. Jalannya semakin mulus, untuk menjalin hubungan dengan Aurora. Paling tidak, sampai Aurora hamil anaknya. "Hei, mengapa kamu diam? Apa diam-diam kamu di belakangku sudah melakukan hal itu? Awas saja kamu! Aku harus tahu, dengan siapa kamu melakukannya. Wanita itu hanya perlu mengandung anak kamu, bukan merebut kamu dariku. Kamu hanya menjadi milikku selamanya," kata Erika menyadarkan lamunan Alvaro. Alvaro berusaha menutupinya dari Erika. "Ini gila! Tentu saja tidak. Aku ingin memiliki anak dari rahim kamu. Semoga kamu bisa segera berubah pikiran. Tanpa kamu bekerja, aku pun sudah mencukupinya. Jika kamu membutuhkan uang, kamu hanya perlu meminta padaku." "Bukan seperti itu. Aku harap kamu mengerti. Bukan hanya sekadar uang. Ini sebuah kepuasan. Akhirnya, aku bisa meraihnya. Mungkin nanti, jika aku sudah merasa puas meraih segalanya. Barulah aku sendiri yang memilih mundur." "Baiklah, aku tunggu." *** Kemarin, sebelum hal gila terpikir oleh Alvaro. Maminya sempat menghubungi dirinya, menanyakan perkembangan rumah tangganya dengan Erika. Sejujurnya, maminya tak setuju kalau Erika terus menjadi model. Dia sangat tahu dunia modelling seperti apa, dan tak rela tubuh menantunya di nikmati banyak pasang mata laki-laki. Sempat terjadi perdebatan dengan maminya. Meskipun, Alvaro sebenarnya membenarkan ucapan maminya. Dia pun merasa tak rela. Dia ingin Erika terlihat seksi hanya di hadapannya. Tapi, dia bisa apa? Dia selalu saja kalah, jika berdebat dengan Erika. Seperti saat ini. Cinta membuat dia menjadi bodoh. Sampai akhirnya, dia mendengar percakapan sekretarisnya dengan pihak rumah sakit. Alvaro jadi terpikir hal gila itu. Dia sudah cukup mengenal Aurora. Jika dirinya harus menyewa rahim wanita untuk mengandung anaknya, dia menginginkan wanita yang bersih. Aurora wanita baik-baik, dan dia tahu Aurora tak memiliki kekasih. Dia tak ingin nantinya, spermanya akan bercampur dengan s****a laki-laki lain. Dia terpaksa melakukan hal ini. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sama halnya dengan daddynya dulu. Yang tanpa dia ketahui ceritanya dulu, kalau sang mami adalah wanita yang dibeli oleh daddynya. Namun bedanya, daddynya seorang duda. Akankah dia mengikuti jejak daddynya yang lama-lama akan jatuh cinta pada wanita yang mengandung benihnya? Ataukah justru, Erika lebih cepat sadar, dan mau hamil anaknya. Sebelum Aurora hamil. Alvaro akan membuangnya begitu saja. Aurora tak boleh sakit hati. Harus sadar siapa dirinya. "Jika Erika mencintai kamu, dia pasti juga menginginkan seorang anak di pernikahan kalian." Kata-kata itu sempat terngiang. Mana mungkin Erika tak mencintainya. Dia hanya perlu waktu, untuk siap dirinya hamil. Erika selalu setia padanya. Rumah tangga mereka pun selalu harmonis. Keduanya saling mencintai. Jika pun nanti Aurora hamil anaknya. Dia hanya menginginkan anak itu, dan anak itu akan menjadi anak dia dengan Erika. "Mami rasa, ini alasan Erika saja. Kamu perlu mencari tahu." Bukan hanya maminya saja yang mengatakan itu padanya. Daddynya sempat mengatakan itu padanya. William sempat menceritakan pada Alvaro, masa lalunya sebelum dia mengenal Flo. Mantan istrinya dulu berselingkuh, dan dia juga seorang model. "Kisahku tak mungkin sama. Tak semua model memiliki sisi buruk. Erika tak mungkin selingkuh. Hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja dia belum merasa siap hamil dan memiliki seorang anak." Alvaro selalu berpegang teguh dalam hal itu. Sehingga, dia sangat mempercayai Erika. Dia bukan daddynya. Mungkin saja, jalan hidup daddynya memang seperti itu. Meskipun sama-sama memiliki istri seorang model. Alvaro dan Erika sudah dalam perjalanan menuju Bandara. Mereka terlihat mesra selama dalam perjalanan. Sampai akhirnya mobil yang membawa mereka sampai di Bandara. Deg! Jantung Alvaro seakan terhenti. Penglihatan dia tak mungkin salah. Dia sangat mengenal laki-laki itu. Mengapa laki-laki itu ada di sana juga? Argh, seharusnya dia tak harus berpikir seperti itu. Dia berada di Bandara. Bandara adalah tempat umum. Wajar saja Xavier berada di sana. Apa semuanya kebetulan? Alvaro terdiam sejenak. Hal itu membuat Erika merasa cemas. Apa suaminya mencurigainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN