Angin malam di balkon lantai lima Rumah Sakit Elisabeth berembus kencang, membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya tuntas. Keenan menyandarkan kedua lengannya pada pagar besi yang dingin, menatap kelap-kelip lampu kota Semarang yang tampak seperti hamparan luka yang berpendar. Di sampingnya, Arga tetap diam, membiarkan sahabatnya itu bergulat dengan napasnya yang berat.
"Aku sama sekali tidak pernah berniat menghancurkan hidupnya, Ga," suara Keenan pecah, nyaris tertelan suara bising dari jalan raya di bawah sana. "Saat itu sebagai seorang jurnalis, aku hanya melihat angka. Tujuh triliun rupiah. Itu angka yang luar biasa besar untuk dikorupsi saat rakyat sedang kesulitan."
Arga menghela napas, mengeluarkan sebatang rokok namun urung menyalakannya karena ingat mereka masih di area rumah sakit. "Kau melakukan tugasmu, Ken. Kau jurnalis hukum terbaik yang pernah kukenal. Vonis 17 tahun untuk menteri itu adalah kemenangan bagi negeri ini."
"Tapi itu kekalahan bagi Windi," sahut Keenan cepat, matanya memerah. "Aku terlalu fokus pada aliran dana, pada bukti-bukti transfer, hingga aku tak menyadari bahwa berkas yang kupublikasikan juga menyeret nama seorang dosen Fakultas Hukum di sebuah PTS ternama—ibunya Windi. Aku tidak pernah mencari tahu tentang anak hasil hubungan siri itu. Aku hanya ingin membongkar kemunafikan sang menteri."
Keenan memejamkan mata, dan bayangan masa lalunya sendiri bangkit seperti hantu yang menolak pergi. Jauh sebelum ia menjadi jurnalis yang disegani, Keenan adalah seorang anak yatim piatu yang tumbuh dalam amarah. Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan di kantor dinas yang jujur, yang mencoba melaporkan pungli namun justru dikambinghitamkan dan berakhir di penjara hingga meninggal karena depresi. Ibu kandungnya meninggalkan Keenan dan hanya membawa saudara-saudara Keenan lainnya. Sejak saat itu, Keenan bersumpah akan menggunakan penanya untuk meruntuhkan setiap tembok kebohongan pejabat publik. Motivasi itulah yang membuatnya begitu membabi buta saat mengejar kasus sang menteri tujuh tahun silam.
"Saat itu, aku pikir aku sedang melakukan kebenaran murni," lanjut Keenan dengan nada getir. "Aku tidak menyangka netizen akan sekejam itu. Mereka melabeli ibu Windi sebagai pelakor, menyerang akun kampusnya, hingga perempuan itu tidak kuat menanggung beban malu dan memilih mengakhiri hidupnya di kamar mandi. Benar-benar tak kusadari......aku secara tidak langsung, akulah yang memicu tali itu terikat di lehernya."
Arga menepuk bahu Keenan dengan keras. "Kau tidak bisa memikul dosa dunia di pundakmu sendiri, Ken. Windi ditemukan di jalanan bukan karena kau, tapi karena sistem yang busuk. Kau yang menyelamatkannya."
"Tapi sampai saat ini dia tidak tahu bahwa orang yang menikahinya adalah orang yang meruntuhkan dunianya," Keenan menoleh pada Arga dengan tatapan penuh keputusasaan. "Dan ketika tadi dokter bilang, dia terancam buta jika sekali lagi terkena hantaman di pelipis itu, rasanya hidupku langsung lumpuh sebagian. Aku tahu betnar Ga, luka di pelipisnya itu... itu dimulai saat dia dikeroyok preman malam itu, sesaat setelah ibunya meninggal. Dan semua itu sedikit banyak bermula dari tulisanku."
Setelah percakapan yang menguras emosi itu, Arga pamit pulang karena Kurniawati sudah mulai rewel karena mengantuk. Keenan mengantar mereka hingga depan lift, mencoba memaksakan senyum di depan putri sahabatnya itu.
Saat Keenan kembali masuk ke kamar VIP, suasana sudah sunyi. Televisi telah dimatikan. Hanya ada suara detak jam dinding dan dengung halus dari mesin pendingin ruangan. Di atas ranjang, Windi terlelap dengan posisi miring, memeluk Cinansa yang juga telah tertidur pulas di sampingnya. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari wajah mereka berdua. Pemandangan itu begitu indah sekaligus menyakitkan bagi Keenan. Windi, dengan perban di pelipis kanan dan lebam biru yang kontras dengan kulit pucatnya, tampak begitu rapuh.
Keenan berjalan mendekat tanpa suara. Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang, tempat yang sama di mana ia sempat tertidur sebelumnya. Matanya beralih pada tangan Windi yang memeluk erat tubuh kecil Cinansa. Di jari manis itu, melingkar cincin pernikahan mereka—sebuah simbol kepercayaan yang dibangun di atas fondasi yang retak.
Ia teringat betapa Windi begitu bangga padanya sebagai jurnalis yang jujur. Windi sering berkata bahwa ia mencintai Keenan karena keberaniannya membela yang lemah. Ironi itu terasa seperti sembilu yang mengiris d**a Keenan. Bagaimana mungkin ia memberitahu istrinya bahwa 'keberanian' yang sama itulah yang membunuh ibunya dan merenggut masa remajanya?
Keenan meraih ponselnya, membuka folder tersembunyi yang berisi arsip digital kasus tujuh tahun lalu. Ia melihat foto ibu Windi—sang dosen yang cantik dan penuh empati—yang fotonya sempat muncul di koran nasional KOMPLIT dengan headline yang brutal. Ia memandangi wajah itu, lalu memandangi wajah Windi yang sedang tidur. Kemiripan mereka begitu nyata, sebuah warisan luka yang kini ia jaga dengan sepenuh hati.
"Aku akan menjagamu, Win," bisik Keenan lirih, air matanya jatuh tanpa suara ke atas sprei rumah sakit. "Meskipun aku harus mengubur kebenaran ini selamanya, atau meskipun suatu saat kau akan membenciku setengah mati saat tahu siapa aku sebenarnya."
Keenan tahu, istirahat total bagi Windi bukan sekadar saran medis, melainkan perintah mutlak baginya untuk bisa menghentikan Windi dari dunia kekerasan yang ia ciptakan sendiri sebagai saluran dendam. Ia bertekad, setelah keluar dari rumah sakit ini, tidak akan ada lagi oktagon, tidak akan ada lagi darah. Ia akan memberikan dunia yang aman bagi Windi dan Cinansa, sebuah kompensasi atas dosa masa lalu yang tak mungkin ia tebus sepenuhnya.
Keenan beranjak dari kursinya, melangkah pelan menuju jendela besar yang menghadap ke cakrawala kota Semarang. Di balik pantulan kaca, ia melihat wajahnya sendiri—wajah yang dulu penuh dengan idealisme membara, yang merasa bahwa pena adalah senjata paling suci untuk menebas ketidakadilan. Namun sekarang, wajah itu tampak seperti wajah seorang pengkhianat di matanya sendiri.
Ia merogoh saku jaketnya, menyentuh sebuah flashdisk kecil yang selalu ia bawa ke mana pun. Di dalamnya tersimpan "Berkas Tua" yang ia sebut dalam hati sebagai kotak pandora. Berkas itu berisi data mentah investigasi tujuh tahun lalu, foto-foto rumah tersembunyi sang Menteri, laporan intelijen tentang kehidupan ganda pejabat tersebut, dan yang paling menyakitkan foto-foto candid seorang dosen muda yang tersenyum cerah sambil menggandeng bocah perempuan kecil di taman kampus. Bocah itu adalah Windi, dan Keenan-lah yang memerintahkan fotografernya untuk mengambil gambar itu sebagai "bukti hubungan gelap" demi memperkuat narasinya di media.
"Aku melihatmu sebagai objek berita saat itu, Win," gumamnya nyaris tak terdengar. "Hanya sebuah pelengkap cerita untuk meruntuhkan kekuasaan seorang koruptor."
Pikiran Keenan terbang kembali ke malam kematian ibu Windi. Berita bunuh diri itu sempat mampir di mejanya sebelum naik cetak. Saat itu, sisi jurnalisnya yang dingin hanya berpikir: 'Ini akan menjadi drama yang menaikkan oplah.' Ia tidak pernah membayangkan bahwa tujuh tahun kemudian, ia akan berlutut di samping tempat tidur putri dari wanita yang ia hancurkan, memohon ampun pada semesta karena telah jatuh cinta pada korbannya sendiri.
Keenan memandang Windi yang masih terlelap. Pernikahan mereka selama lima tahun ini terasa seperti istana pasir yang indah, namun dibangun di atas jurang rahasia yang menganga. Ia tahu, setiap kali ia mengecup kening Windi, ia juga sedang mengecup luka yang ia ciptakan sendiri. Rasa bersalah itu kini bermetamorfosis menjadi ketakutan yang melumpuhkan; ketakutan bahwa suatu hari nanti, Windi akan menemukan berkas tua itu dan menyadari bahwa pahlawan yang menyelamatkannya dari jalanan adalah monster yang pertama kali mengusirnya ke sana.
"Tidurlah, Cintaku," bisik Keenan sambil kembali duduk di sisi ranjang, menggenggam jemari Windi yang kasar karena latihan bela diri namun terasa sangat rapuh di matanya. "Biar aku yang menanggung gelapnya malam ini. Biar aku yang menjadi tamengmu, meski aku tahu, aku adalah orang terakhir yang pantas melakukannya."
Malam semakin larut, dan di tengah keheningan rumah sakit, Keenan menyadari bahwa ia tidak hanya sedang melindungi Windi dari kebutaan fisik, tetapi ia sedang mati-matian melindungi dirinya sendiri dari kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Namun, ia lupa bahwa kebenaran, seperti halnya luka yang tak diobati, akan selalu menemukan cara untuk bernanah dan pecah pada waktunya. Dan ketika saat itu tiba, tidak akan ada ring besi atau sarung tinju yang bisa melindungi mereka dari kehancuran yang mutlak.
Malam itu, di bawah penjagaan Keenan yang tak kunjung terlelap, Windi dan Cinansa tidur dalam perlindungan cinta yang penuh rahasia. Sementara di luar sana, badai kebenaran hanya tinggal menunggu waktu untuk menggulung mereka kembali ke dalam pusaran dendam yang belum tuntas.